Nasional

5 Daerah dengan Sawah Puso Terluas pada 2026, Provinsi Mana Saja?

Banyak wilayah Indonesia yang mengalami puso, ada yang hingga belasan ribu hektare.

5 Daerah dengan Sawah Puso Terluas pada 2026, Provinsi Mana Saja?

Ilustasi Sawah/Pexels

Musim kemarau panjang mengakibatkan sejumlah wilayah mengalami kekeringan. Kekeringan lahan dan sawah menurunkan hasil produksi sehingga terjadi puso. 

Puso adalah kondisi ketika sawah tidak mengeluarkan hasil dan para petani tidak dapat menikmati panennya. Puso biasanya terjadi karena kerusakan yang disebabkan oleh organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan dampak perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, dan bencana iklim lainnya.

Baca Juga: Waspada! El Nino Bikin Kemarau 2026 Lebih Panjang, Ini Wilayah yang Terdampak

Provinsi Yang Mengalami Puso di Indonesia

Berikut 5 provinsi di Indonesia dengan puso terluas.

Jawa Tengah jadi provinsi dengan wilayah puso terluas 2026.
Jawa Tengah jadi provinsi dengan wilayah puso terluas 2026.

Jawa Tengah menjadi peringkat pertama dengan luas puso 15.860 hektare. Di urutan kedua ada Aceh dengan luas puso 10.031 hektare.

Berbeda jauh, Banten berada di urutan keempat dengan luas puso 485,75 hektare. Jawa Timur berada di urutan keempat dengan puso seluas 353,2 hektare. Sementara itu, Sulawesi Tenggara menutup top 10 dengan luas puso 167 hektare.

Baca Juga: 407 Kasus Kekeringan Tercatat Selama 5 Tahun Terakhir, Jawa Barat Paling Banyak

Cara Memitigasi Puso

Perubahan iklim memang tidak dapat dicegah, namun terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya puso.

  • Pengelolaan dan Ketersediaan Air yang Memadai
    Melakukan irigasi, pompanisasi, perpipaan, embung, dam parit, serta sumber alternatif lain merupakan langkah yang disarankan untuk menghadapi kekeringan. Bisa juga dilakukan teknik Alternate Wetting and Drying atau pengairan berselang untuk mengatur pemberian air supaya lebih terukur dan hemat tanpa menurunkan produktivitas.
  • Atur Waktu dan Pola Tanam
    Untuk mengantisipasi musim kemarau, dapat dilakukan percepatan tanam. Pola tanam perlu disesuaikan dengan ketersediaan air dan risiko iklim di wilayah tersebut. 
  • Pemilihan Varietas Sesuai Risiko Wilayah
    Penggunaan varietas disesuaikan dengan karakter wilayah apakah rawan kekeringan atau rawan banjir. 
  • Bangun Sistem Peringatan Dini
    Lakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan penguatan sistem peringatan diri sehingga tindakan antisipasi dapat dilakukan sebelum kekeringan berdampak serius terhadap tanaman.
  • Kendalikan Hama dan Penyakit
    Banjir maupun kekeringan dapat meningkatkan risiko gangguan OPT. Gunakan varietas yang tahan OPT dan lakukan pengendalian hama serta penyakit.

Baca Juga: Pemerintah Targetkan Rehabilitasi 15 Ribu Ha Hutan dalam RAPBN 2027

Sumber: Hasil Riset GoodStats

Key Insights

  • Jawa Tengah dan Aceh menghadapi ancaman ketahanan pangan yang signifikan karena menjadi dua provinsi dengan wilayah puso terluas, secara gabungan menyumbang lebih dari 25.000 hektare.
  • Perbedaan drastis luas puso antara provinsi seperti Jawa Tengah (15.860 hektare) dan Sulawesi Tenggara (167 hektare) menunjukkan variasi kerentanan iklim antar wilayah di Indonesia.
  • Meskipun artikel menyoroti kekeringan sebagai pemicu utama puso, penting untuk diingat bahwa organisme pengganggu tumbuhan (OPT) juga merupakan faktor signifikan yang perlu dimitigasi.
  • Fokus pada pengelolaan air, pengaturan pola tanam, dan pemilihan varietas yang tepat menunjukkan pendekatan mitigasi puso yang bersifat adaptif terhadap kondisi iklim lokal.

Penulis: Linda Lestari Editor: Muhammad Sholeh

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?