Nasional

10 Provinsi dengan Prevalensi Wasting pada Balita Tertinggi 2025, Papua Barat Daya Nomor 1

Tingkat prevalensi balita wasting (gizi kurang dan gizi buruk) Provinsi Papua Barat capai 11,06%, hampir 3 kali lipat nasional.

10 Provinsi dengan Prevalensi Wasting pada Balita Tertinggi 2025, Papua Barat Daya Nomor 1

Ilustrasi Cek Kesehatan Balita Wasting | Ian Taylor/Pexels

Masa balita menjadi periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang perlu diperhatikan, terutama pada usia 0–2 tahun. Fase ini berperan besar dalam menentukan kondisi kesehatan anak di masa mendatang.

Pada rentang usia tersebut, berbagai potensi gangguan kesehatan dapat dikenali sejak dini. Dengan demikian, penanganan yang tepat dan cepat masih dapat dilakukan untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, orang tua perlu memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi serta terhindar dari berbagai masalah gizi, termasuk wasting atau kondisi gizi kurang maupun gizi buruk.

Apa Itu Wasting?

Wasting adalah kondisi ketika anak mengalami penurunan berat badan drastis dalam jangka waktu tertentu hingga berada di bawah kurva standar tumbuh kembang.

Anak yang mengalami wasting tampak sangat kurus. Berat badannya cenderung rendah, bahkan sangat rendah jika dibandingkan dengan tinggi badannya atau lengan atas (LiLA) kecil.

Umumnya, balita atau anak dapat mengalami wasting jika pemenuhan kuantitas dan kualitas asupan gizinya tidak memadai. Namun, wasting juga dapat terjadi akibat serangan penyakit infeksi.

Kondisi ini perlu benar-benar diperhatikan dan dihindari karena dari berbagai masalah gizi pada anak, wasting memiliki risiko kematian tertinggi, khususnya gizi buruk. Risiko meninggal mencapai 12 kali lebih tinggi dibandingkan anak dengan gizi normal.

10 Provinsi dengan Prevalensi Balita Wasting Tertinggi

Tingkat prevalensi balita wasting (gizi kurang dan gizi buruk) Provinsi Papua Barat capai 11,06%, hampir 3 kali lipat nasional.
Tingkat prevalensi balita wasting (gizi kurang dan gizi buruk) Provinsi Papua Barat capai 11,06%, hampir 3 kali lipat nasional | GoodStats

Baca Juga: RAPBN 2027: Belanja Fungsi Kesehatan Capai Rp139 T, Apa Saja Outputnya?

Secara nasional, angka wasting pada balita tahun 2025 tergolong relatif rendah, yaitu sebesar 3,94%. Meskipun begitu, terdapat kesenjangan yang cukup besar antarprovinsi. Provinsi dengan prevalensi terendah adalah Sumatra Selatan di angka 1,08%, sementara prevalensi tertinggi terjadi di Papua Barat Daya, mencapai 11,06%.

Prevalensi wasting di Papua Barat Daya hampir tiga kali lebih tinggi dibandingkan angka nasional. Provinsi-provinsi lainnya di Pulau Papua pun mencatatkan persentase tinggi.

Papua Selatan menduduki peringkat kedua dengan 10,30% wasting pada balita, disusul oleh Papua Barat di angka 9,64%.

Tingginya prevalensi wasting pada balita di daerah-daerah tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang saling terhubung.

Pertama, ketimpangan akses informasi dan layanan kesehatan. Di wilayah Papua, pengetahuan mengenai pemenuhan gizi serta akses ke fasilitas kesehatan tidak semudah dan sebanyak di Pulau Jawa atau Sumatra. Akibatnya, banyak orang tua yang sekadar memastikan perut anak terisi, bukan memenuhi kebutuhan gizinya.

Kedua, faktor kemiskinan. Keterbatasan ekonomi menjadi faktor krusial yang memengaruhi kualitas dan variasi makanan yang dikonsumsi anak sehari-hari.

Selain itu, masalah kemiskinan kerap berbanding lurus dengan sanitasi lingkungan yang buruk, sehingga anak rentan terserang penyakit infeksi. Kondisi ini diperparah oleh biaya pengobatan yang mahal dan keterbatasan jumlah fasilitas kesehatan.

Ketiga, minimnya pemeriksaan kehamilan (antenatal care). Tidak dilakukannya pemeriksaan rutin selama masa kehamilan membuat kondisi kesehatan dan gizi ibu hamil tidak terpantau.

Akibatnya, potensi gangguan kesehatan atau kekurangan gizi pada janin tidak terdeteksi dan tidak tertangani sejak dini, sehingga meningkatkan risiko bayi lahir dengan kondisi rentan mengalami wasting.

Di luar Pulau Papua, prevalensi wasting di Nusa Tenggara Timur (NTT) juga tinggi, mencapai 8,31%. Angka tersebut berbanding lurus dengan persentase balita stunting di NTT yang sama tingginya, mencapai 20,2%.

Menyusul di urutan selanjutnya adalah Papua dengan 8,18% dan Kalimantan Timur yang mencatatkan 6,21% prevalensi balita mengalami wasting. Angka prevalensi di Kalimantan Timur turun dari yang sebelumnya 7,25% pada tahun 2024.

Provinsi lainnya dengan prevalensi balita mengalami wasting tertinggi juga tersebar di Pulau Sulawesi. Pada tahun 2025, Sulawesi Barat mencatatkan angka 6,04%, menjadikannya satu-satunya provinsi di Pulau Sulawesi dalam daftar ini.

Menyusul pada urutan-urutan selanjutnya adalah Papua Tengah dengan 6,02%; Nusa Tenggara Barat di angka 5,93%; dan Kalimantan Barat yang mencatatkan persentase sebesar 5,48%.

Upaya Mengurangi Prevalensi Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperluas penerapan metode Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) ke daerah-daerah dengan tingkat prevalensi tinggi.

Dalam praktiknya, Kemenkes bekerja sama dengan UNICEF untuk memperkuat sistem kesehatan dan pemberdayaan komunitas untuk menekan prevalensi wasting di berbagai daerah dengan mencegah, mendeteksi, dan mengobatinya.

Salah satu langkah yang dilakukan cukup sederhana, tetapi terbukti efektif, yaitu melakukan pengukuran lingkar lengan atas (LiLA). Langkah ini digunakan sebagai upaya identifikasi awal anak dengan risiko gizi buruk.

Di NTT, salah satu aplikasi metode PGBT adalah pendirian program PAUD Peduli Wasting yang telah aktif dilakukan sejak tahun 2022 hingga tahun 2025.

Program ini berupaya untuk memaksimalkan deteksi dini, rujukan, dan edukasi gizi di tingkat PAUD. Guru sebagai bagian dari komunitas yang aktif berinteraksi dengan anak, dilibatkan untuk mendeteksi berisiko wasting.

Di Asmat, Papua Selatan metode PGBT telah berhasil mengobati 85%-90% anak yang mengalami wasting parah tanpa rawat ini inap karena ciri-cirinya berhasil diidentifikasi lebih awal.

Salah satu tantangan terbesar menangani kasus wasting di daerah tersebut adalah minimnya tenaga kesehatan, meskipun begitu sumber daya yang ada selalu berupaya maksimal untuk menekan prevalensinya, sekaligus memenuhi kebutuhan gizi anak serta mendukung tumbuh kembang mereka.

Baca Juga: 7 Provinsi Paling Padat Dokter Agustus 2026

Sumber:

https://www.kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2025

Penulis: Adhwa Aqilla • Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?