Nasional

33% Pekerja Indonesia Pertimbangkan Resign Setiap Hari, Mengapa?

Sebanyak 21,2% responden mempertimbangkan resign setiap hari dan 12,3% berulang kali dalam sehari.

33% Pekerja Indonesia Pertimbangkan Resign Setiap Hari, Mengapa?

Ilustrasi surat pengunduran diri | Chayanuphol/Shutterstock

Kondisi ekonomi yang sulit membuat banyak pekerja Indonesia memutuskan buat tetap ‘bertahan’ dengan pekerjaannya meski tidak merasa nyaman sama sekali.

Fenomena inilah yang kemudian melahirkan job hugging, di mana pekerja tidak lagi merasakan pencapaian dan kenyamanan yang dulu dirasakan ketika bekerja.

Menurut survei IDN Times pada 2026, sebanyak 26,9% responden mengaku tidak nyaman dengan pekerjaannya saat ini namun tetap bertahan. Sementara itu, 57,6% responden juga tetap bertahan meski sambil mencari peluang lain. Hanya segelintir yang berani untuk mengundurkan diri, yakni sebanyak 4,7%.

Sejalan dengan itu, sebanyak 34,7% responden mengaku mempertimbangan buat mengundurkan diri 3-4 kali dalam satu bulan, menegaskan tingginya frekuensi pikiran untuk berhenti dan melepas semua tanggung jawab. Besarnya angka tersebut menunjukkan fenomena job hugging yang semakin terasa di dunia kerja tanah air.

Sementara itu, 25,1% responden mempertimbangkan resign hanya jika sedang burnout atau stres.

Frekuensi pekerja Indonesia pertimbangkan resign | GoodStats
Frekuensi pekerja Indonesia pertimbangkan resign | GoodStats

Baca Juga: 10 Pekerjaan Ini Akan Banyak Dibutuhkan 5 Tahun Mendatang

Mirisnya, 21,2% responden mengaku mempertimbangkan keluar dari pekerjaannya hampir setiap hari. Sisanya sebanyak 12,3% responden berpikir untuk resign berulang kali dalam sehari. Dengan demikian, 33,5% pekerja Indonesia mempertimbangan resign setiap hari. Sebaliknya, hanya 6,7% responden yang mempertimbangkan resign kurang dari dua kali dalam satu bulan.

Munculnya pikiran-pikiran untuk berhenti tentu tidak lahir dalam keputusan semalam. Pekerja yang baru masuk ke lingkungan kerja barunya tentu memiliki harapan untuk bisa tumbuh dalam pekerjaan tersebut. Namun, beban kerja berlebihan, sistem kerja yang tidak manusiawi, hingga lingkungan kerja yang tidak mendukung membuat banyak responden mempertimbangkan resign.

Job hugging menunjukkan semakin banyaknya pekerja di tanah air yang hanya bekerja dan bekerja tanpa benar-benar merasakan kepuasan dari pekerjaan tersebut. Mereka mengawali dan mengakhiri jam kerja tanpa mengharapkan nilai tambahan apa-apa selain upah yang diperoleh. Hal ini semakin buruk dengan kondisi ekonomi yang semakin menekan. Daripada menghadapi pemasukan yang tidak pasti setelah mengundurkan diri, banyak pekerja Indonesia yang lebih memilih bertahan meski tidak nyaman dengan pekerjaannya.

Adapun survei dari IDN Times ini dilakukan pada Mei-Agustus 2026 dengan melibatkan 212 responden secara daring. Sebanyak 83,5% responden tinggal di Pulau Jawa, 52,4% merupakan Gen Z, 56,6% merupakan karyawan tetap, dan mayoritas bekerja di bidang media, kreatif, dan komunikasi.

Mengapa Bisa Muncul Keinginan Resign?

Survei dari Data Indonesia menunjukkan bahwa jenjang karier menjadi alasan utama publik Indonesia mempertimbangkan untuk resign, dengan 1 dari 4 responden memilih jawaban tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk berkembang di tempat kerja menjadi pertimbangan penting bagi pekerja. Ketika peluang kenaikan posisi atau pengembangan karier dirasa terbatas, pekerja dapat mulai mempertimbangkan perusahaan lain yang menawarkan prospek lebih baik.

Selanjutnya, 19% responden mengejar work-life balance, diikuti 18% responden yang memang memutuskan untuk resign karena ingin mencari perubahan kerja.

Sisanya, 10% memilih pertimbangan gaji, 8% karena fleksibilitas, 5% karena perusahaan yang sekarang buruk, 5% tidak cocok dengan strategi perusahaan,, hingga 4% yang merasa tidak cocok dengan nilai perusahaan.

Terakhir, 3% responden mengaku tidak puas dengan peran saat ini dan ingin mencari keuntungan nonfinansial yang lebih baik.

Baca Juga: Jenis Pekerjaan Utama Penduduk Bekerja Indonesia 2025

Sumber:

https://www.instagram.com/p/DcsgTnfAeVV/?utm_source=ig_web_copy_link&stkn=NTc4MTIwNjQ2YQ==

Penulis: Agnes Z. Yonatan • Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?