Pendidikan STEM (science, technology, engineering, mathematics) menjadi kunci utama daya saing negara di tengah bonus demografi dan transformasi ekonomi berbasis pengetahuan di kawasan ASEAN.
Meski mencatat kemajuan pada publikasi ilmiah dan prestasi internasional, posisi Indonesia dalam pendidikan STEM masih tertinggal dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Melalui kajian Muda Bicara, artikel ini mengulas perbandingan pendidikan STEM antarnegara ASEAN menggunakan indikator kuantitatif pendidikan, riset, dan serapan industri.
Metodologi Perbandingan STEM Antar Negara ASEAN
Metodologi perbandingan STEM antar negara ASEAN dalam kajian ini menggunakan pendekatan komparatif deskriptif berbasis data sekunder nasional dan internasional.
Analisis dilakukan melalui indikator kuantitatif utama, meliputi persentase lulusan STEM, skor PISA 2022, alokasi anggaran riset terhadap PDB, serta tingkat serapan lulusan STEM di industri, dengan fokus perbandingan Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Seluruh data diseragamkan dalam periode dan satuan yang sebanding, lalu disajikan melalui infografik STEM ASEAN untuk menegaskan perbedaan capaian dan posisi relatif di kawasan Asia Tenggara.
Hasil Perbandingan STEM ASEAN: Di Mana Posisi Indonesia?
Baca Juga: Data PDDikti 2025 Tunjukkan Dominasi Soshum, Pemerintah Dorong Prodi STEM
Hasil perbandingan STEM antarnegara di kawasan ASEAN menunjukkan bahwa posisi Indonesia masih berada di lapisan terbawah dibanding negara pembanding.
Berdasarkan data Muda Bicara, persentase lulusan STEM Indonesia hanya mencapai 19% dari total lulusan sarjana. Angka ini tertinggal jauh dari Malaysia sebesar 37% dan Singapura sebesar 34%, yang telah menjadikan STEM sebagai tulang punggung pembangunan sumber daya manusia.
Bahkan jika diperluas ke konteks Asia, capaian Indonesia masih berada di bawah India dengan 31% dan China dengan 40%.
Kesenjangan ini mencerminkan masalah struktural dalam sistem pendidikan tinggi dan kebijakan pengembangan STEM nasional. Rendahnya proporsi lulusan STEM Indonesia berdampak langsung pada daya saing inovasi dan kesiapan tenaga kerja di sektor strategis.
Kondisi ini diperparah oleh rendahnya alokasi anggaran riset Indonesia yang hanya 0,2% dari PDB, jauh di bawah standar global.
Di sisi lain, negara seperti Singapura dan Malaysia mampu mengkombinasikan pendidikan STEM dengan investasi riset dan keterlibatan industri yang kuat. Akibatnya, Indonesia menghadapi tantangan ganda berupa keterbatasan jumlah lulusan STEM dan rendahnya kualitas penyerapan di dunia kerja.
Secara keseluruhan, hasil perbandingan ini menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan lompatan kebijakan signifikan agar tidak semakin tertinggal dalam kompetisi STEM di kawasan ASEAN.
Faktor Penyebab Ketertinggalan STEM Indonesia di Kawasan ASEAN
Ketertinggalan pendidikan STEM Indonesia di kawasan ASEAN disebabkan oleh kombinasi masalah struktural dalam pendidikan, riset, dan ketenagakerjaan.
Persentase lulusan STEM Indonesia yang hanya 19% jauh tertinggal dari Malaysia dan Singapura, salah satunya akibat kuota terbatas dan seleksi ketat di perguruan tinggi teknik serta durasi studi yang panjang.
Di sisi lain, alokasi anggaran riset yang rendah, yakni hanya 0,2% dari PDB, menghambat pengembangan inovasi dan kualitas pembelajaran STEM. Tantangan ini diperparah oleh mahalnya sertifikasi profesi, keterbatasan infrastruktur praktikum, serta minimnya magang industri yang relevan.
Selain itu, lemahnya keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri menyebabkan horizontal mismatch lulusan STEM, sehingga potensi keahlian tidak terserap optimal di sektor strategis.
Implikasi Kebijakan: Strategi Memperkuat STEM Indonesia ke Level ASEAN
Hasil perbandingan STEM ASEAN menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan intervensi kebijakan yang lebih kuat dan terarah untuk mengejar ketertinggalan dari negara tetangga.
Peningkatan anggaran riset hingga minimal 1% PDB menjadi langkah krusial untuk memperkuat ekosistem inovasi dan kualitas pendidikan STEM.
Selain itu, perluasan akses pendidikan melalui penambahan kuota, subsidi mahasiswa STEM, serta integrasi sertifikasi profesi ke dalam kurikulum dapat mendorong peningkatan jumlah lulusan berkualitas.
Penguatan link and match antara pendidikan dan industri, termasuk kewajiban magang dan forum sinkronisasi kurikulum, penting untuk menekan masalah mismatch lulusan.
Investasi pada infrastruktur praktikum, Green STEM Labs, dan pengembangan green skills juga menjadi kunci dalam menyiapkan tenaga kerja masa depan.
Dengan strategi kebijakan yang konsisten dan kolaboratif, Indonesia berpeluang memanfaatkan bonus demografi secara optimal dan memperkuat posisinya dalam persaingan STEM di kawasan ASEAN.
Baca Juga: Kerja Sama RI-Inggris 2026: Potensi Kerja Sama Maritim, Lingkungan, dan Pendidikan
Sumber:
https://www.mudabicara.id/kajian/rilis-kajian-sejauh-mana-pendidikan-stem-di-indonesia/
Penulis: Angel Gavrila
Editor: Editor