Nasional

8 Juta Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasi, Alarm Pasar Kerja Indonesia

Tren overeducation mencuat seiring dengan menurunnya ekspektasi ketersediaan lapangan pekerjaan pada lulusan sarjana.

8 Juta Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasi, Alarm Pasar Kerja Indonesia

Ilustrasi Pekerja Tata Usaha | Felicity Tai/Pexels

Saat ini, Indonesia tengah dihadapkan dengan polemik lulusan sarjana menganggur dan overeducation. Kondisi ini tidak terlepas dari tingginya angka lulusan sarjana yang belum terserap pasar kerja, bahkan mencapai 1 juta. Akar permasalahannya beragam, seperti lapangan pekerjaan yang terbatas, kesenjangan keterampilan, hingga persyaratan pengalaman kerja yang tidak sesuai dengan status fresh graduate.

Selain fenomena di atas, tren overeducation juga turut mencuat, di mana banyak sarjana yang bekerja di bawah kualifikasinya. Mirisnya, beberapa pekerjaan bersifat underpaid dan tidak sebanding dengan beban kerja yang diberikan. Standar upah minimum yang berlaku di setiap wilayah tidak benar-benar diterapkan saat ini.

Patokan Overeducated pada Lulusan Sarjana

Laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM FEB UI) mengungkap tren overeducation para sarjana Indonesia. Laporan ini terbit dalam Labor Market Brief Volume 7, Nomor 7, Juli 2026, ISSN 2808-2060.

Berdasarkan pedoman International Labour Organization (ILO) dalam konteks Indonesia, kerangka tren overeducation dapat disetarakan dengan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI).

Bagi lulusan minimal Strata 1 (S1), pekerjaan dianggap sesuai (matched) dengan pendidikan jika bekerja sebagai manajer atau tenaga profesional dalam kelompok KBJI 1 dan 2.

Sementara itu, lulusan S1 yang bekerja pada KBJI 3 hingga 9 masuk dalam kategori overeducated atau bekerja di bawah kompetensinya. Berikut daftar lengkap kategori KBJI:

0) TNI
1) Manajer
2) Tenaga profesional
3) Teknisi dan tenaga profesional madya
4) Tenaga tata usaha
5) Tenaga usaha jasa dan penjualan
6) Pekerja terampil pertanian, kehutanan, dan perikanan
7) Pekerja pengolahan, kerajinan, dan yang berhubungan
8) Operator dan perakit mesin
9) Pekerja kasar

Baca Juga: 10 Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi per Mei 2026

Jutaan Sarjana di Indonesia Bekerja di Bawah Spesifikasi

Banyak lulusan sarjana bekerja di bidang tenaga tata usaha
Banyak lulusan sarjana bekerja di bidang tenaga tata usaha | GoodStats

Jika didasarkan pada kerangka ILO, terdapat sekitar 8,01 juta lulusan setidaknya S1 yang bekerja pada kelompok KBJI 3 hingga 9. Sekitar 31% di antaranya tercatat bekerja sebagai tenaga tata usaha atau KBJI 4. Kelompok ini menjadi yang terbanyak dibanding kelompok lain.

Meskipun pengelolaan administratif membutuhkan keterampilan mengolah data, koordinasi, dan digitalisasi, kebutuhan keterampilan tersebut belum tentu sepenuhnya sebanding dengan kualifikasi pendidikan lulusan sarjana.

Selisih tipis di bawahnya, terdapat KBJI 5 atau bidang tenaga usaha jasa dan tenaga penjualan dengan capaian 29,6%. Teknisi dan asisten profesional atau KBJI 3 menyusul di urutan ketiga dengan angka 17,7%. Pekerjaan tersebut umumnya ditujukan untuk pendidikan pascasekunder non-universitas atau diploma.

Tidak sedikit juga lulusan sarjana yang bekerja sebagai pekerja terampil pertanian, kehutanan, dan perikanan. Persentase kelompok ini sebesar 6,5%, memiliki selisih tipis dengan kelompok pekerja pengolahan, kerajinan, dan lainnya yang berkaitan dengan bidang tersebut sebesar 6,1%.

Posisi keenam dan ketujuh ditempati oleh kelompok pekerja kasar serta operator dan perakit mesin, masing-masing persentasenya sebesar 5% dan 4,1%.

Ketidaksesuaian dengan Ekspektasi Lapangan Pekerjaan

Ekspektasi kesediaan lapangan kerja bagi lulusan sarjana menurun
Ekspektasi kesediaan lapangan kerja bagi lulusan sarjana menurun | GoodStats

Fenomena overeducation yang dialami beberapa lulusan sarjana di Indonesia ini sesuai dengan indeks ketersediaan lapangan kerja yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI). Dalam survei tersebut, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan bagi lulusan sarjana mengalami penurunan. Hanya responden berpendidikan pascasarjana yang mengalami peningkatan indeks. Sementara lulusan SMA dan akademisi atau diploma juga kompak menunjukkan penurunan.

Indeks ketersediaan lapangan kerja bagi lulusan sarjana menurun dari 113,5 menjadi 110,8. Hal ini mencerminkan adanya penurunan ekspektasi lapangan pekerjaan yang berangkat dari fenomena nyata. Membludaknya lulusan sarjana setiap tahunnya tidak mampu diimbangi dengan ketersediaan pekerjaan yang sesuai spesifikasi.

Kondisi ini membutuhkan peran pemerintah dalam menyesuaikan kurikulum pendidikan terutama perguruan tinggi, serta pengawasan dari kementerian terkait ketenagakerjaan.

Baca Juga: Perkembangan Jumlah Mahasiswa Baru di Indonesia 2019-2025

Sumber:

https://lpem.org/ketika-akses-pendidikan-tinggi-bertambah-apakah-pasar-kerja-siap-labor-market-brief-juli-2026/

Penulis: Alifia Ayu Fitriana Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?