Nasional

10 Provinsi dengan Kerawanan Pangan Tertinggi 2025, NTT Paling Parah

Tingkat kerawanan pangan sedang atau berat di Nusa Tenggara Timur menyentuh 13,69% pada 2025, lebih tinggi empat kali lipat dibanding total nasional.

10 Provinsi dengan Kerawanan Pangan Tertinggi 2025, NTT Paling Parah

Ilustrasi Anak-Anak | B. Aristotlè Guweh Jr/Pexels

Kerawanan pangan masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan data prevalensi penduduk dengan kerawanan pangan sedang atau berat tahun 2025, Nusa Tenggara Timur mencatat angka tertinggi dibandingkan provinsi lainnya.

Prevalensi penduduk dengan kerawanan pangan sedang atau berat menggambarkan persentase masyarakat yang mengalami ketidakpastian dalam memperoleh makanan. Kondisi ini juga mencakup pengalaman kelaparan tingkat sedang hingga parah yang dialami setidaknya satu kali dalam 12 bulan terakhir berdasarkan skala pengalaman kerawanan pangan.

Indikator ini mencakup berbagai kondisi, mulai dari kesulitan memperoleh makanan yang cukup dan bergizi, pengurangan porsi atau frekuensi makan akibat keterbatasan akses, hingga pengalaman lapar ekstrem.

Dalam konteks global, indikator kerawanan pangan sedang atau berat menjadi salah satu ukuran dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya indikator 2.1.2 yang berkaitan dengan upaya mengakhiri kelaparan dan memastikan akses terhadap pangan yang aman serta bergizi.

Tingkat kerawanan pangan di NTT tertinggi di Indonesia pada 2025
Tingkat kerawanan pangan di NTT tertinggi di Indonesia pada 2025

Baca Juga: 14 Ribu Desa Masih Gunakan Kayu untuk Memasak, NTT Tertinggi 2025

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi kerawanan pangan sedang atau berat di Indonesia mencapai 4% pada 2025. Hal ini berarti, sekitar empat dari setiap 100 penduduk Indonesia pernah mengalami ketidakpastian dalam memperoleh makanan, setidaknya sekali dalam satu tahun.

Peringkat pertama provinsi dengan tingkat kerawanan pangan sedang atau berat paling tinggi dipegang oleh Nusa Tenggara Timur (NTT). Provinsi ini mencatatkan prevalensi menyentuh 13,69%. Faktor pemicunya antara lain kombinasi geografis, iklim, hingga akses infrastruktur yang terbatas. Kondisi ini menyebabkan tingginya biaya logistik, akibatnya terjadi inflasi harga beras.

Di urutan kedua dan ketiga memiliki latar belakang geografis yang sama, yakni Papua Selatan dan Papua Barat. Masing-masing besaran prevalensi kerawanan pangannya mencapai 11,97% dan 11,29%.

Maluku berada di posisi keempat dengan 9,34%. Pulau Papua kembali mengirimkan perwakilannya di urutan kelima dan keenam, diisi oleh Papua dan Papua Barat Daya yang menyumbang 9,2% dan 9,17%.

Daftar 10 provinsi dengan prevalensi kerawanan pangan sedang atau berat tertinggi di Indonesia juga dilengkapi oleh Sulawesi Tengah (8,11%), Nusa Tenggara Barat (7,93%), Maluku Utara (7,03%), dan Papua Pegunungan (6,72%).

Mirisnya, seluruh provinsi dalam daftar di atas berasal dari wilayah Timur dengan Papua yang paling dominan. Fenomena ini menggambarkan adanya kesenjangan antarwilayah di Indonesia, terutama pada pembangunan dan infrastruktur untuk distribusi.

Kerawanan pangan memiliki dampak serius, mulai dari stunting, gizi buruk, lemahnya sistem kekebalan tubuh, menurunkan produktivitas, masalah sosial, hingga meningkatkan angka kemiskinan suatu negara.

Menyikapi hal ini, pemerintah melalui Menteri Pertanian telah berupaya menjadikan NTT sebagai provinsi swasembada pangan sejak 2025, targetnya maksimal dalam tiga tahun. Harapannya, NTT mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dan mengurangi ketergantungan pada wilayah lain.

Ke depannya, tidak hanya NTT, berbagai daerah dengan tingkat kerawanan pangan tinggi juga perlu mendapatkan perhatian melalui penguatan produksi pangan lokal, peningkatan akses masyarakat terhadap makanan bergizi, serta pembangunan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: 10 Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi per Mei 2026

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTQ3NCMy/prevalensi-penduduk-dengan-kerawanan-pangan-sedang-atau-berat--berdasarkan-pada-skala-pengalaman-kerawanan-pangan--persen-.html

Penulis: Alifia Ayu Fitriana • Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?