Kekeringan menjadi salah satu bencana yang dapat mengganggu ketersediaan air, pertanian, hingga aktivitas masyarakat. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh panjang musim kemarau, tetapi juga karakteristik wilayah dan ketersediaan sumber air.
Beberapa daerah memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Lantas, wilayah mana saja yang memiliki risiko kekeringan tertinggi di Indonesia pada 2025?
Sebaran Risiko Bencana Kekeringan di Indonesia 2025
Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2025 mengelompokkan risiko kekeringan di setiap kabupaten/kota ke dalam tiga kelas, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Pengelompokan tersebut didasarkan pada indeks risiko yang mempertimbangkan tingkat bahaya, kerentanan, dan kapasitas wilayah.
Berikut sebaran kabupaten/kota di Indonesia berdasarkan kelas risiko bencana kekeringan pada 2025:
Baca Juga: BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal
Sebanyak 375 kabupaten/kota atau 73,0% berada dalam kelas risiko kekeringan tinggi. Beberapa di antaranya adalah Kota Batam di Kepulauan Riau, Kota Kupang di Nusa Tenggara Timur, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Gayo Lues, hingga Langkat.
Sementara itu, 107 kabupaten/kota masuk dalam kelas risiko sedang, sedangkan 32 lainnya berada pada kelas risiko rendah. Contoh wilayah dengan risiko sedang antara lain Rembang, Kota Banjarmasin, Kota Surakarta, Kudus, dan Kota Surabaya.
Adapun wilayah dengan risiko rendah di antaranya Kota Sibolga, Kota Tanjung Balai, Kota Padangsidimpuan, Kota Tebing Tinggi, dan Kota Gunungsitoli.
Kota Batam dan Kupang Jadi Wilayah dengan Risiko Kekeringan Tertinggi
Kota Batam dan Kota Kupang menempati dua posisi teratas dalam daftar risiko bencana kekeringan IRBI 2025. Kota Batam mencatat skor 30,55, sementara Kota Kupang sebesar 28,30, dan keduanya masuk kelas risiko tinggi.
Tingginya risiko pada kedua kota tersebut berkaitan dengan kombinasi karakteristik geografis yang unik, keterbatasan sumber air alami, dan faktor cuaca ekstrem yang dipantau oleh BMKG.
Meskipun letak geografis dan iklim kedua kota ini sangat berbeda, keduanya sama-sama menghadapi kerentanan hidrologis yang besar.
Penyebab Kekeringan di Kota Kupang
Kupang secara konsisten berada dalam zona kekeringan tertinggi di Indonesia terutama karena faktor iklim alami:
1. Iklim Monsun Timur yang Ekstrem
Kupang dipengaruhi oleh Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan panas. Hal ini membuat Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki periode musim kemarau yang sangat panjang (bisa mencapai 8–9 bulan) dan musim hujan yang sangat singkat.
2. Hari Tanpa Hujan (HTH) yang Panjang
Berdasarkan monitoring BMKG, wilayah Kupang dan sekitarnya sering mengalami HTH kategori ekstrem (lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan), sehingga cadangan air tanah menyusut drastis.
Baca Juga: 5 Daerah dengan Sawah Puso Terluas pada 2026, Provinsi Mana Saja?
Penyebab Kekeringan di Kota Batam
Berbeda dengan Kupang yang kering secara alami, Batam sebenarnya memiliki pola hujan ekuatorial (bisa hujan sepanjang tahun). Namun, indeks kekeringan dan krisis air di Batam dipicu oleh faktor infrastruktur dan atmosfer spesifik:
1. Tidak Memiliki Sumber Air Alami
Pulau Batam tidak memiliki gunung, sungai besar, maupun sumber air tanah alami yang memadai. Hampir 100% pasokan air bersih Batam bergantung pada waduk tadah hujan buatan, seperti Waduk Duriangkang dan Waduk Nongsa. Jika curah hujan turun sedikit saja, level muka air waduk langsung merosot tajam.
2. Faktor Atmosfer Penghambat Hujan
Analisis dari BMKG Hang Nadim Batam menunjukkan bahwa pada periode tertentu, wilayah Kepri mengalami kelembaban udara lapisan atas yang sangat rendah disertai angin kencang. Kondisi atmosfer ini menyapu uap air dan menghambat pembentukan awan hujan.
Faktor Pemicu Bersama (Agregat)
Kedua kota ini juga mengalami lonjakan indeks kekeringan akibat dua faktor global dan lokal:
1. Dampak Fenomena Iklim Global (El Niño & IOD Positif)
Saat fenomena El Niño atau Indian Ocean Dipole (IOD) Positif aktif, curah hujan di wilayah Indonesia berkurang secara drastis. Batam dan Kupang menjadi wilayah yang sangat sensitif menerima dampak pemanasan suhu permukaan laut ini. [1, 2, 3]
2. Alih Fungsi Lahan & Lonjakan Penduduk
Pertumbuhan industri yang masif di Batam serta pemukiman di Kupang menyebabkan menyusutnya Daerah Tangkapan Air (DTA). Akibatnya, air hujan tidak dapat meresap secara optimal ke dalam tanah dan langsung terbuang ke laut.
Baca Juga: Daftar Wilayah dengan Hari Tanpa Hujan Terpanjang di Indonesia: Jawa Tengah Peringkat Pertama
Sumber:
https://inarisk.bnpb.go.id/IRBI-2025/files/basic-html/page326.html