Rupiah hari ini kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan. Melansir dari laman Google Finance, kurs USD pada Kamis, 4 Juni 2026, bergerak di kisaran Rp18.035 per dolar AS pada perdagangan siang hari.
Posisi ini sekaligus menjadi level tertinggi yang tercatat sepanjang pergerakan hari ini dan memperlihatkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap kondisi pasar keuangan domestik maupun global. Selain nilai tukar yang melemah, pasar saham Indonesia juga mengalami tekanan yang cukup besar dalam beberapa hari terakhir, mencerminkan tingginya ketidakpastian yang sedang dihadapi pasar.
Baca Juga: 3 Skenario Kelola Kas Negara demi Jaga Nilai Tukar Rupiah Menurut CSIS
Pergerakan Dolar ke Rupiah Hari Ini, 4 Juni 2026
Berdasarkan data Google Finance, pergerakan dolar AS terhadap rupiah sepanjang Kamis (4/6/2026) menunjukkan tren kenaikan yang cukup konsisten.
Pada pukul 07.00 WIB, dolar AS berada di level Rp18.022. Nilai tukar sempat turun ke Rp17.978 pada pukul 08.20 WIB sebelum kembali menguat menjadi Rp18.014 pada pukul 09.00 WIB. Tren penguatan dolar berlanjut pada pukul 10.20 WIB ketika kurs mencapai Rp18.024, lalu kembali naik ke Rp18.035 pada pukul 11.19 WIB.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat. Meski sempat mengalami penguatan sesaat pada pagi hari, rupiah belum mampu mempertahankan momentum tersebut dan kembali tertekan seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS.
Level Rp18.000 sendiri menjadi batas psikologis yang selama ini diperhatikan oleh pelaku pasar. Ketika kurs bergerak di atas level tersebut, kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar biasanya ikut meningkat karena dapat memengaruhi sentimen investor maupun aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan mata uang asing.
Pergerakan Dolar ke Rupiah dalam Seminggu ke Belakang
Jika melihat pergerakan selama tujuh hari terakhir, tren pelemahan rupiah terlihat semakin jelas.
Pada 29 Mei dan 30 Mei 2026, kurs dolar AS masih berada di level Rp17.816. Nilai tersebut kemudian naik tipis menjadi Rp17.817 pada 31 Mei. Memasuki awal Juni, kurs bergerak ke Rp17.864 pada 1 Juni dan sedikit turun ke Rp17.858 pada 2 Juni.
Namun, tekanan mulai meningkat pada 3 Juni ketika dolar AS menguat ke level Rp18.017. Tren tersebut berlanjut pada 4 Juni dengan kenaikan lebih lanjut hingga mencapai Rp18.035.
Dalam rentang satu minggu, dolar AS tercatat menguat sekitar Rp219 terhadap rupiah. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang dialami rupiah bukan sekadar pergerakan harian, melainkan bagian dari tren pelemahan yang berlangsung secara bertahap dalam beberapa waktu terakhir.
Apa Dampaknya dan Kenapa Rupiah Terus Menurun?
Pelemahan rupiah kali ini terjadi bersamaan dengan tekanan yang melanda pasar keuangan domestik. Sejumlah laporan media nasional menyebutkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami koreksi signifikan akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dan pasar keuangan.
Ketika pasar saham mengalami tekanan dan ketidakpastian meningkat, investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut mendorong permintaan terhadap dolar AS dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor domestik, penguatan dolar AS di pasar global juga menjadi salah satu penyebab utama. Ketidakpastian ekonomi dunia, perubahan arus modal internasional, serta sentimen terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat membuat banyak investor memilih menempatkan dana pada aset berbasis dolar.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah dapat berdampak pada kenaikan biaya berbagai kebutuhan yang bergantung pada impor. Harga bahan baku industri, produk elektronik, hingga biaya perjalanan ke luar negeri berpotensi menjadi lebih mahal. Sementara itu, bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS, tekanan biaya juga dapat meningkat.
Di sisi lain, sektor ekspor berpeluang memperoleh manfaat karena produk Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif di pasar internasional. Namun, keuntungan tersebut tetap bergantung pada kondisi permintaan global yang saat ini masih dibayangi berbagai tantangan ekonomi.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas keuangan serta perkembangan kondisi ekonomi global. Selama sentimen eksternal dan domestik masih belum sepenuhnya membaik, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap menjadi salah satu indikator yang paling diperhatikan oleh pelaku pasar maupun masyarakat.
Baca Juga: Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Tuai 72% Respons Negatif di Media Sosial
Sumber:
https://www.google.com/finance/beta/quote/USD-IDR?sa=X&sqi=2&ved=2ahUKEwipjtK1-OyUAxXo3jgGHah4CNMQmY0JegQIDRAu
Penulis: Raka Adichandra
Editor: Muhammad Sholeh