Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data luas panen jagung Indonesia berdasarkan Survei Kerangka Sampel Area (KSA).
Metode kerangka sampel area dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Badan Pusat Statistik (BPS).
Metode ini digunakan untuk mengestimasi luas panen jagung berdasarkan pengamatan yang objektif.
Luas Lahan Panen Jagung Pipilan Januari-Oktober 2026
Baca Juga: Dinamika Produksi Padi Nasional Januari-Juli 2026
Pada periode Januari-Oktober 2026, diperkirakan total luas panen jagung jagung pipilan mencapai 2,4 juta hektare.
Berdasarkan hasil survei kerangka sampel area, pada bulan Januari 2026 luas lahan panen jagung pipilan berada di angka 0,24 juta hektare. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun ke belakang.
Beralih ke bulan Februari, luas panen meningkat menjadi 0,31 juta hektare, tertinggi sepanjang periode pengamatan. Meskipun begitu, luas lahan panen jagung sebenarnya turun dari Februari tahun sebelumnya yang sebesar 0,33 juta hektare.
Setelah sebelumnya melambung pada bulan Februari, luas panen jagung pipilan menurun pada bulan Maret 2026. Area luas panen jagung pipilan berada di angka 0,25 juta hektare.
Kontras dengan bulan Januari, data area luas lahan panen jagung bulan Maret 2026 merupakan yang terendah dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya. Pada Maret 2024, luas lahan panen mencapai 0,36 juta hektare, tertinggi dalam setiap periode sepanjang 2024-2026.
Berikutnya, pada bulan April luas lahan panen jagung tercatat sebesar 0,24 juta hektare, kemudian turun pada bulan berikutnya ke angka 0,21 juta hektare.
Bulan Juni menunjukkan catatan angka yang sama dengan bulan Maret, yaitu lahan panen jagung dengan luas 0,25 juta hektare. Angka tersebut kembali turun pada bulan Juli, hingga mencapai 0,23 juta hektare.
Sementara itu, potensi luas panen jagung pipilan pada Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan sebesar 0,67 juta hektare, dengan rincian 0,24 juta hektare pada bulan Agustus, 0,22 juta hektare pada bulan September, dan 0,21 juta hektare pada bulan Oktober.
Metodologi Survei KSA
Pendataan kerangka sampel area dilakukan di seluruh wilayah di Indonesia, kecuali DKI Jakarta. Metode KSA pada komoditas jagung ini menggunakan 21.979 sampel segmen lahan berbentuk persegi dengan ukuran 100 m×100 m (1 hektare) dengan lokasi yang tidak berubah.
Pada setiap bulannya, dilakukan pengambilan data visual dari masing-masing segmen sampel lahan. Pengambilan data visual difokuskan pada empat titik, sehingga kondisi pertanaman jagung dapat diamati dengan lebih teliti.
Kondisi pertanaman jagung pada setiap segmen sampel diamati, mulai dari tahap persiapan lahan, fase vegetatif, fase reproduktif, fase panen, hingga potensi gagal panen.
Baca Juga: Produksi Perikanan Indonesia Tembus 6,78 Juta Ton pada Triwulan II 2026
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/09/01/2608/luas-panen-dan-produksi-jagung.html