Peringkat Internasional

PISA 2025: Sekolah di ASEAN Masih Kekurangan Teknologi Digital, Indonesia Masuk Daftar

Kamboja menjadi negara ASEAN yang merasa paling kekurangan sumber daya digital dalam pembelajaran di sekolah, persentasenya mencapai 73,9%.

PISA 2025: Sekolah di ASEAN Masih Kekurangan Teknologi Digital, Indonesia Masuk Daftar

Ilustrasi Siswa Menggunakan Komputer di Sekolah | Ron Lach/Pexels

Dalam dunia pendidikan, perkembangan teknologi telah meningkatkan ketersediaan dan penggunaan sumber daya digital di sekolah yang memerlukan dukungan kebijakan agar teknologi tersebut dapat diintegrasikan secara efektif ke dalam proses mengajar dan belajar.

Publikasi Programme for International Student Assessment (PISA) Result 2025 oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mencatat bahwa rata-rata penggunaan komputer di negara anggota OECD yang pada tahun 2012 hanya enam komputer per sepuluh siswa, menjadi sembilan komputer per sepuluh siswa pada 2025.

Meskipun demikian, meningkatnya penggunaan perangkat digital, gawai, Kecerdasan Buatan (AI), dan media sosial di kalangan remaja telah menciptakan tantangan tersendiri bagi kebijakan tambahan, termasuk pembatasan plagiarisme dan keamanan digital di ranah siswa.

Selain itu, persoalan lain seperti ketimpangan antarsekolah serta keterbatasan penggunaan perangkat digital telah mencerminkan adanya ketidakmerataan akses. Komputer memang tetap menjadi perangkat digital yang paling tersedia di sekolah, namun ketersediaan tablet dan pembaca buku elektronik sangat terbatas.

Berdasarkan hasil PISA 2025, sekolah menyampaikan rata-rata hanya terdapat sekitar tiga tablet dan kurang dari satu buku elektronik untuk setiap sepuluh siswa di negara anggota OECD.

Banyak kepala sekolah menyampaikan kekurangan jumlah maupun kualitas sumber daya digital yang pada akhirnya menghambat kemampuan sekolah untuk memberikan pengajaran terutama di sekolah negeri dan negara-negara dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah.

Hal tersebut selaras dengan tingkat kesiapan pembelajaran digital pada tahun 2025 lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2022.

8 Negara ASEAN yang Kekurangan Sumber Daya Digital di Sekolah

Tingkat Keterbatasan Perangkat Digital Sekolah di  8 Negara ASEAN Berdasarkan Hasil PISA 2025
Tingkat Keterbatasan Perangkat Digital Sekolah di 8 Negara ASEAN Berdasarkan Hasil PISA 2025 | GoodStats

Kepala sekolah dari negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) yang melaporkan bahwa sekolahnya mengalami kekurangan sumber daya digital tertinggi dipegang oleh Kamboja, persentasenya mencapai 73,9% dan menjadi yang tertinggi di dunia.

Baca Juga: Skor PISA 8 Negara ASEAN 2025, Kemampuan Siswa Indonesia Merosot

Selanjutnya, Filipina mengekor di bawahnya dengan perbedaan angka yang cukup jauh, yakni 53,9%, diikuti oleh Malaysia yang menempati urutan ketiga di negara ASEAN sebesar 48,6%. Sementara itu, terdapat 44,2% kepala sekolah di Brunei Darussalam melaporkan kekurangan sumber daya digital, tertinggi keempat di ASEAN.

Selisih kurang lebih tiga persentase poin dengan Brunei Darussalam, Vietnam dan Indonesia hampir memiliki persentase yang sama, masing-masing sebanyak 41,9% dan 41,5%. Tailan menyusul di urutan ketujuh yang persentasenya hanya 37,5%.

Singapura menjadi negara anggota ASEAN dengan persentase kekurangan sumber daya digital paling minim, bahkan mungkin hampir tidak ada, yakni 0%.

Kecuali Singapura, persentase tujuh negara anggota negara ASEAN yang kekurangan sumber daya digital melampaui total rata-rata OECD, yakni hanya 22,1%

8 Negara ASEAN dengan Kualitas Sumber Daya Digital yang Rendah di Sekolah

Tingkat Keterbatasan Perangkat Digital Sekolah di  8 Negara ASEAN Berdasarkan Hasil PISA 2025
Tingkat Keterbatasan Perangkat Digital Sekolah di 8 Negara ASEAN Berdasarkan Hasil PISA 2025 | GoodStats

Pada sisi lain, Kamboja tetap menduduki urutan pertama di ASEAN dan peringkat kedua secara global sebagai negara yang paling merasakan sumber daya digital tidak memadai dalam proses pembelajaran, dengan persentase mencapai 65,4%.

Filipina turut mengisi urutan kedua dengan persentase sebesar 52,5%, disusul oleh Malaysia 47,7% dan Brunei Darussalam sebesar 46%.

Adapun kali ini Indonesia bertukar posisi dengan Vietnam, menjadi urutan kelima dengan persentase mencapai 39,1%, sedangkan Vietnam hanya sebesar 36,1%. Di sisi lain, Tailan konstan di posisi ketujuh sebanyak 33%.

Singapura kembali mengukuhkan posisinya sebagai negara dengan persentase sumber daya digital berkualitas rendah yang hampir tidak ada, selaras dengan grafik sebelumnya yang menunjukkan angka 0%.

Dengan demikian, penting untuk memastikan penyediaan tidak hanya sekadar sumber daya digital, tetapi disertai dengan kualitas tinggi, sehingga akan membantu mengurangi ketimpangan digital.

Metodologi

OECD meluncurkan PISA sebagai sebuah survei rutin yang dilakukan setiap tiga tahun sekali terhadap siswa berusia 15 tahun di seluruh dunia untuk mengetahui sejauh mana responden telah menguasai kemampuan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Dalam publikasi PISA 2025 Result, OECD telah menganalisis data dari 91 negara dan wilayah ekonomi, termasuk seluruh anggota OECD dan 53 negara yang tidak. Survei PISA pada tahun 2025 telah melibatkan lebih dari 760 ribu siswa yang mengukur empat kompetensi utama secara Computer Based Test (CBT) dan Paper Based Test (PBT), yakni sains, membaca, matematika, dan pemecahan masalah komputasi.

Baca Juga: Teka-Teki Pendidikan Indonesia: Rasa Ingin Tahu Meningkat, Mengapa Skor PISA 2025 Terjebak?

Sumber:

https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2025-results-volume-i_73451bc5-en.html

Penulis: Zalfa Ronaa Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?