Memasak merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas rumah tangga. Hampir setiap rumah memiliki dapur beserta bahan bakarnya untuk mengolah makanan. Di Indonesia, terdapat berbagai jenis bahan bakar yang umum digunakan.
Saat ini, gas lebih disukai sebagai bahan bakar untuk memasak. Meski demikian, di beberapa daerah masih ada yang menggunakan kayu bakar. Mereka yang memiliki akses ke ladang terbuka lebih mudah mendapatkan kayu, sehingga masih masif pemanfaatannya.
Selain faktor tersebut, kurang terjangkaunya pendistribusian serta fenomena bahan bakar minyak yang tengah langka di beberapa tempat dapat memicu masyarakat berganti ke bahan bakar tradisional. Belum lagi jika harga gas naik karena ketidakpastian global yang memberikan efek domino terhadap kondisi nasional.
Di beberapa provinsi Indonesia, eksistensi kayu sebagai bahan bakar untuk memasak masih tinggi. Hal ini menunjukkan penggunaan sumber energi tradisional masih menjadi bagian dalam keseharian masyarakat. Di urutan pertama, Nusa Tenggara Timur (NTT) memimpin dengan 3.237 desa yang masyarakatnya menggunakan kayu bakar.
Posisi kedua diduduki oleh Papua Pegunungan yang memiliki 2.524 desa yang memanfaatkan kayu sebagai bahan bakar utama. Kemudian secara berurutan terdapat Papua Tengah (1.090 desa), Maluku (835), Papua Barat Daya (780), Papua Barat (776), Papua (772), Sumatra Utara (765), Maluku Utara (640), dan Papua Selatan (588).
Penggunaan kayu bakar untuk memasak terpantau didominasi oleh wilayah timur Indonesia pada 2025. Kondisi ini dapat menjadi indikasi adanya kesenjangan dalam transisi penggunaan energi rumah tangga di Indonesia.
Baca Juga: NTT Jadi Provinsi dengan Tingkat Minat Membaca Tertinggi 2025
Alasan Kayu Masih Digunakan
Di beberapa daerah, akses untuk mendapatkan isi ulang tabung gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) cukup sulit, salah satunya karena jarak tempuh. Tentunya akan membutuhkan biaya tambahan untuk transportasi. Kondisi ini menjadi alasan sebagian masyarakat memilih menggunakan kayu bakar yang lebih mudah didapatkan di sekitarnya.
Masyarakat yang berada di wilayah rural sering kali tinggal di dekat kebun yang menyediakan kayu ranting kering melimpah. Selain itu, kayu bakar juga sering digunakan untuk memasak dalam porsi besar karena dianggap lebih hemat daripada gas.
Hingga sekarang, masih banyak yang beranggapan bahwa memasak dengan tungku kayu dapat menghasilkan rasa makanan yang lebih sedap dengan aroma yang khas. Selain itu, masakan lebih merata kematangannya dibandingkan dengan kompor modern. Bagi sebagian masyarakat, pemanfaatan kayu untuk memasak memiliki nilai budaya tersendiri yang berkaitan dengan tradisi kuliner lokal.
Di sisi lain, penggunaan kayu bakar juga dapat menjadi tantangan dalam transisi energi yang lebih efisien.
Baca Juga: Pemerintah Lirik CNG Gantikan LPG, Apa Saja Perbedaannya?
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/OTQwIzI=/banyaknya-desa-kelurahan-menurut-jenis-bahan-bakar-untuk-memasak-yang-digunakan-oleh-sebagian-besar-keluarga--desa-.html
Penulis: Alifia Ayu Fitriana
Editor: Editor