Populasi ikan sapu-sapu di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi perhatian serius berbagai pihak. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bahkan melakukan operasi penangkapan dan penguburan ikan sapu-sapu per Jumat (17/4/2026) sebagai upaya menekan jumlahnya. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sekitar 60% sungai dan saluran air di Jakarta telah didominasi oleh ikan sapu-sapu.
Selain itu, pemusnahan ikan sapu-sapu dilakukan karena spesies ini tergolong ikan invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Ikan sapu-sapu dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi, dan kemampuan reproduksi dengan cepat, serta tidak memiliki banyak predator alami. Keberadaan ikan sapu-sapu juga dapat mengancam populasi ikan lokal karena bersaing dalam mendapatkan makanan dan habitat, bahkan merusak lingkungan dasar sungai.
Di sisi lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan catatan mengenai metode pemusnahan yang dilakukan. MUI menilai metode penguburan dalam kondisi ikan masih hidup berpotensi bertentangan dengan dua prinsip utama dalam Islam, yaitu rahmatan lil ‘alamin serta konsep kesejahteraan hewan (animal welfare atau kesrawan). Kritik ini membuka diskusi yang lebih luas, tidak hanya terkait pengendalian spesies invasif, tetapi juga mengenai pentingnya mempertimbangkan aspek etika dan kemanusiaan dalam setiap langkah penanganan.
Awal Mula Meluasnya Populasi Ikan Sapu-Sapu di Perairan Indonesia
Melansir dari Detikedu, ikan sapu-sapu dikenal sebagai bagian dari keluarga Loricariidae, yaitu kelompok ikan lele berperisai yang berasal dari Amerika Selatan, khususnya wilayah Sungai Amazon. Secara ilmiah, ikan ini sering disebut sebagai Pterygoplichthys pardalis. Di habitat aslinya, ikan ini berperan sebagai pembersih alga di dasar perairan.
Namun, masuknya ikan sapu-sapu ke Indonesia tidak terjadi secara alami. Pada awalnya, ikan ini masuk melalui perdagangan ikan hias pada dekade 1970-an. Ikan ini dikenal karena kemampuannya membersihkan akuarium. Sayangnya, banyak pemilik yang kemudian melepaskannya ke sungai atau danau ketika ukurannya membesar dan sulit dipelihara. Dari sinilah awal penyebaran ikan sapu-sapu di berbagai perairan Indonesia dimulai.
Selain itu, ikan ini memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Ia dapat bertahan di kondisi air yang tercemar, kadar oksigen rendah, bahkan di perairan yang minim makanan. Hal ini membuatnya mampu berkembang di sungai-sungai perkotaan seperti Ciliwung dan berbagai wilayah lain di Indonesia.
Pertumbuhan Populasi Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
Pertumbuhan populasi ikan sapu-sapu di Indonesia tergolong sangat cepat dan cenderung tidak terkendali. Hal ini terlihat dari berbagai penelitian yang menunjukkan peningkatan signifikan baik dari jumlah individu maupun persebarannya di perairan.
Berdasarkan penelitian berjudul Reinventarisasi dan Analisis Laju dan Diversitas Ikan di Sungai Ciliwung (2025), yang menggunakan metode penelitian tabulasi dengan teknik penangkapan, seperti, serokan, jala, pancing, penangkapan langsung (free handling), serta jebakan bubu yang dilakukan di sepanjang Sungai Ciliwung dengan cakupan sekitar 9 km dari total panjang sungai.
Sampel ikan yang dikumpulkan diidentifikasi dan dikonfirmasi kembali di laboratorium menggunakan referensi ilmiah lalu dianalisis berdasarkan klasifikasi spesies, famili, dan ordo. Setelah dianalisis sample lalu dikelompokan pada klasifikasi ikan asli dan ikan eksotis berdasarkan Permen 19/KKP/2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran, dan Pengeluaran Jenis Ikan yang Membahayakan dan/atau Merugikan ke Dalam dan Dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Penelitian menunjukkan adanya peningkatan jumlah spesies ikan asli (temuan baru) sebanyak 26% dari penelitian 14 tahun sebelumnya dan peningkatan kehadiran spesies ikan eksotis sebanyak 21% Penelitian memperoleh 37 spesies ikan dari 16 famili dan 8 ordo.
Meskipun peningkatan spesies ikan asli lebih tinggi, pertumbuhan populasi ikan eksotis terpantau meningkat secara signifikan mengimbangi populasi ikan asli. Secara jumlah individu ikan, ditemukan 794 individu ikan (51%) sebagai ikan asli dan 748 individu ikan (49%) sebagai ikan eksotis.
Baca Juga: Konsumsi Ikan Indonesia Turun pada 2024Nilai Ekspor Ikan Indonesia Tertinggi Ke-10 di Dunia pada 2024
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) menempati posisi paling atas dengan jumlah 287 ekor, sehingga menjadi spesies invasif paling dominan di perairan ini. Jumlah tersebut jauh melampaui spesies lain, yang menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi dan reproduksi yang sangat tinggi dibandingkan ikan invasif lainnya.
