Budi daya perikanan adalah proses pemeliharaan hingga panen ikan dalam lingkungan terkontrol yang membutuhkan pengelolaan optimal pada berbagai sarana produksinya.
Kondisi usaha pembudidaya ikan turut dipengaruhi oleh perubahan harga hasil produksi dan berbagai pengeluaran selama kegiatan budi daya.
Perbandingan keduanya dapat dilihat melalui nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi) dalam Rilis Data Kelautan dan Perikanan Triwulan II 2026 yang disusun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Bagaimana Nilai Tukar Pembudidaya Ikan Diukur?
NTPi dihitung dengan membandingkan indeks harga yang diterima (It) dan indeks harga yang dibayar pembudidaya ikan (Ib).
It menggambarkan perubahan harga komoditas hasil budi daya yang mencakup tiga kelompok, yakni budi daya air tawar, laut, dan air payau.
Adapun Ib mencakup pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga (KRT) serta biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM).
Selain NTPi, ada pula nilai tukar usaha pembudidaya ikan (NTUPi) yang digunakan untuk melihat perkembangan kegiatan usaha pembudidaya ikan dari sisi produksi dan biaya yang berkaitan dengan operasional budi daya.
Keduanya digunakan untuk melihat perkembangan pembudidaya ikan dari sudut pandang yang berbeda. NTUPi menitikberatkan pada kegiatan usaha, sedangkan NTPi mencakup kondisi pembudidaya secara lebih luas.
NTUPi dan NTPi menggunakan tahun dasar 2018 dengan angka 100 sebagai acuan. Apabila skornya di atas angka tersebut, maka daya beli dan kesejahteraan pembudidaya meningkat karena pendapatan lebih besar dari pengeluaran, sedangkan skor di bawah 100 menunjukkan sebaliknya.
Pergerakan NTUPi dan NTPi Triwulan II 2026
NTUPi membukukan 109,69 poin pada Triwulan II 2026 dan terpantau tidak mengalami perubahan dibandingkan Triwulan I 2026.
Secara bulanan, NTUPi turun dari 110,60 pada April menjadi 109,57 pada Mei dan 108,91 pada Juni 2026.
Kondisi serupa dialami oleh NTPi yang berada di angka 106,38 poin atau terkoreksi tipis 0,02%.
Pergerakan secara bulanannya melandai dari 107,22 di April, bergeser ke 106,25 pada Mei, lalu ditutup pada level 105,69 pada Juni 2026.
Baca Juga: Tren Produksi Perikanan Nasional 2021-2026, Subsektor Budi Daya Jadi Tulang Punggung
Komponen Indeks Harga yang Diterima Pembudidaya Ikan Triwulan II 2026
Pergerakan harga hasil budi daya terekam lewat It yang mencapai 133,09 poin pada Triwulan II 2026, meningkat 1,10% dibandingkan Triwulan I 2026.
Sepanjang periode ini, angka It tercatat 133,52 pada April, kemudian turun menjadi 132,91 pada Mei dan kembali melemah ke 132,84 pada Juni 2026.
Kelompok budi daya air tawar mengoleksi 122,83 poin berkat lonjakan yang cukup baik sebesar 1,53%.
Menilik lebih jauh, budi daya air tawar bergerak dari 122,72 selama bulan April, bergeser tipis ke 122,61 pada Mei, sebelum akhirnya melompat ke titik tertingginya yaitu 123,16 pada Juni 2026.
Selanjutnya, ada kelompok budi daya laut yang meraih 121,67 poin usai menguat 0,93%.
Pola unik tampak dari mengendurnya angka 121,36 di bulan April menjadi 120,31 pada Mei, dan langsung melesat ke level 123,33 pada Juni 2026.
Budi daya air payau keluar sebagai penyumbang indeks tertinggi dengan raihan 134,25 poin atau menanjak 0,41% dari periode lalu.
Secara bulanannya kelompok ini justru menampilkan penurunan beruntun dari 135,04 pada April, melandai ke 134,23 di bulan Mei, hingga mendarat pada 133,46 di penghujung Juni 2026.
Pergerakan harga hasil budi daya berjalan seiring dengan berbagai langkah untuk memperkuat usaha pembudidaya. KKP memberikan pendampingan pembuatan pakan mandiri bagi pembudidaya ikan patin dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang lebih ekonomis.
Penggunaan pakan dengan biaya yang lebih terjangkau dapat membantu menekan pengeluaran produksi, sehingga selisih antara penerimaan dan biaya usaha dapat lebih terjaga dan pembudidaya memperoleh hasil yang lebih optimal di tengah fluktuasi harga komoditas budi daya.
Komponen Indeks Harga yang Dibayar Pembudidaya Ikan Triwulan II 2026
Pergerakan berikutnya terlihat pada Ib yang ditanggung pembudidaya di level 125,11 poin pada Triwulan II 2026, atau meningkat 1,12% dibandingkan Triwulan I 2026.
Perolehan bulanan indeks ini konsisten merayap naik dari 124,54 pada April, bergeser ke 125,10 pada Mei, lalu merapat di angka 125,69 pada Juni 2026.
Kontribusi terbesar disumbang oleh konsumsi rumah tangga dengan 129,13 poin pada Triwulan II 2026 usai mengalami kenaikan 1,12%.
Raihan bulanannya terus mendaki dari 128,61 pada April, berlanjut ke 129,14 pada Mei, hingga puncaknya sebesar 129,63 di penghujung Juni 2026.
Di sisi lain, BPPBM berada pada posisi 121,34 poin secara triwulanan setelah tumbuh 1,10%.
Jejak bulanan BPPBM turut menanjak, bermula dari 120,73 pada April, bergeser ke 121,31 pada Mei, dan ditutup pada angka 121,98 di bulan Juni 2026.
Kenaikan pengeluaran ini di periode selanjutnya baiknya dapat ditekan melalui beberapa aksi. Misalnya, di Kabupaten Cilacap, KKP membekali pembudidaya udang dan ikan dengan teknologi budi daya modern melalui praktik pengelolaan kualitas air, biosekuriti, serta strategi peningkatan produktivitas.
Pendampingannya mencakup budi daya udang vaname, bandeng, nila salin, dan kepiting bakau melalui penerapan teknologi adaptif untuk mendukung peningkatan produksi serta kesejahteraan pelaku usaha budi daya.
Baca Juga: 7 Komoditas Perikanan Budi Daya dengan Produksi Terbesar Triwulan II 2026, Nila Pimpin Produksi
Sumber:
https://portaldata.kkp.go.id/portals/publikasi/rilis