Pembangunan yang belum merata antarwilayah dapat memicu munculnya ketimpangan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Salah satu dampaknya terlihat pada kondisi kerawanan pangan, yaitu situasi ketika masyarakat di suatu wilayah mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan yang aman, bergizi, dan terjangkau.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kerawanan pangan mengacu pada bagian dari populasi yang pernah atau sedang mengalami tingkat kerawanan pangan sedang maupun parah berdasarkan Food Insecurity Experience Scale (FIES) setidaknya satu kali dalam 12 bulan terakhir. Di Indonesia, masih terdapat sejumlah provinsi yang menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya akibat kondisi kerawanan pangan tingkat sedang hingga berat.
Lantas, bagaimana perkembangan tingkat kerawanan pangan di Indonesia dari tahun ke tahun?
Baca Juga: 14 Ribu Desa Masih Gunakan Kayu untuk Memasak, NTT Tertinggi 2025
Berdasarkan data BPS, terpantau angka kerawanan pangan sedang atau berat di Indonesia dominan turun dalam lima tahun terakhir. Dimulai pada 2021, prevalensi kerawanan pangan sedang atau berat menyentuh angka 4,79%. Kondisi ini lahir dari berbagai faktor, salah satunya yakni tekanan pandemi COVID-19. Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki prevalensi tertinggi mencapai 15,31%.
Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah mengembangkan serangkaian upaya, salah satunya melalui food estate. Upaya ini dikembangkan di Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan khusus NTT dengan fokus pada padi dan jagung.
Satu tahun setelahnya, capaian tersebut mengalami peningkatan menjadi 4,85%. Kenaikan ini masih dipengaruhi oleh kondisi pasca-pandemi serta gejolak ekonomi global. Pemerintah berupaya memperbaiki situasi ini dengan beberapa pendekatan, seperti bantuan beras BULOG.
Pada 2023, kerawanan pangan nasional berada di angka 4,5%. Serangkaian upaya pemerintah tampaknya membuahkan hasil, di mana capaian ini berkurang sebesar 0,35%. Capaian positif juga tercatat sepanjang 2024. Pada tahun tersebut, angka kerawanan pangan Indonesia turun menjadi 4,02%.
Selanjutnya, penurunan kembali terjadi pada 2025. Meskipun cukup kecil, tingkat kerawanan pangan sedang atau berat berhasil mencapai angka 4%. Menariknya, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dengan surplus produksi sekitar 34,71 juta ton.
Salah satu faktor yang hampir setiap tahun memengaruhi tingkat kerawanan pangan berasal dari perubahan iklim ekstrem. Dampaknya, musim tanam terganggu, luas lahan produktif menyusut, sampai fluktuasi harga bahan pokok terutama pada musim-musim tertentu.
Ke depan, penurunan angka kerawanan pangan perlu diikuti dengan penguatan ketahanan pangan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pemerataan akses pangan di seluruh wilayah.
Pasalnya, ketersediaan pangan di tingkat nasional belum selalu mencerminkan kemampuan seluruh masyarakat dalam memperoleh pangan yang cukup dan bergizi.
Wilayah dengan tingkat kerawanan pangan tinggi masih membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik sesuai dengan karakteristik daerahnya. Pemerintah perlu memperkuat infrastruktur pendukung seperti akses transportasi, penyimpanan pangan, serta distribusi agar bahan pangan dapat menjangkau wilayah yang sulit diakses dengan harga yang tetap terjangkau.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Narapidana Terbanyak di Indonesia 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTQ3NCMy/prevalensi-penduduk-dengan-kerawanan-pangan-sedang-atau-berat--berdasarkan-pada-skala-pengalaman-kerawanan-pangan--persen-.html