Selanjutnya, di posisi kedua terdapat ikan cere (Gambusia affinis) asal Amerika Utara dengan jumlah 189 ekor. Meskipun berukuran kecil dan tampak tidak berbahaya, ikan ini dikenal sangat agresif. Ikan cere dapat menyerang ikan lain dengan merusak sirip, bahkan membunuhnya, sehingga turut memberi tekanan besar pada ekosistem. Berikutnya, di posisi ketiga terdapat ikan guppy (Poecilia reticulata) dengan jumlah 118 ekor.
Selain itu, pada posisi keempat terdapat ikan platy (Xiphophorus hellerii) sebanyak 51 ekor, diikuti ikan nila (Oreochromis niloticus) sebanyak 34 ekor. Meskipun nila sering dimanfaatkan sebagai bahan pangan, keberadaannya dalam ekosistem alami tetap dapat berdampak negatif. Ikan ini bersifat kompetitif, bersaing dengan ikan lokal dalam memperebutkan sumber pakan, serta memangsa individu yang lebih kecil, termasuk ikan lokal yang masih muda.
Sementara itu, spesies lain seperti brushmouth pleco (Ancistrus sp.) tercatat sebanyak 26 ekor. Di sisi lain, beberapa jenis ikan seperti golsom (Andinoacara rivulatus), kaca-kaca (Prambassis siamensi), ikan mas (Cyprinus carpio), red devil (Amphilophus labiatus), hingga lele dumbo (Clarias gariepinus) ditemukan dalam jumlah relatif sedikit, masing-masing di bawah 20 ekor. Meski jumlahnya kecil, keberadaan mereka tetap menunjukkan tingginya keragaman spesies invasif yang masuk ke perairan ini.
Secara keseluruhan, data tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ikan invasif di Indonesia, khususnya di Sungai Ciliwung, cenderung terkonsentrasi pada spesies tertentu. Oleh karena itu, dominasi ikan sapu-sapu tidak hanya menjadi ancaman serius bagi keseimbangan ekosistem perairan, tetapi juga dapat menjadi indikator menurunnya kualitas lingkungan sungai.
Mengapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Hama?
Ikan sapu-sapu sering disebut sebagai hama karena dampak negatifnya terhadap ekosistem perairan Indonesia. Istilah “hama” muncul bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan sejumlah karakteristik yang merugikan.
Pertama, ikan ini bersifat invasif. Artinya, ia bukan spesies asli dan cenderung mengganggu keseimbangan ekosistem. Kedua, ikan sapu-sapu bersaing dengan ikan lokal dalam hal makanan dan ruang hidup. Bahkan, dalam banyak kasus, ikan lokal kalah bersaing karena ikan sapu-sapu lebih adaptif.
Selain itu, ikan ini juga merusak habitat. Mereka sering menggali dasar sungai untuk membuat sarang, yang menyebabkan erosi dan merusak struktur tanah di dasar perairan. Di sisi lain, ikan ini juga memakan telur ikan lain, sehingga menghambat regenerasi spesies lokal.
Lebih lanjut, ikan sapu-sapu tidak memiliki nilai ekonomi tinggi. Dagingnya jarang dikonsumsi karena teksturnya keras dan rasanya kurang diminati. Hal ini membuat keberadaannya tidak memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat, justru menjadi beban bagi ekosistem.
Apa Dampaknya Jika Populasi Ikan Sapu-Sapu Terus Meningkat?
Jika populasi ikan sapu-sapu di Indonesia terus dibiarkan, dampaknya bisa sangat serius, baik secara ekologis maupun ekonomi. Berikut beberapa dampak utamanya:
- Menurunnya Keanekaragaman Hayati
Ikan sapu-sapu akan mendominasi habitat dan menggeser populasi ikan lokal. Akibatnya, keanekaragaman spesies di ekosistem perairan Indonesia akan menurun drastis. - Kerusakan Habitat Perairan
Aktivitas menggali sarang dapat menyebabkan kerusakan dasar sungai, mempercepat erosi, dan mengganggu stabilitas lingkungan perairan. - Gangguan Rantai Makanan
Dengan memakan alga, detritus, dan telur ikan lain, ikan sapu-sapu dapat mengubah struktur rantai makanan dan mengganggu keseimbangan ekosistem. - Penurunan Hasil Tangkapan Nelayan
Nelayan yang bergantung pada ikan lokal akan mengalami kerugian karena tangkapan mereka didominasi ikan sapu-sapu yang tidak memiliki nilai jual tinggi. - Ancaman Jangka Panjang terhadap Ekosistem
Jika tidak dikendalikan, populasi ikan invasif seperti sapu-sapu dapat menyebabkan kerusakan permanen pada ekosistem perairan Indonesia.
Baca Juga: Konsumsi Ikan Indonesia Turun pada 2024
Sumber:
https://ejournal.brin.go.id/berita_biologi/article/view/4921/10426
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira