Pergerakan kurs dollar terhadap rupiah pada 3 Juni 2026 kembali menjadi perhatian setelah nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Melansir dari Investing.com, kurs USD/IDR pada perdagangan 3 Juni 2026 berada di level Rp17.896 per dolar AS, naik 0,41 persen dibandingkan hari sebelumnya dan menjadi posisi tertinggi dalam sepekan terakhir.
Kenaikan tersebut memperpanjang tren penguatan dolar yang telah berlangsung sejak akhir Mei. Meski pergerakannya tidak terjadi secara drastis, data menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan yang membuat nilai tukarnya bergerak semakin jauh dari level Rp17.700-an per dolar AS.
Baca Juga: 3 Skenario Kelola Kas Negara demi Jaga Nilai Tukar Rupiah Menurut CSIS
Pergerakan Kurs Dollar terhadap Rupiah Hari Ini, 3 Juni 2026
Jika menilik pergerakan selama beberapa hari terakhir, kurs USD/IDR pada 28 Mei 2026 masih berada di level Rp17.780 per dolar AS. Saat itu, pasar bergerak relatif stabil tanpa perubahan berarti sepanjang perdagangan.
Sehari kemudian, tepatnya pada 29 Mei 2026, dolar mulai menunjukkan penguatan. Kurs dibuka pada Rp17.820 dan ditutup di Rp17.870 per dolar AS. Pada sesi tersebut, dolar bahkan sempat menyentuh level tertinggi Rp17.892. Penguatan sebesar 0,51 persen tersebut menjadi sinyal awal meningkatnya tekanan terhadap rupiah.
Memasuki 31 Mei 2026 dan berlanjut hingga 1 Juni 2026, pergerakan nilai tukar cenderung mendatar. Kurs penutupan bertahan di kisaran Rp17.870 per dolar AS. Stabilnya pergerakan tersebut mengindikasikan pasar masih menunggu sentimen baru yang dapat memengaruhi arah pergerakan mata uang.
Pada 2 Juni 2026, dolar sempat bergerak fluktuatif. Meski mencapai level tertinggi Rp17.894,5, kurs penutupan justru berada di Rp17.822,9 atau turun 0,26 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Koreksi tersebut menjadi satu-satunya pelemahan dolar dalam rentang waktu enam hari terakhir.
Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Pada perdagangan 3 Juni 2026, dolar kembali menguat terhadap rupiah. Kurs dibuka pada level Rp17.805,7 dan terus bergerak naik hingga menyentuh titik tertinggi Rp17.901. Di akhir perdagangan, kurs ditutup pada Rp17.896 per dolar AS.
Jika dibandingkan dengan posisi 28 Mei yang berada di Rp17.780, nilai tukar dolar telah meningkat sekitar Rp116 per dolar AS hanya dalam kurun waktu kurang dari satu pekan. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat meski terjadi secara bertahap.
Kenapa Rupiah Semakin Melemah?
Pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu penyebab yang paling sering memengaruhi pelemahan rupiah adalah sentimen pasar. Ketika investor global melihat adanya ketidakpastian ekonomi atau risiko yang meningkat, mereka cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Faktor inflasi juga memiliki pengaruh besar terhadap kekuatan mata uang. Inflasi yang tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat sekaligus mengurangi daya saing produk domestik di pasar internasional. Kondisi tersebut berpotensi membuat permintaan terhadap rupiah berkurang.
Selain itu, neraca perdagangan turut menjadi penentu penting. Ketika impor lebih besar dibandingkan ekspor, kebutuhan terhadap dolar AS meningkat sehingga memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Sebaliknya, surplus perdagangan biasanya menjadi salah satu penopang penguatan mata uang domestik.
Pergerakan harga komoditas global juga tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang mengandalkan ekspor komoditas seperti batu bara dan minyak sawit, Indonesia sangat dipengaruhi oleh perubahan harga di pasar internasional. Ketika harga komoditas naik, aliran devisa cenderung meningkat dan mendukung penguatan rupiah. Namun saat harga turun, tekanan terhadap mata uang domestik dapat meningkat.
Di sisi eksternal, kebijakan suku bunga bank sentral negara maju, terutama Amerika Serikat, juga menjadi faktor yang sering memengaruhi pergerakan rupiah. Suku bunga yang lebih tinggi membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor sehingga mendorong perpindahan modal dari negara berkembang.
Meski demikian, stabilitas rupiah tetap ditopang oleh fundamental ekonomi Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang terjaga, serta kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan pasar valuta asing. Oleh karena itu, pelaku pasar masih akan mencermati berbagai perkembangan ekonomi global maupun domestik untuk melihat arah pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya.
Baca Juga: Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Tuai 72% Respons Negatif di Media Sosial
Sumber:
https://id.investing.com/currencies/usd-idr-historical-data?
Penulis: Raka Adichandra
Editor: Muhammad Sholeh