Sektor non migas masih menjadi penyumbang terbesar nilai ekspor Indonesia. Berikut proporsi komoditas ekspor migas dan non migas Indonesia.
Proporsi Komoditas Ekspor Migas dan Non Migas Indonesia
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan per Juli 2026, komoditas non migas mendominasi 97 persen atau senilai US$25.429,113 juta.
Nilai ini juga menjadi nilai ekspor tertinggi selama 2026. Sementara itu, sektor migas menyumbang 3 persen komoditas ekspor Indonesia atau senilai US$787,58 juta.
Komoditas Ekspor Non Migas Terbesar
Sepanjang Januari hingga Juli 2026, lemak dan minyak hewani, nabati atau mikroba serta produk disosiasinya menjadi komoditas ekspor non migas unggulan dengan total nilai mencapai US$21.169,6 juta.
Kemudian, disusul oleh komoditas bahan bakar mineral, minyak mineral dan produk sulingnya pada urutan kedua dengan nilai US$19.689,6 juta. Posisi ketiga ditempati oleh komoditas besi dan baja dengan dengan total nilai US$16.541,8 juta.
Peringkat keempat adalah komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya senilai US$11.366,5 juta.
Komoditas kendaraan selain yang bergerak di atas rel kereta api atau trem, dan bagian serta aksesorinya berada pada peringkat lima dengan nilai US$7.421,9 juta.
Nickel dan barang daripadanya menjadi komoditas ekspor terbesar nomor enam dengan nilai US$7.236,6 juta. Peringkat ketujuh diisi oleh komoditas aneka produk kimia dengan nilai US$6.054,4 juta.
Posisi kedelapan ditempati oleh komoditas reaktor nuklir, ketel, mesin dan peralatan mekanis dengan nilai US$5.009,5 juta.
Alas kaki, pelindung kaki dan sejenisnya menempati urutan kesembilan dengan nilai US$4.674 juta.
Komoditas mutiara alam atau mutiara budidaya, batu mulia atau batu semi mulia, logam mulia, logam yang dipalut dengan logam mulia, dan barang daripadanya menutup top 10 dengan nilai US$3.875,7 juta.
Baca Juga: Fakta, Produk, dan Tantangan Produksi Migas Indonesia Tahun 2024
Komoditas Non Migas Terkecil
Kendaraan Bermotor dan Komponennya (terbongkar tidak lengkap) menjadi komoditas ekspor paling sedikit dengan nilai US$100.000.
Komoditas terkecil kedua adalah gabus dan barang dari gabus dengan nilai US$200.000. Peringkat ketiga diisi oleh komoditas kulit berbulu dan bulu artifisial dengan nilai US$00.000.
Barang fotografi atau sinematografi menjadi komoditas ekspor terkecil nomor empat dengan total US$800.000. Posisi kelima yaitu komoditas wol, bulu hewan halus atau kasar dengan total nilai US$900.000.
Posisi keenam adalah senjata dan amunisi dengan nilai US$1,2 juta. Posisi ketujuh diisi oleh Serealia dengan nilai US$2 juta.
Urutan kedelapan ditempati oleh komoditas payung, payung panas, tongkat jalan, tongkat duduk, cambuk, pecut dan bagiannya dengan nilai US$2,8 juta.
Peringkat kesembilan diisi oleh komoditas binatang hidup dengan total nilai US$3,2 juta. Posisi kesepuluh adalah daging dan sisa daging yang dapat dimakan dengan total nilai US$5 juta.
Baca Juga: Tembus US$3 Miliar, Ini Provinsi dengan Nilai Ekspor Terbesar Januari 2026
Komoditas Ekspor dengan Pangsa Pasar Terbesar
Lemak dan minyak hewani, nabati atau mikroba serta produk disosiasinya mendominasi pangsa pasar sebesar 13,23 persen dari total keseluruhan.
Urutan kedua diisi oleh komoditas Bahan bakar mineral, minyak mineral dan produk sulingnya dengan pangsa pasar 12,31 persen.
Komoditas besi dan baja berada pada urutan ketiga dengan persentase 10,34 persen.
Peringkat keempat ditempati oleh komoditas Mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya dengan persentase 7,1 persen.
Sementara itu komoditas endaraan selain yang bergerak di atas rel kereta api atau trem, dan bagian serta aksesorinya berada pada peringkat kelima pangsa pasar terbesar dengan persentase 4,64 persen.
Baca Juga: Kejar Target Lifting, 15 Proyek Migas Baru Siap Beroperasi 2025
Sumber: https://satudata.kemendag.go.id/data-informasi/perdagangan-luar-negeri/ekspor-impor