Nasional

7 Bencana yang Paling Banyak Dilaporkan 2026, Karhutla Tembus 1.279 Laporan

Pusiknas Bareskrim Polri sepanjang 2026 mencatat 1.279 laporan bencana berasal dari karhutla.

7 Bencana yang Paling Banyak Dilaporkan 2026, Karhutla Tembus 1.279 Laporan

Ilustrasi Karhutla | Eclipse Chasers/Pexels

Suatu bencana dapat mengubah tatanan kehidupan masyarakat dalam sekejap. Kerusakan lingkungan, kelumpuhan aktivitas sehari-hari, hingga ancaman terhadap keselamatan jiwa menjadi dampak nyata yang membayangi sejumlah wilayah di Indonesia.

Peristiwa semacam ini umumnya dipicu oleh dinamika alam maupun aktivitas manusia yang mengubah kondisi lingkungan sekitar.

Data kejadian bencana tersebut dihimpun oleh Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim Polri) sepanjang tahun.

Mengenal Lebih Dalam Bareskrim Polri dan Pusiknas

Bareskrim Polri merupakan unsur pelaksana tugas pokok Polri di bidang reserse kriminal. Fungsinya mencakup penyelidikan dan penyidikan tindak pidana serta pengelolaan informasi kriminal nasional.

Pengelolaan informasi tersebut menjadi ranah Pusiknas yang berada di bawahnya. Unit ini menjalankan fungsi pengumpulan, pengolahan, analisis, serta penyajian data dan statistik kriminal.

Data yang dikelola kemudian bersumber dari satuan kerja Polri dan dihimpun melalui sistem informasi yang digunakan kepolisian.

Meski berfokus pada data kriminal, ruang lingkup pengolahan informasi kepolisian ini turut mencakup pencatatan peristiwa darurat di tengah masyarakat.

Dalam publikasinya, Pusiknas mengakses data laporan bencana dari Daily Operation Reporting System (DORS) Bareskrim Polri untuk melihat bencana apa saja yang tercatat sejak Januari hingga 29 September 2026.

7 Bencana yang Paling Banyak Dilaporkan 2026

Karhutla Menjadi Bencana Terbanyak yang Dilaporkan Sepanjang Januari - September 2026 | GoodStats
Karhutla Menjadi Bencana Terbanyak yang Dilaporkan Sepanjang Januari - September 2026 | GoodStats

Baca Juga: Luas Area Karhutla Indonesia Januari-Juni 2026, Kalimantan Masih Nomor 1!

Secara keseluruhan, terdapat 3.942 aduan bencana yang masuk sepanjang Januari-September 2026. Angka ini kemudian dikelompokkan ke dalam tujuh jenis bencana yang paling mendominasi.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi bencana yang paling banyak dilaporkan di angka 1.279 atau 32,44% dari total laporan.

Bencana ini membawa dampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Mulai dari merusak habitat serta mengancam keanekaragaman hayati, hingga menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan.

Terpaut tipis dari puncak, bencana kebakaran menempati posisi kedua sebanyak 1.168 laporan. Berbeda dari karhutla, kebakaran secara umum dapat terjadi pada berbagai objek, mulai dari rumah dan bangunan hingga kendaraan maupun fasilitas umum. Api yang tidak terkendali dapat dengan cepat meluas dan menimbulkan kerusakan material, korban, serta mengganggu aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Selisih jumlah pelaporan bencana semakin melebar, terutama puting beliung yang membukukan 667 laporan.

Fenomena angin kencang berputar ini bersifat sangat merusak dalam durasi singkat. Kekuatan angin yang besar mampu merobohkan atap bangunan, menumbangkan pohon, merusak jaringan listrik, dan mengancam keselamatan warga yang berada di jalur lintasannya.

Lonjakan material alam juga terekam lewat aduan tanah longsor yang mencapai 462 laporan. Peristiwa pergerakan tanah ini biasanya dipicu oleh curah hujan tinggi atau kondisi struktur tanah yang labil. Dampak utamanya meliputi tertimbunnya permukiman warga, terputusnya akses jalan antarkawasan, serta risiko korban jiwa akibat datangnya material longsoran secara tiba-tiba.

Bencana banjir masih menjadi peristiwa yang cukup sering terjadi dengan catatan 281 laporan. Meluapnya air dari saluran atau badan sungai kerap merendam ruang aktivitas warga serta berbagai fasilitas umum dalam durasi tertentu. Konsekuensinya sering kali berwujud lumpuhnya jalur transportasi darat, rusaknya barang-barang berharga di dalam ruangan, sampai timbulnya gangguan kesehatan pascabencana.

