Sosial

10 Korporasi Konsesi Penyumbang Titik Api Karhutla Terbanyak di Kalimantan 2026

Menelusuri jejak korporasi penyulut api karhutla di Kalimantan, mulai dari keluarga konglomerat hingga terafiliasi langsung dengan Presiden Prabowo sendiri.

10 Korporasi Konsesi Penyumbang Titik Api Karhutla Terbanyak di Kalimantan 2026

Ilustrasi bencana karhutla | Fachy Marin/Unsplash

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membabat Borneo. Setelah sempat membara hebat akibat gelombang fenomena iklim El Nino pada tahun 2023, si jago merah kini kembali menyerang kawasan hutan dan lahan gambut di Pulau Kalimantan.

Pada puncak karhutla September 2023 lalu, Pantau Gambut mencatat total titik api (hotspot) di Kalimantan menyentuh angka 31.696 titik.

Kalimantan Tengah kala itu menjadi daerah terparah dengan banyak 21.559 titik panas, disusul Kalimantan Barat yang mencatatkan 6.308 titik serta Kalimantan Selatan dengan angka 2.885 hotspot.

Kendati faktor cuaca dan fenomena alam kerap dituding sebagai pemicu utama, potensi keterlibatan aktivitas manusia tetap menjadi sorotan yang tak bisa diabaikan, khususnya praktik pembukaan lahan secara masif oleh korporasi.

10 Perusahaan Konsesi dengan Hotspot Terbanyak di Kalimantan

Berdasarkan kompilasi data yang dihimpun oleh Counterpoint, dengan menggabungkan sebaran titik panas dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) Fire Information for Resource Management System (FIRMS) dengan peta spasial konsesi kehutanan Auriga Nusantara, tercatat ada 10 korporasi pemegang izin yang menyumbang titik api karhutla terbanyak di Kalimantan.

10 perusahaan konsesi di Kalimantan dengan keberadaan titik api terbanyak dalam wilayahnya | GoodStats
10 perusahaan konsesi di Kalimantan dengan keberadaan titik api terbanyak dalam wilayahnya | GoodStats

Daftar entitas bisnis ini memotret dinamika kepemilikan yang beragam. Penguasa di balik konsesi lahan tersebut berasal dari kelompok Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kehutanan, jajaran keluarga konglomerat Indonesia, hingga bisnis yang terafiliasi dengan lingkaran inti Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto.

1. PT Hutan Ketapang Industri (Kalimantan Barat)

PT Hutan Ketapang Industri (HKI) merupakan pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) yang berfokus pada komoditas karet dan biomassa. Dahulu bernama PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia, mayoritas sahamnya diakuisisi oleh PT Sampoerna Agro Tbk pada 2012 melalui anak usahanya, PT Sungai Menang.

Pada November 2025, Sampoerna Agro mengalihkan 80% kepemilikan HKI ke Sampoerna Agri Resources Pte. Ltd. Pemilik manfaat perusahaan ini terhubung pada Putera Sampoerna, salah satu konglomerat Indonesia yang menempati posisi ke-32 orang terkaya versi Forbes tahun 2025 dengan total kekayaan US$2,5 miliar.

Perusahaan ini memiliki riwayat kelam dalam penegakan hukum lingkungan. Izin lahannya sempat dibekukan 3-5 tahun oleh Gubernur Kalbar 2018-2023, Sutarmidji, akibat karhutla 2019.

Sepanjang pemantauan kali ini, area operasional PT HKI menjadi yang terparah dengan keberadaan titik api mencapai 1.796 hotspot.

2. PT Inhutani I Unit Labanan (Kalimantan Timur)

Beroperasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, unit bisnis ini merupakan anak usaha BUMN Perum Perhutani Group. Fokus operasinya meliputi pengelolaan hutan alam, perencanaan kehutanan, serta ekowisata.

Meskipun dikelola oleh negara, luasnya area konsesi di tengah tantangan pengawasan lapangan membuat wilayah ini terkena amukan api. Adapun total temuan pada pemantauan karhutla periode Agustus 2026 di wilayah konsesi ini mencapai 1.025 hotspot.

