Sosial

Sebaran Risiko Bencana Kekeringan di Indonesia 2025, Batam dan Kupang Tertinggi

Risiko bencana kekeringan di Indonesia 2025 berbeda antarwilayah, dengan Kota Batam dan Kota Kupang tercatat memiliki risiko tertinggi.

Sebaran Risiko Bencana Kekeringan di Indonesia 2025, Batam dan Kupang Tertinggi

Ilustrasi Kekeringan | Carlett Badenhorst/Unsplash

Kekeringan menjadi salah satu bencana yang dapat mengganggu ketersediaan air, pertanian, hingga aktivitas masyarakat. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh panjang musim kemarau, tetapi juga karakteristik wilayah dan ketersediaan sumber air.

Beberapa daerah memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Lantas, wilayah mana saja yang memiliki risiko kekeringan tertinggi di Indonesia pada 2025? 

Sebaran Risiko Bencana Kekeringan di Indonesia 2025

Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2025 mengelompokkan risiko kekeringan di setiap kabupaten/kota ke dalam tiga kelas, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Pengelompokan tersebut didasarkan pada indeks risiko yang mempertimbangkan tingkat bahaya, kerentanan, dan kapasitas wilayah.

Berikut sebaran kabupaten/kota di Indonesia berdasarkan kelas risiko bencana kekeringan pada 2025:

Risiko bencana kekeringan di Indonesia 2025 berbeda antarwilayah, dengan Kota Batam dan Kota Kupang tercatat memiliki risiko tertinggi.
Sebaran Risiko Bencana Kekeringan di Indonesia 2025 | GoodStats

Baca Juga: BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal

Sebanyak 375 kabupaten/kota atau 73,0% berada dalam kelas risiko kekeringan tinggi. Beberapa di antaranya adalah Kota Batam di Kepulauan Riau, Kota Kupang di Nusa Tenggara Timur, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Gayo Lues, hingga Langkat. 

Sementara itu, 107 kabupaten/kota masuk dalam kelas risiko sedang, sedangkan 32 lainnya berada pada kelas risiko rendah. Contoh wilayah dengan risiko sedang antara lain Rembang, Kota Banjarmasin, Kota Surakarta, Kudus, dan Kota Surabaya. 

Adapun wilayah dengan risiko rendah di antaranya Kota Sibolga, Kota Tanjung Balai, Kota Padangsidimpuan, Kota Tebing Tinggi, dan Kota Gunungsitoli.

Kota Batam dan Kupang Jadi Wilayah dengan Risiko Kekeringan Tertinggi

Kota Batam dan Kota Kupang menempati dua posisi teratas dalam daftar risiko bencana kekeringan IRBI 2025. Kota Batam mencatat skor 30,55, sementara Kota Kupang sebesar 28,30, dan keduanya masuk kelas risiko tinggi.

Tingginya risiko pada kedua kota tersebut berkaitan dengan kombinasi karakteristik geografis yang unik, keterbatasan sumber air alami, dan faktor cuaca ekstrem yang dipantau oleh BMKG.

Meskipun letak geografis dan iklim kedua kota ini sangat berbeda, keduanya sama-sama menghadapi kerentanan hidrologis yang besar.

Penyebab Kekeringan di Kota Kupang 

Kupang secara konsisten berada dalam zona kekeringan tertinggi di Indonesia terutama karena faktor iklim alami: 

1. Iklim Monsun Timur yang Ekstrem

Kupang dipengaruhi oleh Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan panas. Hal ini membuat Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki periode musim kemarau yang sangat panjang (bisa mencapai 8–9 bulan) dan musim hujan yang sangat singkat. 

2. Hari Tanpa Hujan (HTH) yang Panjang

Berdasarkan monitoring BMKG, wilayah Kupang dan sekitarnya sering mengalami HTH kategori ekstrem (lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan), sehingga cadangan air tanah menyusut drastis. 

Baca Juga: 5 Daerah dengan Sawah Puso Terluas pada 2026, Provinsi Mana Saja?

Penyebab Kekeringan di Kota Batam

Berbeda dengan Kupang yang kering secara alami, Batam sebenarnya memiliki pola hujan ekuatorial (bisa hujan sepanjang tahun). Namun, indeks kekeringan dan krisis air di Batam dipicu oleh faktor infrastruktur dan atmosfer spesifik: 

1. Tidak Memiliki Sumber Air Alami

Pulau Batam tidak memiliki gunung, sungai besar, maupun sumber air tanah alami yang memadai. Hampir 100% pasokan air bersih Batam bergantung pada waduk tadah hujan buatan, seperti Waduk Duriangkang dan Waduk Nongsa. Jika curah hujan turun sedikit saja, level muka air waduk langsung merosot tajam.

2. Faktor Atmosfer Penghambat Hujan

Analisis dari BMKG Hang Nadim Batam menunjukkan bahwa pada periode tertentu, wilayah Kepri mengalami kelembaban udara lapisan atas yang sangat rendah disertai angin kencang. Kondisi atmosfer ini menyapu uap air dan menghambat pembentukan awan hujan.

Faktor Pemicu Bersama (Agregat)

Kedua kota ini juga mengalami lonjakan indeks kekeringan akibat dua faktor global dan lokal:

1. Dampak Fenomena Iklim Global (El Niño & IOD Positif)

Saat fenomena El Niño atau Indian Ocean Dipole (IOD) Positif aktif, curah hujan di wilayah Indonesia berkurang secara drastis. Batam dan Kupang menjadi wilayah yang sangat sensitif menerima dampak pemanasan suhu permukaan laut ini. [1, 2, 3]

2. Alih Fungsi Lahan & Lonjakan Penduduk

Pertumbuhan industri yang masif di Batam serta pemukiman di Kupang menyebabkan menyusutnya Daerah Tangkapan Air (DTA). Akibatnya, air hujan tidak dapat meresap secara optimal ke dalam tanah dan langsung terbuang ke laut.

Baca Juga: Daftar Wilayah dengan Hari Tanpa Hujan Terpanjang di Indonesia: Jawa Tengah Peringkat Pertama

Sumber:

https://inarisk.bnpb.go.id/IRBI-2025/files/basic-html/page326.html

Key Insights

  • 375 kabupaten/kota masuk risiko kekeringan tinggi.
  • Sebanyak 107 kabupaten/kota berada pada risiko sedang dan 32 wilayah berisiko rendah.
  • Kota Batam mencatat indeks risiko kekeringan tertinggi, yaitu 30,55.
  • Kota Kupang berada di posisi kedua dengan indeks 28,30.
  • Kekeringan di Batam dan Kupang dipengaruhi karakteristik iklim, geografis, serta ketersediaan sumber air yang berbeda.

Penulis: Insi Faiqoh Editor: Muhammad Sholeh

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?