Kolom abu vulkanik dari Gunung Semeru membumbung setinggi 900 meter, menghiasi langit pagi Lumajang, Malang, Jawa Timur, Rabu (7/1/2026) pukul 06.46 WIB. Bukan yang pertama kalinya pada hari itu, sebelumnya, dini hari pukul 00.26 WIB, gunung api tertinggi di Pulau Jawa dengan tinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini tercatat telah erupsi dengan kolom letusan setinggi 700 meter.
Menurut penuturan petugas pos pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dalam keterangan tertulis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), letusan berlanjut terjadi pada pukul 00.36 WIB, 05.52 WIB, 05.53 WIB, 06.46 WIB, dan 09.37 WIB.
"Masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi)," tulis Sigit.
Memasuki sore hari, Gunung Semeru kembali melontarkan abunya pada pukul 16.40 WIB, berlanjut pada pukul 17.50 WIB, 18.08 WIB, 18.12 WIB, 18.29 WIB, 19.23 WIB, 19.35 WIB, 19.54 WIB, 20.27 WIB, 20.54 WIB, 23.57 WIB.
Dengan ini, jumlah erupsi Gunung Semeru yang telah terjadi dalam waktu 24 jam pada Rabu (7/1/2026) sebanyak 17 kali, menambah total letusan yang tercatat pada tahun 2026 menjadi sejumlah 68 kali. Kini, status aktivitas Gunung Semeru sendiri telah ditetapkan menjadi Level III (Siaga) sejak 29 November 2025, setelah sempat dinaikkan menjadi Level IV (Awas) pada 19 November 2025.
Baca Juga: Catatan Sejarah Erupsi Gunung Semeru Dari 1818 hingga Erupsi Besar 2025
Gunung Merapi Juga Siaga
Tidak hanya Gunung Semeru, gunung api lainnya yang tercatat juga berstatus Siaga adalah Gunung Merapi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Meski begitu, aktivitas vulkaniknya tidak sedampak Gunung Semeru.
Pada Rabu (7/1/2026), Gunung Merapi terpantau mengalami 113 kali gempa guguran, yaitu gempa akibat runtuhan material batuan atau lava dari tubuh gunung api, serta 76 kali gempa hybrid/fase banyak, yaitu gempa yang berkaitan dengan pergerakan fluida magma dan gas.
Selain itu, gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik jauh juga terjadi pada hari yang sama dengan frekuensi kejadian masing-masing hanya sekali. Gempa vulkanik dangkal adalah gempa yang terjadi pada kedalaman relatif dangkal akibat tekanan magma di dekat permukaan, sedangkan gempa tektonik jauh bersumber dari aktivitas pergeseran lempeng bumi pada jarak yang jauh dari gunung api.
Kendati demikian, data pemantauan menunjukkan bahwa suplai magma di gunung api dengan ketinggian 2.968 mdpl ini masih berlangsung. Hal ini dapat memicu terjadinya letusan eksplosif yang mengakibatkan awan panas guguran hingga lontaran material.
Daftar Lengkap Gunung Api Aktif di Indonesia
Sebagai negara yang terletak pada kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), aktivitas vulkanik gunung api di Indonesia perlu diperhatikan. Per 8 Januari 2026 pukul 06.00 WIB, PVMBG KESDM telah menetapkan lebih dari 20 gunung api yang berstatus di atas Level I (Normal).
Adapun PVMBG KESDM menetapkan status gunung api berdasarkan tingkat aktivitasnya, yaitu dari Level I (Normal) hingga Level IV (Awas).
Level I (Normal) merupakan tingkatan aktivitas gunung api yang berada pada kondisi stabil. Tidak ada peningkatan signifikan, tetapi pemantauan tetap dilakukan secara rutin.
Pada Level II (Waspada), terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang di atas normal, seperti gempa vulkanik dan peningkatan suhu. Warga diimbau waspada, terutama yang berada dalam radius rawan bencana.
Jika aktivitas vulkanik semakin intens, statusnya meningkat ke Level III (Siaga), seperti mulai terjadinya erupsi kecil atau awan panas. Evakuasi mulai dipertimbangkan untuk wilayah tertentu.
Level IV (Awas) adalah status tertinggi dalam kondisi gunung api. Erupsi besar sedang berlangsung atau berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Wajib dilakukan evakuasi bagi penduduk di zona bahaya.
Berikut ini daftar 26 gunung api dengan status di atas Normal beserta provinsi letaknya.
Level IV (Awas):
- Gunung Lewotobi Laki-laki (Nusa Tenggara Timur)
Level III (Siaga):
- Gunung Merapi (Jawa Tengah)
- Gunung Semeru (Jawa Timur)
Level II (Waspada):
- Gunung Bur Ni Telong (Aceh)
- Gunung Sinabung (Sumatra Utara)
- Gunung Marapi (Sumatra Barat)
- Gunung Talang (Sumatra Barat)
- Gunung Kerinci (Jambi)
- Gunung Dempo (Sumatra Selatan)
- Gunung Anak Krakatau (Lampung)
- Gunung Slamet (Jawa Tengah)
- Gunung Dieng (Jawa Tengah)
- Gunung Bromo (Jawa Timur)
- Gunung Rinjani (Nusa Tenggara Barat)
- Gunung Sangeangapi (Nusa Tenggara Barat)
- Gunung Iya (Nusa Tenggara Timur)
- Gunung Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)
- Gunung Ile Werung (Nusa Tenggara Timur)
- Gunung Soputan (Sulawesi Utara)
- Gunung Lokon (Sulawesi Utara)
- Gunung Karangetang (Sulawesi Utara)
- Gunung Awu (Sulawesi Utara)
- Gunung Gamalama (Maluku Utara)
- Gunung Ibu (Maluku Utara)
- Gunung Dukono (Maluku Utara)
- Gunung Banda Api (Maluku)
Penting bagi masyarakat di sekitar wilayah gunung api untuk tetap siaga dan mengikuti arahan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat ataupun PVMBG KESDM. Pemerintah daerah juga diimbau meningkatkan mitigasi bencana berbasis data mengingat sebaran gunung api aktif tersebar di berbagai provinsi.
Baca Juga: Menerawang Risiko Bencana Letusan Gunung Berapi di Indonesia
Sumber:
https://magma.esdm.go.id/v1
Penulis: Shahibah A
Editor: Editor