Stunting masih menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan kesehatan anak di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah. Kondisi ini berkaitan dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang yang dapat memengaruhi perkembangan anak.
Menurut Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Kabupaten Wonosobo menjadi wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Jawa Tengah, mencapai 17,93%. Di bawahnya terdapat Kabupaten Banjarnegara dengan prevalensi stunting sebesar 16,64%, diikuti Kabupaten Purworejo dengan 16,25% dan Kabupaten Magelang sebesar 15,73%.
Baca Juga: 7 Provinsi dengan Prevalensi Stunting Tertinggi 2024
Daftar lima besar wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Jawa Tengah ditutup oleh Kabupaten Tegal yang mencatatkan angka 15,31%.
Kabupaten Temanggung menyusul di bangku keenam dengan 14,24%, diikuti oleh Kabupaten Banyumas (13,91%), Kabupaten Klaten (13,20%), Kabupaten Purbalingga (13,15%), dan Kabupaten Rembang (12,11%).
Dapat dilihat bahwa seluruh wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Jawa Tengah merupakan kabupaten.
Sebaliknya, Kota Demak jadi wilayah dengan prevalensi stunting terendah di Jawa Tengah, yakni sebesar 2,06%, diikuti Kabupaten Semarang (3,14%), Kabupaten Kudus (3,53%), Kota Semarang (4,45%), dan Kabupaten Cilacap (4,99%).
Terus Turun
Adapun menurut data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) 2025, jumlah balita stunting di Jawa Tengah tercatat sebanyak 181.030 anak atau sebesar 9,66%. Angka itu turun sekitar 3,4% dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, penurunan ini merupakan hasil kerja sama dari semua pihak terlibat.
“Penurunan ini merupakan hasil berbagai upaya intensif semua pihak, termasuk kader-kader PKK di desa-desa/kelurahan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Dalam upaya mengurangi angka stunting di Jawa Tengah, TP PKK bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).
Program ini mendorong masyarakat untuk saling membantu keluarga yang memiliki risiko stunting.
“Dan Genting ini insyaallah di tahun 2026 akan kita gerakan lagi, karena ternyata target BKKBN lebih naik dari tahun sebelumnya,” lanjutnya.
Bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), TP PKK juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat, terutama terkait pemenuhan gizi dan peningkatan kualitas tumbuh kembang anak.
“Sehingga upaya-upaya ini harus dilakukan untuk menjamin bagaimana gizi yang baik, kemampuan otak anak juga akan baik,” tuturnya.
Baca Juga: Stunting di Indonesia Terus Meningkat, Apa Penyebabnya?
Sumber:
https://satudata.jatengprov.go.id/publikasi/1.02.17.013