Kota pesisir merujuk pada wilayah perkotaan yang letaknya berada di area peralihan antara daratan dan lautan, serta berbatasan langsung dengan perairan. Kehidupan ekonominya banyak berkaitan dengan aktivitas kelautan, mulai dari pelabuhan, perikanan, hingga pariwisata. Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki beberapa kota pesisir, di antaranya yakni Semarang dan kawasan ibu kota negara.
DKI Jakarta menjadi kota pesisir karena bagian utara wilayahnya berbatasan langsung dengan Teluk Jakarta di Laut Jawa. Sama halnya dengan Semarang yang juga terletak di bagian utara Pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa.
Keduanya menghadapi persoalan serupa, yakni rentan terhadap banjir rob dan penurunan muka tanah yang berlangsung cukup cepat. Jika tidak ditangani secara optimal, kondisi tersebut berisiko membuat wilayah pesisir perlahan tenggelam.
Selain di Indonesia, kota apa saja yang berpotensi tenggelam karena penurunan muka tanah?
Baca Juga: Daftar Ibu Kota dengan Tutupan Hijau Terluas di Asia Tenggara, Jakarta Nomor Berapa?
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wu et al. (2022), terdapat beberapa kota pesisir yang mengalami penurunan muka tanah tercepat. Tianjin di China menempati peringkat pertama sebagai kota pesisir yang paling cepat tenggelam, di mana penurunan tanahnya sekitar 5,22 cm setiap tahun.
Peringkat kedua dan ketiga ditempati oleh wilayah yang berasal dari Indonesia yakni Semarang dan Jakarta. Masing-masing laju penurunan tanah setiap tahunnya berkisar 3,96 cm dan 3,44 cm.
Kota Shanghai menyusul di urutan keempat dengan penurunan tanahnya sekitar 2,94 cm per tahun. Di posisi kelima dan keenam terdapat Ho Chi Min City (2,81 cm) dan Hanoi (2,44 cm) yang sama-sama berasal dari Vietnam.
Daftar 10 kota pesisir di dunia yang paling cepat tenggelam juga dilengkapi oleh Chattogram/Chittogong (2,35 cm), Kobe (2,26 cm), Kerala (1,96 cm), dan Houston (1,95 cm).
Menurunnya tinggi tanah disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya pengambilan air tanah secara berlebih untuk industri dan populasi, pengeboran sumur panas bumi yang memicu rongga di dalam tanah, serta beban infrastruktur kota yang melebihi kapasitas.
Hal ini dapat mengakibatkan genangan air hujan semakin luas, mengganggu jaringan pipa air dan listrik, merusak fasilitas, hingga menurunkan nilai properti di kawasan terdampak.
Metode Penelitian
Penelitian yang berjudul Subsidence in Coastal Cities Throughout the World Observed by InSAR menggunakan data Synthetic Aperture Radar (SAR) C-band Sentinel-1 A/B pada Oktober 2014 hingga Januari 2021 yang diperoleh dari Alaska Satellite Facility.
Citra satelit diproses setiap dua bulan untuk membentuk deret waktu laju deformasi permukaan tanah dengan rata-rata periode pengamatan 5,3 tahun. Pengolahan dilakukan menggunakan SNAP versi 8.0.3 untuk menghasilkan interferogram dan StaMPS versi 4.0b untuk mengekstraksi perpindahan permukaan menggunakan metode Persistent Scatterer Interferometry (PS-InSAR).
Adapun wilayah dengan patahan transformasi utama, seperti Los Angeles, California, tidak termasuk dalam penelitian ini.
Baca Juga: Berapa Luas Lumpur Lapindo Jika Dibandingkan dengan Kawasan Monas?
Sumber:
https://agupubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1029/2022GL098477