Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik ekstrem pada 19 November 2025, menambah panjang daftar erupsi besar yang telah tercatat sejak 1818.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut memiliki sejarah erupsi berulang yang terus memengaruhi kawasan Lumajang dan sekitarnya.
Riwayat Erupsi Semeru dari Masa ke Masa
Riwayat erupsi Gunung Semeru menunjukkan pola aktivitas vulkanik yang terus berulang sejak pertama kali tercatat pada tahun 1818.
Sepanjang abad ke-20 hingga kini, Semeru beberapa kali memicu letusan besar mulai dari awan panas 1941–1942, erupsi dahsyat 1977, hingga rangkaian aktivitas intens pada 2008, 2014–2017, dan 2021.
Dalam periode 2022 hingga 2025, peningkatan tekanan magma kembali menghasilkan luncuran awan panas jarak jauh, termasuk erupsi mayor 19 November 2025 yang memaksa penutupan Jembatan Gladak Perak.
Pola erupsi beruntun ini menegaskan bahwa Semeru merupakan gunung api aktif berkelanjutan yang terus memerlukan pemantauan ketat dan kewaspadaan masyarakat.
Catatan Sejarah Aktivitas Erupsi Gunung Semeru
Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa, merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak abad ke-19 hingga 2025, Semeru mengalami rangkaian aktivitas erupsi yang konsisten, mulai dari letusan kecil, luncuran awan panas, hingga erupsi besar yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan signifikan.
Pada periode 1818–1913, dokumentasi aktivitas vulkanik masih terbatas. Akibat minimnya catatan, dampak yang tercatat pun tidak detail, meski Semeru diyakini tetap aktif.
Memasuki 1941–1942, aktivitas meningkat dengan luncuran lava berbulan-bulan yang mencapai lereng timur dan menimbun Pos Pengairan Bantengan salah satu bukti awal bahwa Semeru memiliki potensi aliran lava jarak menengah.
Periode 1945–1960 ditandai dengan letusan berulang lebih dari 12 kali. Aktivitas berkelanjutan ini menunjukkan fase erupsi tahunan yang relatif stabil namun tetap berbahaya bagi wilayah sekitar.
Kondisi berubah drastis pada 1977, ketika satu erupsi besar menghasilkan awan panas hingga 10 km, merusak sawah, jembatan, dan rumah dengan endapan mencapai 6,4 juta meter kubik.
Erupsi ini menjadi salah satu peristiwa yang paling diingat dalam sejarah Semeru modern karena skalanya yang besar.
Pada 1978–1989, aktivitas menerus berupa awan panas dan guguran lava terus terjadi, menandakan fase yang tidak terlalu eksplosif namun tetap mengancam.
Memasuki 1990–2008, Semeru kembali mengalami erupsi berulang yang intens, tercatat pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007, dan 2008.
Pada Mei 2008, rangkaian kejadian menghasilkan awan panas sejauh 2.500 meter ke Besuk Kobokan salah satu jalur aliran lahar dan awan panas yang paling rentan.
Pada 2014–2017, erupsi bulanan dengan skala VEI 2–3 terjadi cukup rutin, meski tidak menimbulkan korban signifikan.
Namun keadaan berubah pada 4–5 Desember 2021, ketika Semeru memunculkan lebih dari delapan awan panas dalam dua hari.
Bencana tersebut menewaskan 57–69 jiwa, melukai ratusan warga, serta menghancurkan permukiman dan infrastruktur di Besuk Kobokan. Ini menjadi salah satu erupsi paling mematikan abad ini.
Aktivitas masih tinggi pada 2022, ketika awan panas mencapai jarak 19 km, memicu status Awas dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Kerusakan pertanian pun meluas akibat abu vulkanik yang menyelimuti area sekitar.
Tahun 2024 mencatat dua kali kejadian pada Maret dan Desember, dengan awan panas hingga 3 km dan kolom abu mencapai 1.500 meter.
Terbaru, pada 9 Juli dan 19 November 2025, Semeru kembali mengirimkan awan panas sejauh 4 km dan 13 km.
Aktivitas ini membuat status naik ke Level IV (Awas), memicu penutupan Jembatan Gladak Perak salah satu jalur vital transportasi serta memperkuat kewaspadaan nasional terhadap potensi bencana lanjutan.
Sumber:
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/pvmbg-tingkatkan-aktivitas-gunung-api-semeru-ke-level-iv-awas
https://stamet-juanda.bmkg.go.id/home/pages/pengamatan/infopers.php
Penulis: Angel Gavrila
Editor: Muhammad Sholeh