Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.
Data PDRB juga menjadi dasar utama dalam perancangan serta pengevaluasian kebijakan pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta.
PDRB dapat dimaknai sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa (neto) yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi.
PDRB dibedakan menjadi dua kategori yaitu Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK). PDRB ADHB menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun.
Sedangkan, PDRB ADHK menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar, dengan tahun dasar yang digunakan sebagai acuan data ini adalah 2010.
10 Wilayah dengan PDRB per Kapita Terendah di Pulau Jawa 2025
Baca Juga: 10 Daerah dengan Inflasi Tertinggi di Pulau Jawa Agustus 2026, Kab. Lebak di Puncak
Adapun wilayah dengan besaran PDRB ADHB terendah di Pulau Jawa pada tahun 2025 adalah Kabupaten Pemalang di Jawa Tengah. Nilai PDRB wilayah ini berada di angka Rp24,05 juta per kapita.
Meskipun tercatat sebagai yang terendah di Pulau Jawa, nilai PDRB Kabupaten Pemalang terus meningkat dalam 5 tahun ke belakang. Perekonomian daerah ini ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Berikutnya, urutan kedua ditempati oleh Kabupaten Sampang di Jawa Timur dengan PDRB sebesar Rp25,53 juta per kapita. Sama seperti wilayah sebelumnya, perekonomian di Kabupaten Sampang didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Posisinya yang berada di pesisir selatan Pulau Madura menjadi faktor pengaruh masifnya budidaya perikanan ikan tangkap dan budidaya, serta produksi garam.
Peringkat ketiga diduduki oleh Kabupaten Grobogan di Jawa Tengah dengan besaran PDRB ADHB mencapai Rp26,42 juta per kapita pada tahun 2025.
Jika ditinjau berdasarkan data lapangan usaha, sektor pertanian masih memegang porsi terbesar perekonomian di Grobogan, tetapi sektor pengolahan/manufaktur turut menyusul sebagai penyumbang perekonomian yang pesat.
Menyusul pada urutan selanjutnya dengan nilai PDRB yang tidak terpaut jauh adalah Kabupaten Cianjur di Jawa Barat. Nilai PDRB wilayah ini berada di angka Rp26,56 juta per kapita.
Wilayah geografis Kabupaten Cianjur yang membentang di dataran tinggi membuat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penggerak utama perekonomiannya. Beberapa komoditas yang berkembang baik di wilayah Cianjur adalah beras wangi, sayuran dan hortikultura, teh, dan karet.
Pada posisi kelima, Kabupaten Pamekasan mencatatkan nilai PDRB sebesar Rp27,21 juta per kapita. Perekonomian Pamekasan ditopang oleh dua sektor yaitu pertanian kehutanan dan perikanan, serta perdagangan besar dan eceran.
Pamekasan dikenal sebagai pusat perdagangan dan pendidikan/jasa di Pulau Madura. Letaknya yang berada di tengah-tengah Pulau Madura menjadikannya titik utama paling strategis untuk alur perdagangan.
Menyusul di urutan selanjutnya masih di daerah Madura, yaitu Kabupaten Bangkalan dengan nilai PDRB sebesar Rp27,59 juta per kapita.
Serupa dengan Pamekasan, perekonomian di Bangkalan didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan; perdagangan besar dan eceran; serta konstruksi.
Berikutnya adalah Kabupaten Lebak di Banten yang mencatatkan nilai PDRB sebesar Rp27,72 juta per kapita. Wilayah ini sangat didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan beberapa komoditas unggulannya yaitu kopi, aren, dan kelapa.
Posisi kedelapan wilayah dengan PDRB terendah di Pulau Jawa ditempati oleh Kota Banjar di Jawa Tengah yang memiliki PDRB sebesar Rp28.05 juta per kapita. Kota Banjar merupakan satu-satunya wilayah administratif perkotaan dalam daftar ini.
Perekonomian Kota Banjar secara umum didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran, kemudian disusul oleh pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta pengolahan.
Menyusul di urutan kesembilan adalah Kabupaten Tasikmalaya di Jawa Barat dengan nilai PDRB sebesar Rp28,08 juta per kapita. Kondisi geografis dan alamnya sangat mendukung aktivitas pertanian, kehutanan, dan perikanan di wilayah ini, sehingga dapat berkembang pesat.
Terakhir, daftar 10 wilayah dengan PDRB terendah di Jawa ditutup oleh Kabupaten Wonosobo di Jawa Tengah dengan nilai PDRB di angka Rp28,72 juta per kapita. Nilai tersebut disumbangkan mayoritas oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Sebagian besar wilayah dalam daftar ini didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sektor primer mampu menjadi tulang punggu perekonomian daerah, skala nominalnya relatif lebih kecil dibandingkan wilayah yang mengandalkan industri manufaktur, jasa keuangan, atau perdagangan besar dan eceran.
Baca Juga: Pekanbaru Jadi Kota dengan Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi 2026, Tembus 7,39%
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/09/15/cebd59fb7b6f175907235bbb/tinjauan-regional-berdasarkan-pdrb-kabupaten-kota-2021-2025--buku-2-pulau-jawa-bali.html