Transportasi umum (transum) menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan yang menjadi langganan di kota-kota besar. Selain membantu mengurai macet, transum juga memberikan berbagai keuntungan dari segi lingkungan serta memangkas biaya dan waktu tempuh. Meskipun demikian, efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas layanan serta tingkat integrasi antarmodanya.
DKI Jakarta menjadi salah satu kota besar dengan transum yang terintegrasi dengan sistem JakLingko. Sebut saja Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT), dan TransJakarta. Salah satu transportasi umumnya yang memiliki banyak pengguna yakni TransJakarta, yang mulai beroperasi pada 2004 dengan koridor pertama Blok M–Kota.
Lantas, rute dan koridor TransJakarta apa saja yang memiliki pendapatan terbesar?
Baca Juga: 10 Brand dengan Pertumbuhan Tertinggi di Indonesia 2026, TJ di Puncak
Berdasarkan data dalam Provinsi DKI Jakarta dalam Angka 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS), TransJakarta berhasil meraup pendapatan Rp625,75 miliar sepanjang tahun 2024.
Adapun koridor/rute TransJakarta dengan penghasilan paling besar dipegang oleh rute Blok M–Kota dengan total Rp67,74 miliar. Pendapatan ini berasal dari 20 juta lebih penumpang dan termasuk ke dalam Koridor 1 yang membentang dari Jakarta Selatan hingga Jakarta Barat.
Peringkat kedua koridor/rute TransJakarta dengan pendapatan terbesar diraih oleh Koridor 9 yakni Pinang Ranti–Pluit. Rute ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp62,33 miliar dalam satu tahun yang berasal dari 19 juta lebih penumpang. Koridor ini melewati wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, sampai Jakarta Utara.
Di urutan ketiga terdapat rute Ciledug–Tendean yang berada di Koridor 13. Rute ini menyumbang pendapatan di angka Rp40,47 miliar. Posisinya disusul oleh Koridor 8 dengan rute Lebak Bulus–Harmoni dengan penghasilan Rp39,69 miliar serta rute Ragunan–Dukuh Atas 2 dari Koridor 6 dengan Rp34,64 miliar.
Daftar 10 rute/koridor TransJakarta dengan pendapatan terbesar juga dilengkapi oleh rute Pulogadung 1–Harmoni (Rp33,61 miliar), Kalideres–Pasar Baru (Rp32,32 miliar), Kepulauan Melayu–Ancol (Rp31,88 miliar), Kepulauan Rambutan–Kepulauan Melayu (Rp30,17 miliar), dan Pgc 2–Tanjung Priok (Rp27,11 miliar).
Hampir seluruh transum di Jakarta menggunakan sistem pembayaran dengan kartu uang elektronik atau tiket QR melalui aplikasi digital. Hal ini bertujuan untuk menciptakan efisiensi dan transparansi transaksi, mencegah terjadinya antrean dari pembayaran konvensional, serta meminimalisir praktik calo.
Baca Juga: Jaktim Jadi Wilayah dengan Halte TransJakarta Terbanyak di Jakarta
Sumber:
https://jakarta.bps.go.id/id/publication/2026/02/27/6fbb5e306389718511827127/provinsi-dki-jakarta-dalam-angka-2026.html