Pendidikan tinggi kerap dipandang sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan peluang seseorang memasuki dunia kerja. Salah satu jenjang yang paling banyak ditempuh adalah Sarjana atau Strata 1 (S1), yang umumnya diselesaikan dalam waktu sekitar 3,5 hingga 4 tahun. Setelah menyelesaikan studi, lulusan sarjana diharapkan memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Namun, memiliki gelar sarjana tidak selalu berarti seseorang akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Kondisi pasar kerja yang semakin kompetitif membuat sebagian lulusan perguruan tinggi masih menghadapi tantangan untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Lantas, program studi (prodi) apa saja yang paling banyak menganggur di Indonesia?
Program Studi Penyumbang Pengangguran Lulusan Sarjana Tertinggi di Indonesia
Baca Juga: 8 Juta Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasi, Alarm Pasar Kerja Indonesia
Berdasarkan data dari laporan Labor Market Brief Juli 2026 yang dirilis oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), terdapat lima prodi lulusan minimal S1 dengan tingkat pengangguran terbanyak. Peringkat pertama terdapat lulusan Manajemen yang menyumbang 10,3% dari total pendidikan S1 di Indonesia.
Prodi Manajemen umumnya di bawah naungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ilmu ini memiliki cakupan yang cukup luas, berkaitan dengan pengelolaan organisasi, keuangan, aset, industri, sampai sumber daya manusia.
Di urutan kedua, lulusan penganggur paling banyak diduduki oleh prodi Hukum dengan angka 9%. Prodi yang juga dalam rumpun sosial humaniora ini memiliki peminat yang cukup tinggi di kalangan calon mahasiswa. Sementara itu, lulusan Ekonomi turut menyumbang angka pengangguran sebesar 8,7% dan berada pada posisi ketiga.
Baik lulusan Hukum dan Ekonomi, keduanya memiliki jalur profesi yang relatif menjanjikan. Akan tetapi, tidak semua lulusannya berada di pekerjaan yang berkaitan dengan prodi tersebut. Tidak sedikit yang bekerja di bidang umum, seperti perusahaan, perbankan, dan administrasi.
Di urutan keempat dan kelima terdapat lulusan Pendidikan dan Akuntansi. Masing-masing menyumbang 7,1% dan 5,1% pengangguran di Indonesia. Kelima bidang studi di atas secara keseluruhan menyumbang sekitar 40% dari seluruh penganggur lulusan minimal S1.
Tingginya jumlah lulusan suatu program studi secara alami dapat menyumbang pengangguran lebih banyak. Fenomena tingginya angka pengangguran terutama dari lima program studi teratas ini terjadi karena lonjakan jumlah lulusan baru yang tidak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia.
Alih-alih menambah universitas baru tanpa pengkajian yang matang, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan lulusan sarjana menjadi hal yang lebih mendesak.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Terendah per Mei 2026, Bali di Puncak!
Sumber:
https://lpem.org/ketika-akses-pendidikan-tinggi-bertambah-apakah-pasar-kerja-siap-labor-market-brief-juli-2026/