Pada akhir tahun 2025, Pulau Sumatra, khususnya provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, diterjang bencana banjir dan longsor yang cukup dahsyat. Akibatnya, ribuan fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari, seperti rumah, sekolah, jembatan, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan mengalami kerusakan yang cukup serius.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga 15 Januari 2026, sebanyak 1.190 korban meninggal dunia, sementara 131 ribu jiwa terpaksa mengungsi. Kondisi kehidupan masyarakat setempat serba mencekam dan kesulitan akibat terbatasnya akses jalan. Tak tinggal diam, masyarakat sipil dan pemerintah turut mengerahkan bantuan kemanusiaan untuk memastikan pemulihan korban jiwa dan perbaikan fasilitas setempat, termasuk sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa hak peserta didik tetap menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam upaya pemulihan bencana Sumatra.
"Hak belajar peserta didik harus tetap terpenuhi meskipun pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Seluruh satuan pendidikan di Aceh, Sumatra barat, dan Sumatra Utara siap melaksanakan pembelajaran semester genap pada 5 Januari 2026," tegasnya, mengutip dari Kemendikdasmen, Sabtu (3/1/2026).
Lebih lanjut, Kemendikdasmen mengumumkan bahwa 85% sekolah yang terdampak bencana sudah siap melaksanakan kegiatan belajar mengajar, meskipun ada sejumlah keterbatasan. Berikut rincian jumlah sekolah yang dapat melangsungkan kegiatan pembelajaran semester genap.
Baca Juga: Sentimen dan Emosi Publik terhadap Penanganan Banjir Sumatra 2025
Jumlah Sekolah yang Siap Beroperasi
Di provinsi Aceh, sebanyak 81% atau 2.226 sekolah siap beroperasi dari 2.756 sekolah yang terdampak. Sisanya, 516 sekolah masih dalam proses pembersihan dan 14 pembelajaran mengandalkan tenda. Sedangkan, di Sumatra Utara, jumlah sekolah yang siap beroperasi mencapai 902 sekolah atau 95% dari 950 sekolah yang terdampak bencana. Lalu, 29 sekolah sedang dibersihkan dan 19 pembelajaran menggunakan tenda.
Terakhir, Sumatra Barat hanya memiliki 380 sekolah yang siap beroperasi atau sekitar 86% dari 443 sekolah yang terdampak bencana. Sisanya, 42 sekolah sedang dibersihkan dan jumlah pembelajaran yang menggunakan tenda ada 21.
Ruang Kelas Darurat
Kemendikdasmen turut memastikan keberlangsungan pembelajaran di tengah keterbatasan dengan menyalurkan sejumlah bantuan, seperti ruang kelas darurat, perlengkapan sekolah, tenda, buku, dana operasional darurat, dan dukungan psikososial.
Demi memenuhi hak belajar peserta didik di tiga provinsi yang terdampak, Kemendikdasmen menyalurkan 100 ruang kelas darurat di Provinsi Aceh dan 30 ruang kelas darurat masing-masing di Sumatra Barat dan Sumatra Utara.
Paket Perlengkapan Sekolah
Selanjutnya, Kemendikdasmen menyalurkan paket perlengkapan sekolah kepada peserta didik, mengingat harta dan benda masyarakat setempat sudah terbawa arus banjir dan tertimbun longsor.
Sebanyak 15.500 paket perlengkapan sekolah diberikan kepada peserta didik di Aceh. Lalu, peserta didik yang bertempatan di Sumatra Utara dan Sumatra Barat juga menerima paket perlengkapan sekolah, masing-masing sebanyak 6.500 dan 5.000 paket.
Bantuan tenda juga disalurkan ke Aceh (78 tenda), Sumatra Utara (47 tenda), dan Sumatra Barat (22 tenda). Tak ketinggalan, bantuan berupa buku turut diserahkan ke Aceh (90.000 eksemplar), Sumatra Utara (50.000 eksemplar), dan Sumatra Barat (70.000 eksemplar).
Guna memastikan kesuksesan proses pembelajaran semester genap di wilayah pasca bencana, dana operasional pendidikan darurat yang digelontorkan ke tiga provinsi senilai Rp25,91 miliar. Terakhir, bantuan pendidikan dari Kemendikdasmen dilengkapi dengan dukungan psikososial senilai Rp700 juta demi membantu korban bencana agar pulih dari rasa trauma yang menimpa.
Baca Juga: 56% Publik Nilai Komitmen Pemerintah Tangani Bencana Sumatra Sudah Kuat
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DS46JLcklvN/?img_index=1
https://gis.bnpb.go.id/BANSORSUMATERA2025/
Penulis: Faiza Az Zahra
Editor: Editor