Indonesia memiliki kawasan lahan gambut yang luas dan tersebar di sejumlah wilayah. Ekosistem ini tidak hanya menjadi habitat berbagai flora dan fauna, tetapi juga berperan dalam menyimpan karbon dan menjaga tata air.
Namun, lahan gambut cukup rentan mengalami kerusakan akibat pengeringan, kebakaran, dan perubahan fungsi lahan.
Lantas, berapa luas lahan gambut di Indonesia dan bagaimana persebarannya? Berikut data dan sejumlah fakta penting mengenai lahan gambut di Indonesia.
Apa Itu Lahan Gambut?
Lahan gambut merupakan ekosistem lahan basah yang terbentuk dari penumpukan sisa tumbuhan yang membusuk secara tidak sempurna dalam kondisi jenuh air.
Proses tersebut berlangsung dalam waktu lama hingga membentuk lapisan tanah organik dengan ketebalan yang beragam.
Indonesia memiliki kawasan gambut yang tersebar terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Kondisi gambut di setiap wilayah berbeda, baik dari sisi ketebalan, fungsi ekosistem, maupun tingkat pemanfaatannya.
Baca Juga: Daftar Provinsi Paling Rentan Banjir Akibat Degradasi Gambut
Mengapa Lahan Gambut Penting bagi Indonesia?
1. Menyimpan Karbon
Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar di lapisan tanah organiknya. Ketika gambut dikeringkan atau rusak, karbon yang tersimpan dapat terlepas ke atmosfer.
2. Menjaga Tata Air
Kondisi gambut yang secara alami jenuh air membuat ekosistem ini berperan dalam menyimpan dan mengatur air. Perubahan tata air, terutama akibat pengeringan, dapat meningkatkan kerentanan gambut terhadap kebakaran.
3. Menjadi Habitat Keanekaragaman Hayati
Hutan dan lahan gambut menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Kerusakan ekosistem ini dapat mengancam keberadaan spesies yang bergantung pada kawasan gambut, termasuk sejumlah satwa yang terancam punah.
Berapa Luas Lahan Gambut di Indonesia?
Luas lahan gambut di Indonesia tercatat berbeda dalam data antar kementerian. Dikutip dari Pantau Gambut, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat luas gambut mencapai 13,4 juta hektare, sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat luas yang lebih besar, yakni 24,2 juta hektare.
Dari luasan tersebut, kawasan gambut di Indonesia tersebar terutama di tiga pulau utama, yakni Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
Berdasarkan data dengan luasan 13,4 juta hektare, Sumatra memiliki kawasan gambut terluas, yakni sekitar 5,8 juta hektare. Selanjutnya, Kalimantan memiliki sekitar 4,5 juta hektare, sedangkan Papua sekitar 3 juta hektare.
Persebaran Lahan Gambut di Indonesia
Berikut persebaran luas lahan gambut berdasarkan provinsi berdasarkan data Pantau Gambut:
Baca Juga: Luas Hutan Indonesia Tembus 95 Juta Ha, Terbesar di ASEAN 2025
Di Pulau Sumatra, persebaran gambut umumnya berada di dataran rendah di sepanjang pantai timur, termasuk Riau hingga Lampung.
Sementara itu, gambut di Kalimantan banyak ditemukan di kawasan dataran rendah, termasuk Kalimantan Tengah, serta beberapa wilayah lain seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
Di Papua, kawasan gambut banyak ditemukan di dataran rawa pantai bagian selatan dan sejumlah wilayah pedalaman. Sebagian kawasan gambut Papua juga masih relatif alami dan belum banyak mengalami gangguan manusia.
Riau Jadi Provinsi dengan Lahan Gambut Terluas
Dari data tersebut, Riau menjadi provinsi dengan luas lahan gambut terbesar di Indonesia, yakni mencapai 3,57 juta hektare.
Luas gambut Riau bahkan lebih dari dua kali lipat luas gambut di Kalimantan Barat yang berada di posisi keempat. Riau juga menyumbang sekitar seperempat dari total luas gambut Indonesia berdasarkan angka provinsi dalam data Pantau Gambut.
Di posisi berikutnya terdapat Kalimantan Tengah dengan luas 2,55 juta hektare dan Papua dengan 2,22 juta hektare.
Sebaliknya, Kalimantan Selatan memiliki luas gambut paling kecil, yakni sekitar 46,29 ribu hektare. Dengan demikian, luas gambut di Riau sekitar 77 kali lipat dibandingkan Kalimantan Selatan.
Luas Gambut Indonesia Dibandingkan Negara Lain
Indonesia termasuk salah satu wilayah dengan kawasan gambut terbesar di dunia. Berdasarkan data Wetlands International (2008), luas lahan gambut global mencapai 381,4 juta hektare.
Kawasan tersebut tersebar di Eropa dan Rusia (44,08%), Amerika (40,50%), Indonesia (6,95%), Afrika (3,41%), Asia lainnya (2,74%), Australia dan Pasifik (1,91%), serta Antartika (0,41%).
Sementara itu, jika dilihat berdasarkan negaranya, Indonesia berada di posisi keempat dengan lahan gambut terluas di dunia, setelah Rusia, Kanada, dan Amerika Serikat.
Bagaimana Cara Merestorasi Lahan Gambut yang Rusak?
Kerusakan lahan gambut dapat terjadi akibat pembukaan hutan, drainase, kebakaran, maupun perubahan penggunaan lahan. Ketika gambut kehilangan kondisi alaminya yang basah, fungsi penyimpanan karbon dan perlindungan habitat juga dapat terganggu.
Restorasi lahan gambut bertujuan mengembalikan fungsi ekosistem yang rusak sekaligus mengurangi risiko kebakaran. Upaya ini umumnya dilakukan melalui tiga pendekatan berikut:
1. Membasahi Kembali Lahan Gambut
Pengaturan tata air menjadi langkah utama dalam restorasi gambut. Lahan yang terlalu kering dapat dibasahi kembali dengan mengatur kanal atau membangun sekat untuk mempertahankan air di dalam kawasan gambut.
2. Memulihkan Vegetasi
Kawasan gambut yang rusak dapat dipulihkan dengan menanam kembali vegetasi yang sesuai dengan kondisi ekosistem setempat. Pemulihan tutupan vegetasi membantu mengembalikan fungsi ekologis lahan gambut.
3. Memanfaatkan Lahan secara Berkelanjutan
Masyarakat di sekitar kawasan gambut tetap dapat memanfaatkan lahan dengan menerapkan cara yang tidak merusak ekosistem. Contohnya adalah pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakter lahan basah, seperti sagu, sehingga tidak membutuhkan pengeringan gambut secara berlebihan.
Baca Juga: Bukan Sekadar El Niño: Mengapa Kalimantan Terus Terbakar?
Sumber:
https://pantaugambut.id/peta-gambut/gambaran-umum#luas-kedalaman-dan-fungsi-ekosistem-gambut