Negara dengan Pengelolaan Sampah Terbaik di Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?

Negara mana yang punya sistem pengelolaan sampah terbaik di dunia? Temukan per dan kondisi pengelolaan sampah di Indonesia di sini.

Negara dengan Pengelolaan Sampah Terbaik di Dunia, Indonesia Peringkat Berapa? Ilustrasi Pengelolaan Sampah | Nathan Cima/Unsplash
Ukuran Fon:

Isu sampah menjadi tantangan global yang terus mendapat perhatian, seiring meningkatnya populasi dan pesatnya industri. Volume sampah yang terus bertambah menuntut setiap negara untuk memiliki sistem pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan. Namun, tidak semua negara mampu mengatasi persoalan ini dengan cara yang sama.

Di sisi lain, sejumlah negara justru berhasil membangun sistem pengelolaan sampah terbaik di dunia melalui kombinasi kebijakan inovatif, pemanfaatan teknologi canggih, serta tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi. Hasilnya, mereka mampu menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dan mengoptimalkan proses daur ulang maupun konversi energi.

Lalu, negara mana saja yang masuk dalam daftar negara dengan pengelolaan sampah terbaik di dunia? Dan yang tak kalah penting, Indonesia peringkat berapa dalam pengelolaan sampah global?

Top 10 Negara dengan Pengelolaan Sampah Terbaik di Dunia

Berdasarkan data Environmental Performance Index (EPI) 2024 untuk indikator waste management (WMG), yang didasarkan pada tiga indikator utama, yaitu timbulan sampah kota per kapita, pengendalian sampah padat, dan pemulihan energi dan material dari sampah. 

10 Negara dengan Pengelolaan Sampah Terbaik di Dunia
Peringkat Pengelolaan Sampah Terbaik di Dunia | GoodStats

Baca Juga:Mengenal Refused Derived Fuel (RDF) sebagai Solusi Pengelolaan Sampah di Indonesia

Secara umum, peringkat teratas didominasi oleh negara-negara di kawasan Eropa dan Asia Timur. Namun demikian, Singapura sebagai negara di Asia Tenggara justru berhasil mencatat skor tertinggi, dengan selisih yang relatif tipis dibandingkan dengan Jepang.

Singapura meraih skor 75,5. Capaian ini didukung oleh sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berbasis teknologi, seperti penggunaan insinerasi modern serta penerapan regulasi yang ketat terhadap limbah. Di bawahnya, Jepang (73,6) dan Swedia (72,7) juga menunjukkan performa yang sangat kuat. Jepang dikenal dengan sistem pemilahan sampah yang sangat detail dan disiplin masyarakatnya yang tinggi. Sementara itu, Swedia unggul dalam mengolah sampah menjadi energi, sehingga hanya sebagian kecil limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Selanjutnya, posisi keempat hingga keenam ditempati oleh Taiwan (69,7), Belanda (69,6), dan Finlandia (68,4). Ketiga negara ini memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi sama-sama efektif. Taiwan, misalnya, berhasil menekan volume sampah melalui kebijakan pay-as-you-throw, meskipun dalam 10 tahun terakhir tercatat mengalami penurunan skor cukup signifikan (-5,7). Di sisi lain, Belanda dan Finlandia mengandalkan pendekatan ekonomi sirkular serta inovasi dalam sistem daur ulang untuk mengurangi limbah.

Pada kelompok berikutnya, terdapat Jerman (67,4), Swiss (66,8), dan Denmark (65,5) yang tetap konsisten sebagai negara dengan sistem pengelolaan sampah maju. Jerman menonjol dalam hal disiplin pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, sementara Swiss dan Denmark mendorong pengurangan limbah melalui kombinasi kebijakan insentif dan pemanfaatan teknologi.

