Upaya memperkecil kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin positif dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu indikatornya terlihat dari penurunan nilai Indeks Ketimpangan Gender (IKG) yang terus membaik hingga mencapai level terendah pada 2025.
Baca Juga: Mengukur Indeks Ketimpangan Gender di Indonesia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai IKG Indonesia turun dari 0,472 pada 2020 menjadi 0,402 pada 2025. Tren penurunannya berlangsung cukup konsisten setiap tahun, dari 0,472 pada 2020 menjadi 0,465 pada 2021, lalu turun lagi menjadi 0,459 pada 2022, 0,447 pada 2023, dan 0,421 pada 2024 sebelum akhirnya mencapai 0,402 pada 2025.
Dalam pengukuran ini, semakin rendah nilai indeks maka semakin kecil tingkat ketimpangan gender di suatu negara. Dengan kata lain, penurunan yang terjadi selama lima tahun terakhir mencerminkan adanya perbaikan akses dan kesempatan perempuan di berbagai bidang kehidupan.
DKI Jakarta Terbaik
DKI Jakarta menempati posisi teratas sebagai wilayah dengan IKG terendah pada 2025, yakni 0,144. Capaian ini menunjukkan tingkat kesenjangan yang paling kecil dibandingkan provinsi lain, sekaligus mengindikasikan kemajuan dalam akses pendidikan, kesehatan, dan partisipasi ekonomi perempuan.
Di bawahnya, DI Yogyakarta (0,153) dan Bali (0,178) juga mencatatkan tingkat ketimpangan yang rendah. Kedua wilayah ini dikenal memiliki dukungan kuat terhadap pendidikan dan partisipasi sosial perempuan, yang turut berkontribusi pada perbaikan indeks.
Wilayah Pulau Jawa kembali mendominasi daftar, dengan Jawa Tengah mencatat 0,225 dan Jawa Timur sebesar 0,329. Selain itu, provinsi kepulauan seperti Kepulauan Riau (0,290) dan Kep. Bangka Belitung (0,308) juga menunjukkan kinerja yang cukup baik dalam menekan ketimpangan gender.
Dari kawasan luar Jawa, Sulawesi Selatan (0,336), Kalimantan Utara (0,340), dan Sulawesi Utara (0,340) turut masuk dalam daftar sepuluh besar provinsi dengan ketimpangan gender terendah.
Dimensi IKG
IKG sendiri mengukur ketimpangan gender melalui tiga dimensi utama, yakni kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan partisipasi di pasar tenaga kerja. Ketiganya menjadi gambaran penting untuk melihat sejauh mana perempuan memiliki akses, perlindungan, dan kesempatan yang setara dengan laki-laki.
Pada dimensi kesehatan reproduksi, perbaikan terlihat dari semakin menurunnya proporsi perempuan usia 15–49 tahun yang melahirkan di luar fasilitas kesehatan maupun perempuan yang melahirkan anak pertama sebelum usia 20 tahun. Penurunan dua indikator ini menunjukkan semakin banyak perempuan yang memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang lebih aman dan kesadaran reproduksi yang lebih baik.
Sementara itu, dari sisi pemberdayaan, tingkat pendidikan perempuan terus mengalami peningkatan. Persentase perempuan usia 25 tahun ke atas dengan pendidikan minimal SMA naik menjadi 38,35% pada 2025. Peningkatan ini penting karena pendidikan sering menjadi fondasi utama bagi akses pekerjaan, pendapatan, hingga posisi pengambilan keputusan.
Namun, tantangan masih terlihat pada representasi perempuan di ranah politik. Persentase anggota legislatif perempuan pada 2025 tercatat sebesar 22,28%, sedikit turun dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan dalam posisi strategis dan pengambilan kebijakan masih belum sepenuhnya setara.
Di sektor ketenagakerjaan, partisipasi perempuan juga terus meningkat. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan naik menjadi 56,63% pada 2025. Kenaikan ini mengindikasikan semakin banyak perempuan yang aktif bekerja atau mencari pekerjaan, sekaligus memperlihatkan peran perempuan yang semakin besar dalam aktivitas ekonomi nasional.
Baca Juga: Indeks Ketimpangan Gender Indonesia Membaik dalam 7 Tahun Terakhir
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/2576/indeks-ketimpangan-gender.html
Penulis: Agnes Z. Yonatan
Editor: Editor