Nasional

Mayoritas 1-4 Tahun, Ini Proporsi Kasus Campak di Indonesia Berdasarkan Kelompok Umur 2025

Kelompok umur 1-4 tahun dominasi jumlah kasus campak pada tahun 2025, hingga 45,2%.

Mayoritas 1-4 Tahun, Ini Proporsi Kasus Campak di Indonesia Berdasarkan Kelompok Umur 2025

Ilustrasi Ruam Kulit Campak | Magnific

Penyakit campak atau yang umumnya dikenal sebagai morbili atau measles merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus dan termasuk golongan Paramyxovirus.

Anak-anak pada usia pra sekolah dan usia SD merupakan kelompok yang paling rentan tertular penyakit ini. Campak akan menyerang hampir 100% anak yang tidak kebal terhadap virus tersebut.

Campak ditularkan melalui udara yang terkontaminasi droplet dari hidung, mulut, atau tenggorokan orang yang terinfeksi. Gejala awal biasanya muncul 10-12 hari setelah infeksi, termasuk demam tinggi, pilek, mata merah, dan bintik-bintik putih kecil di bagian dalam mulut.

Setelah gejala-gejala tersebut timbul, beberapa hari kemudian akan muncul ruam maculopapular, mulai dari wajah dan leher bagian atas dan secara bertahap menyebar ke bawah.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2025 mencatatkan terdapat 65.008 kasus suspek campak tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Peningkatan jumlah kasus campak terus terjadi sejak bulan April hingga puncaknya pada bulan Oktober.

Proporsi Kasus Campak Berdasarkan Kelompok Umur 2025

Kelompok umur 1-4 tahun dominasi proporsi kasus campak pada tahun 2025, hingga 45,2%.
Kelompok umur 1-4 tahun dominasi proporsi kasus campak pada tahun 2025, hingga 45,2% | GoodStats

Baca Juga: Sentimen Warganet X terhadap Aktivitas Imunisasi dan Penanganan Campak 2026

Dari total 65.008 kasus campak di Indonesia pada tahun 2025, mayoritas pengidapnya adalah anak-anak usia pra sekolah dan umur SD.

Kelompok mayoritas adalah umur 1-4 tahun yang mencapai 45,2% total kasus. Pada rentang umur ini, sistem kekebalan tubuh anak masih belum sempurna seperti orang dewasa, sehingga tubuhnya kesulitan mengenali dan melawan virus-virus yang masuk, termasuk virus Morbillivirus.

Faktor lain yang menjadi penyebab kerentanan kelompok umur ini adalah jumlah imunisasi yang belum lengkap. Vaksinasi campak merupakan imunisasi wajib bagi anak, tetapi pemberiannya dilakukan bertahap.

Vaksin campak diberikan sekali pada anak umur 9 bulan, kemudian sekali saat usianya 18 bulan, dan sekali lagi saat usianya berada di rentang 5-7 tahun.

Pemberian dosis pertama pada usia 9 bulan memang sudah mulai memberikan perlindungan awal bagi anak. Namun, untuk mencapai tingkat efektivitas terbaik dalam mencegah penularan virus Morbillivirus, anak wajib melengkapi seluruh tahapan dosis susulan tersebut.

Kelompok rentan selanjutnya adalah umur 5-9 tahun, yang jumlahnya mencapai 33,1% dari keseluruhan kasus campak di Indonesia pada tahun 2025.

Pemenuhan dosis vaksin campak krusial pada rentang usia 5-9 tahun. Pada kelompok usia ini berada di usia awal sekolah (TK dan SD), yang memungkinkan interaksi dekat dengan anak-anak lainya dan meningkatkan potensi penularan virus.

Terlebih lagi, virus Morbillivirus dalam droplet batuk atau bersin dapat bertahan hingga dua jam di udara. Hal ini menjadikan sekolah sebagai lokasi yang sangat potensial memicu penularan massal jika ada anak yang terinfeksi

Berikutnya, kelompok umur <1 tahun mencatatkan 10% kasus campak di Indonesia pada tahun 2025. Pada rentang umur ini kekebalan tubuh anak masih sangat rentan, sehingga perlu dilindungi dengan pemberian vaksin campak.

Di sisi lain, anak-anak yang berusia lebih tua memiliki kekebalan tubuh yang lebih kuat sehingga tidak mencatatkan angka kasus campak yang tinggi. Kelompok usia 10–14 tahun menyumbang 5,7% dari total kasus, sedangkan kelompok usia di atas 14 tahun mencatatkan porsi 6,1%.

Baca Juga: 10 Wilayah dengan Bocil Terbanyak di Indonesia 2026, Bogor Dominasi dengan 450 Ribu Anak

Sumber: 

https://www.kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2025

Penulis: Adhwa Aqilla • Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?