Gempa bumi berada di posisi berikutnya dengan menyumbang 51 laporan. Pergerakan tektonik yang menghasilkan guncangan kuat berpotensi memicu kepanikan massal serta kerusakan fisik berskala masif. Struktur bangunan yang rapuh juga rentan mengalami keretakan yang kemudian dapat membahayakan keselamatan publik, terutama orang-orang di dalamnya.

Melengkapi daftar tujuh laporan bencana terbanyak, banjir bandang menorehkan angka 28 laporan. Bencana ini umumnya dipicu oleh curah hujan tinggi yang melepas gelombang air deras bermuatan lumpur serta bebatuan besar, sehingga berisiko menghancurkan infrastruktur dan membahayakan keselamatan di sepanjang jalur aliran.

Tren Laporan Karhutla Januari - September 2026

Jumlah Laporan Karhutla Naik Drastis Sejak Juli hingga September 2026 | GoodStats

Jumlah Laporan Karhutla Naik Drastis Sejak Juli hingga September 2026 | GoodStats

Berdasarkan laporan bulanan yang dihimpun Pusiknas Bareskrim Polri, Indonesia menunjukkan situasi darurat karhutla sepanjang tahun 2026.

Lonjakan paling masif terjadi sejak pertengahan tahun sampai mencapai titik tertinggi pada September. Volume aduan bahkan melonjak 102% dibandingkan Agustus 2026.

Di awal tahun, pergerakan laporan terpantau relatif terkendali. Triwulan I 2026 terdapat 36 laporan pada Januari, melandai ke 11 laporan pada Februari, lalu berangsur naik menjadi 60 laporan pada Maret.

Memasuki Triwulan II 2026, terdapat 23 laporan masuk dalam data kepolisian di berbagai daerah pada bulan April. Frekuensi laporan sempat menurun ke angka 10 pada Mei dan berada di titik terendahnya yakni enam laporan pada Juni.

Namun, lonjakan ekstrem terjadi secara beruntun pada Triwulan III 2026. Jumlahnya kembali merangkak naik menjadi 59 laporan pada Juli, 355 laporan pada Agustus, kemudian meledak sebanyak 719 laporan pada periode 1 hingga 29 September.

Adapun sebaran titik panas (hotspot) yang menjadi pemicu karhutla ini dipantau secara visual melalui layanan Polar Hotspot Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Melalui sensor pada satelit polar seperti NOAA20, S-NPP, Terra, dan Aqua, sistem ini mendeteksi anomali suhu panas di permukaan bumi yang mengindikasikan adanya titik api di berbagai wilayah.

Berdasarkan peta sebaran wilayah per 5 September 2026, konsentrasi titik api paling banyak terpantau di Kalimantan (3.646), disusul Sumatra (2.109), serta Papua dan Maluku (1.289).

Meskipun tidak sebanyak ketiga pulau tersebut, wilayah Sulawesi juga terdapat titik api sebanyak 239, diikuti Jawa (82), dan Nusa Tenggara (29).

Berbagai upaya penanggulangan karhutla telah dilakukan oleh pemerintah lewat kolaborasi lintas instansi guna mengendalikan, memperketat pengawasan, serta melakukan pencegahan dini di daerah rawan.

Selain itu, upaya pemadaman juga dilakukan oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dengan mengoptimalkan operasi gabungan lewat jalur udara dan darat secara masif.

Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengambil langkah cepat pemadaman di enam provinsi prioritas. Penanganan intensif ini difokuskan untuk menekan dampak kerusakan lingkungan serta meluasnya polusi asap.

Karhutla dapat berujung pada jerat pidana berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kelalaian yang menyebabkan kerusakan lingkungan dapat dikenai maksimal tiga tahun penjara dan denda Rp3 miliar, sementara ancamannya meningkat hingga sembilan tahun penjara dan denda Rp9 miliar jika mengakibatkan luka berat atau kematian.

Tetapi, apabila pelaku sengaja membuka lahan dengan cara membakar, maka hukuman yang dijerat yakni maksimal 10 tahun penjara dan denda Rp10 miliar.

Baca Juga: Menghitung Dampak Karhutla: Dari Kerugian Triliunan Rupiah hingga Mahalnya Udara yang Dihirup

Sumber:

https://pusiknas.polri.go.id/detail_artikel/karhutla,_bencana_paling_banyak_dilaporkan_pada_2026

https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/polar-hotspot

Penulis: Rosita Fatimah Azahra • Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?