3. PT Kiani Lestari (Kalimantan Timur)

PT Kiani Lestari mengelola kawasan HTI dan industri kayu serta kertas di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Secara historis, perusahaan ini dulunya bagian dari Grup Kalimanis milik pengusaha era Orde Baru, Bob Hasan.

Pada tahun 2004, aset Kiani diambil alih oleh Prabowo Subianto bersama adiknya, Hashim Djojohadikusumo di bawah bendera Nusantara Energy Group. Saat ini, struktur pemilik manfaat perusahaan mencatatkan nama Direktur Umum (Dirut) Pertamina sekaligus politikus Partai Gerindra, Simon Aloysius Mantiri.

Keterikatan historis dan kepemilikan ini menempatkan PT Kiani Lestari berada langsung dalam lingkaran bisnis keluarga Presiden Prabowo Subianto. Tercatat ada 938 titik api yang berada di dalam area konsesi ini.

Baca Juga: Luas Kebakaran Hutan Kalimantan Tembus 57 Ribu Ha hingga Juni 2026

4. PT Grace Putri Perdana (Kalimantan Tengah)

Memegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, perusahaan swasta ini mencatatkan nama Citra Gunawan sebagai pemilik manfaat. Citra diketahui merupakan jajaran direksi di berbagai entitas bisnis milik keluarga Fangiono.

Fangiono sendiri merupakan salah satu keluarga penguasa bisnis kelapa sawit yang namanya masuk dalam jajaran keluarga terkaya di Indonesia versi Forbes 2025, dengan kekayaan US$3,05 miliar (2025). Di dalam hamparan area konsesi ini, terdeteksi kemunculan 933 hotspot penyebab karhutla.

5. PT Finnantara Intiga (Kalimantan Barat)

Berlokasi di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, PT Finnantara Intiga mengoperasikan lahan HTI pemasok serat kayu pulp dan kertas di bawah naungan raksasa industri Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas.

Pemilik manfaatnya terhubung pada Jackson Wijaya Limantara, generasi ketiga dari keluarga Widjaja, yaitu keluarga terkaya ketiga di Indonesia kekayaan US$28,3 miliar.

Lahan konsesi Finnantara Intiga memiliki rekam jejak pengawasan ketat dan berulang kali disegel oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), terutama pada peristiwa karhutla di Kalimantan tahun 2015 dan 2019. Terkini, satelit memantau wilayah kerjanya menyumbang sebanyak 877 titik api.

6. PT Wanakerta Ekalestari (Kalimantan Barat)

PT Wanakerta Ekalestari adalah entitas swasta pemegang izin HTI di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Perusahaan ini beroperasi sebagai salah satu mitra pemasok jangka panjang bahan baku kayu untuk kebutuhan industri APP Group.

Luasnya konsesi lahan di areal gambut menjadikan area operasionalnya amat rentan terhadap rambatan api pada musim kemarau, dibuktikan dengan kemunculan 830 hotspot di wilayahnya dalam periode Agustus 2026 ini.

7. PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Kalimantan Barat)

Perusahaan kehutanan ini memegang izin pemanfaatan lahan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat dengan fokus pembukaan ekosistem gambut. Perusahaan ini pernah menjadi sorotan publik dan diganjar sanksi penghentian aktivitas oleh KLHK pada tahun 2017 akibat terbukti melakukan pembukaan kanal ilegal (canal blocking) di lahan gambut dalam yang memicu kerentanan kebakaran.

Dalam periode 5-21 Agustus 2026, sebanyak 750 titik api tercatat membara di dalam kawasan konsesi perusahaan ini.

8. PT Prima Bumi Sentosa (Kalimantan Barat)

Beroperasi di sektor pemanfaatan hasil hutan kayu HTI di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, PT Prima Bumi Sentosa merupakan salah satu korporasi swasta menengah yang mengelola kawasan hutan produksi.

Minimnya transparansi struktur kepemilikan publik pada perusahaan swasta tertutup seperti ini menjadi tantangan tersendiri dalam memetakan pertanggungjawaban penanganan bencana karhutla, terlebih dengan adanya temuan 767 hotspot di lahan operasional mereka.

9. PT Inhutani III Unit Nanga Pinoh (Kalimantan Barat)

Unit kerja BUMN kehutanan ini berlokasi di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Mengelola area HPH/HTI, kawasan ini berada dalam radar evaluasi instansi pemerintah akibat tingginya intensitas kebakaran yang menyumbang 672 titik api di dalam batas teritorial konsesinya.

10. PT Inhutani I Unit Sambarata (Kalimantan Timur)

Korporasi ini merupakan unit lain dari PT Inhutani I yang beroperasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Serupa dengan unit Labanan, kawasan hutan produksi yang dikelola oleh BUMN ini menghadapi kerentanan tinggi terhadap ancaman karhutla yang turut memicu timbulnya 621 hotspot di dalam wilayahnya.

Data ini menegaskan bahwa Kalimantan Barat menjadi wilayah paling dominan terserang bencana karhutla pada Agustus 2026 ini. Dari 10 korporasi penyumbang titik api terbanyak, sebanyak 6 perusahaan berlokasi di Kalimantan Barat.

Dominasi ini sejalan dengan peta sebaran titik panas di Kalimantan sepanjang periode 5-21 Agustus 2026. Dari total 115.314 titik api yang terdeteksi di seluruh Pulau Kalimantan, Kalimantan Barat menyumbang hampir separuhnya, yaitu hingga 55.699 titik atau dengan proporsi 48,3%.

Dalam bencana karhutla di Pulau Kalimantan pada Agustus 2026, Kalbar jadi provinsi dengan hotspot terbanyak (55.699 titik api) | GoodStats
Dalam bencana karhutla di Pulau Kalimantan pada Agustus 2026, Kalbar jadi provinsi dengan hotspot terbanyak (55.699 titik api) | GoodStats

Di urutan kedua, Kalimantan Tengah mencatatkan jumlah hotspot sebanyak 33.040 titik, atau sebesar 28,65% dari jumlah titik api di Pulau Kalimantan.

Sementara itu, banyaknya hotspot dari Kalimantan Timur mencapai 11,71% atau sebanyak 13.504 titik api, disusul oleh Kalimantan Selatan yang mencatatkan 10.474 hotspot dengan proporsi 9,08%.

Terakhir, Kalimantan Utara menjadi provinsi dengan jumlah titik api yang paling sedikit jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Pulau Kalimantan. Provinsi ini hanya mencatatkan banyaknya hotspot 2.597 titik per 21 Agustus 2026, atau dengan persentase 2,25% dari total titik api di Kalimantan.

Secara keseluruhan, bencana karhutla di Kalimantan per Agustus 2026 telah berdampak pada 272 wilayah konsesi dengan perkiraan total area terpapar mencapai 14,53 juta hektare. Tingginya sebaran titik api di area konsesi korporasi ini mempertegas perlunya ketegasan penegakan hukum lingkungan serta transparansi tata kelola izin kehutanan di Indonesia.

Adapun data persebaran titik api dan konsesi terdampak dalam artikel ini diakses pada 24 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB. Jumlah titik api dan estimasi luas area terdampak dapat berubah sewaktu-waktu, menyesuaikan pembaruan perhitungan data secara real-time di lapangan.

Baca Juga: Tren Luas Karhutla di Indonesia, per Maret 2026 Hampir Seluas Jakarta

Sumber:

https://app.counterpoint.id/fire

Key Insights

  • Peningkatan signifikan jumlah hotspot dari 31.696 titik pada September 2023 menjadi 115.314 per Agustus 2026 menunjukkan kerentanan Kalimantan terhadap karhutla.
  • Konsentrasi karhutla di Kalimantan Barat (55.699 titik) mengindikasikan faktor geografis atau aktivitas spesifik di wilayah tersebut yang memperparah kebakaran.
  • Keterlibatan 10 perusahaan konsesi dalam daftar hotspot terbanyak menyoroti peran aktivitas manusia, termasuk korporasi, sebagai pemicu karhutla di samping faktor alam.
  • Keberadaan BUMN, konglomerat, dan afiliasi politik di antara pemilik konsesi dengan hotspot terbanyak menunjukkan kompleksitas dan tantangan dalam penegakan hukum lingkungan.
  • Riwayat pembekuan izin PT HKI akibat karhutla 2019, namun masih menjadi yang terparah dengan 1.796 hotspot, mengindikasikan kurangnya efektivitas sanksi sebelumnya.

Penulis: Shahibah A Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?