Sementara itu, Inggris berada di posisi ke-10 dengan skor (65,4). Meski berada di peringkat terakhir dalam daftar ini, negara tersebut justru mencatat peningkatan terbesar dalam satu dekade terakhir (+3,5). Hal ini menunjukkan adanya perbaikan signifikan dalam kebijakan dan praktik pengelolaan sampah yang diterapkan.

Secara keseluruhan, data ini menegaskan bahwa keberhasilan dalam pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi semata. Lebih dari itu, faktor seperti regulasi yang kuat, partisipasi aktif masyarakat, serta inovasi berkelanjutan juga memainkan peran penting. Selain itu, tren peningkatan di beberapa negara menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah masih dapat terus berkembang dan ditingkatkan seiring waktu.

Jika dibandingkan dengan negara-negara di atas, posisi Indonesia dalam peringkat pengelolaan sampah dunia masih jauh tertinggal. Berdasarkan ketiga indikator, Indonesia berada di urutan 163 dari 180 negara .

Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah Indonesia masih menghadapi banyak tantangan serius, baik dari sisi infrastruktur, kebijakan, maupun perilaku masyarakat.

Bagaimana Kondisi Pengelolaan Sampah di Indonesia?

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kondisi pengelolaan sampah di Indonesia masih memprihatinkan.

Grafik Komposisi Pengelolaan Sampah di Indonesia
Komposisi Pengelolaan Sampah di Indonesia | GoodStats

Data pada grafik menunjukkan bahwa komposisi pengelolaan sampah di Indonesia masih sangat timpang. Dari total sampah yang dihasilkan, hanya sekitar 25% yang berhasil dikelola, sementara 75% lainnya belum terkelola dengan baik.

Artinya, mayoritas sampah di Indonesia masih belum melalui proses pengolahan yang memadai, seperti daur ulang, pengomposan, atau konversi menjadi energi. Sebaliknya, sebagian besar sampah tersebut berpotensi menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA), mencemari lingkungan, atau bahkan berakhir di sungai dan laut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah Indonesia masih menghadapi tantangan besar, baik dari sisi infrastruktur, kebijakan, maupun perilaku masyarakat. Selain itu, rendahnya angka pengelolaan juga mengindikasikan bahwa praktik seperti pemilahan sampah dari sumber masih belum berjalan optimal.

Di sisi lain, tingginya persentase sampah yang tidak terkelola menjadi sinyal bahwa upaya perbaikan harus segera dilakukan. Tanpa intervensi yang signifikan, volume sampah yang terus meningkat berisiko memperparah pencemaran lingkungan dan menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat.

Salah satu contoh nyata adalah TPST Bantar Gebang yang menjadi tempat pembuangan sampah terbesar di Indonesia. Dalam beberapa kasus, gunungan sampah di lokasi ini bahkan pernah longsor dan menimbulkan korban jiwa.

Masalah utama di Indonesia bukan hanya volume sampah yang besar, tetapi juga pendekatan pengelolaannya. Sampah umumnya hanya berpindah dari rumah ke tempat pembuangan akhir (TPA), tanpa melalui proses pengolahan yang memadai seperti daur ulang atau konversi energi.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur, rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, serta lemahnya implementasi kebijakan menjadi faktor yang memperparah kondisi ini.

Baca Juga:Brand Ini Sumbang Sampah Plastik Terbanyak di Sebagian Wilayah Indonesia

Sumber:

https://epi.yale.edu/measure/2024/WMG

https://sampahnasional.kemenlh.go.id/#data-section

Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira

Konten Terkait

Indonesia Jadi Rumah 793 Spesies Mamalia, Terbanyak di Dunia

Indonesia jadi negara dengan spesies mamalia terbanyak di dunia yaitu 793 spesies, disusul Brasil (785 spesies), dan China (746 spesies).

Ini 10 Provinsi Teratas dalam Penerapan Norma K3 2024

Penerapan norma K3 meningkat selama 2024, mencerminkan komitmen perusahaan terhadap keselamatan kerja nasional.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook