Nasional

10 Hewan Paling Langka di Indonesia dan Jumlah Populasinya, Ada yang Tinggal Puluhan Ekor

Simak daftar 10 hewan paling langka di Indonesia beserta estimasi populasinya. Beberapa spesies bahkan hanya tersisa puluhan ekor.

10 Hewan Paling Langka di Indonesia dan Jumlah Populasinya, Ada yang Tinggal Puluhan Ekor

Ilustrasi Badak Jawa | Pexels

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, Indonesia menjadi habitat bagi ribuan spesies mamalia, burung, reptil, amfibi, hingga ikan yang sebagian besar bersifat endemik atau hanya dapat ditemukan di wilayah Nusantara.

Di balik kekayaan tersebut, banyak satwa endemik Indonesia yang kini berada di ambang kepunahan. Hilangnya habitat akibat deforestasi, perburuan liar, perdagangan satwa ilegal, hingga konflik dengan manusia menyebabkan populasi sejumlah spesies terus menurun dari tahun ke tahun. Bahkan, beberapa di antaranya diperkirakan hanya tersisa puluhan ekor di alam liar.

Berdasarkan data yang dihimpun dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, Kementerian Kehutanan, serta berbagai lembaga konservasi, berikut daftar hewan paling langka di Indonesia beserta estimasi jumlah populasinya.

Baca Juga: Jejak 'Lost World' 12.000 Tahun Lalu di Sumba, Hewan Purba yang Pernah Hidup di Indonesia Timur

Daftar Hewan Paling Langka di Indonesia Beserta Jumlah Populasinya

Berikut merupakan beberapa satwa paling langka di Indonesia yang populasinya terus dipantau oleh pemerintah dan lembaga konservasi internasional.

10 Hewan Langka yang Terancam Punah
10 Hewan Langka yang Terancam Punah | GoodStats

Penelitian IUCN Red List mengkategorikan status konservasi spesies ke dalam sembilan kategori berdasarkan tingkat risiko kepunahannya. Dari sembilan kategori tersebut, terdapat tiga kategori utama satwa terancam punah, yaitu Rentan (Vulnerable/VU), Terancam (Endangered/EN), dan Kritis (Critically Endangered/CR).

Semakin tinggi tingkat ancamannya, semakin besar risiko suatu spesies mengalami kepunahan di alam liar. Berikut penjelasan masing-masing satwa berdasarkan estimasi populasinya, mulai dari yang paling sedikit.

1. Badak Jawa

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan hewan paling langka di Indonesia sekaligus salah satu mamalia paling langka di dunia. Seluruh populasi liar spesies ini kini hanya ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Berdasarkan hasil pemantauan terbaru dari IUCN, jumlahnya diperkirakan sekitar 18 ekor, sehingga masuk dalam kategori Critically Endangered (Kritis).

Populasi yang terkonsentrasi di satu lokasi membuat Badak Jawa sangat rentan terhadap bencana alam, wabah penyakit, maupun berkurangnya kualitas habitat. Karena itu, spesies ini menjadi salah satu prioritas utama program konservasi pemerintah.

2. Badak Sumatra

Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan badak terkecil di dunia dan satu-satunya badak Asia yang memiliki rambut pada tubuhnya. Satwa ini hidup di beberapa kawasan hutan Sumatra dan Kalimantan dengan populasi diperkirakan hanya 30 ekor.

Penurunan populasinya dipicu oleh tiga ancaman utama, yaitu ukuran populasi yang sangat kecil sehingga rentan terhadap perkawinan sedarah, hilangnya habitat akibat aktivitas manusia dan pembangunan, serta perburuan liar yang didorong oleh tingginya permintaan cula badak di pasar gelap internasional. Akibat berbagai ancaman tersebut, Badak Sumatra kini menjadi salah satu mamalia paling terancam punah di dunia.

3. Elang Jawa

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dikenal sebagai inspirasi lambang negara Garuda Pancasila. Burung pemangsa endemik Pulau Jawa ini diperkirakan hanya memiliki 300–500 ekor di alam liar sehingga masuk dalam kategori Endangered (Terancam).

Ancaman utama Elang Jawa berasal dari hilangnya habitat akibat deforestasi serta perburuan untuk diperdagangkan sebagai satwa peliharaan. Oleh karena itu, spesies ini telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi dan menjadi salah satu fokus program konservasi di Indonesia.

4. Jalak Bali

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) merupakan burung endemik Pulau Bali yang dikenal dengan bulu putih bersih dan lingkar mata berwarna biru. Populasinya di alam liar diperkirakan kurang dari 400 ekor sehingga masih berstatus Critically Endangered (Kritis).

Burung ini pernah berada di ambang kepunahan akibat maraknya perdagangan satwa liar. Berkat program penangkaran dan pelepasliaran, populasinya perlahan mulai meningkat meski masih sangat rentan.

5. Harimau Sumatra

Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu-satunya subspesies harimau yang masih bertahan di Indonesia setelah Harimau Jawa dan Harimau Bali dinyatakan punah. Populasinya diperkirakan sekitar 600 ekor yang tersebar di berbagai kawasan konservasi di Pulau Sumatra.

Perburuan liar untuk diperdagangkan serta konflik dengan manusia menjadi faktor utama yang menyebabkan jumlahnya terus menurun.

6. Orangutan Tapanuli

Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies orangutan yang baru diidentifikasi pada 2017. Habitatnya hanya berada di kawasan Batang Toru, Sumatera Utara sehingga termasuk spesies endemik Indonesia.

Saat ini populasinya diperkirakan hanya sekitar 800 ekor, menjadikannya salah satu kera besar paling langka di dunia. Pembukaan hutan untuk pembangunan infrastruktur, perburuan, dan perdagangan ilegal menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup spesies ini.

7. Gajah Sumatra

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) memiliki populasi sekitar 2.400–2.800 ekor di alam liar. Satwa ini hidup di sejumlah kawasan hutan Sumatra yang terus mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan.

Konflik antara gajah dan manusia semakin sering terjadi ketika kawanan gajah memasuki kebun atau permukiman untuk mencari makanan. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar dalam upaya konservasi.

8. Komodo

Komodo (Varanus komodoensis) merupakan kadal terbesar di dunia yang hanya ditemukan secara alami di Nusa Tenggara Timur, terutama di Pulau Komodo, Rinca, Gili Motang, Flores, dan Padar. Populasi komodo dewasa diperkirakan mencapai sekitar 3.400 ekor.

Meskipun jumlahnya relatif lebih banyak dibanding beberapa satwa lain dalam daftar ini, hewan purba ini tetap masuk kategori Endangered (Terancam) akibat ancaman perubahan iklim, kenaikan permukaan laut, serta degradasi habitat.

9. Anoa

Anoa merupakan mamalia endemik Sulawesi yang terdiri atas anoa dataran rendah dan anoa pegunungan. Populasinya diperkirakan kurang dari 5.000 ekor di alam liar.

Perburuan untuk diambil daging maupun tanduknya serta kerusakan habitat menyebabkan jumlah anoa terus mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir.

10. Bekantan

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata berhidung panjang yang menjadi ikon Pulau Kalimantan. Satwa ini hidup di kawasan hutan mangrove, rawa, dan tepian sungai dengan populasi diperkirakan sekitar 20.000 ekor.

Meski jumlahnya lebih besar dibanding satwa lain dalam daftar ini, populasi bekantan terus menurun akibat berkurangnya hutan mangrove dan pembukaan lahan di Kalimantan.

Mengapa Banyak Hewan Langka di Indonesia Terancam Punah?

Penurunan populasi hewan langka Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Berikut beberapa penyebab utamanya.

1. Hilangnya habitat akibat deforestasi

Pembukaan hutan untuk perkebunan, pertambangan, pembangunan infrastruktur, dan permukiman mengurangi habitat alami berbagai satwa liar. Fragmentasi hutan membuat populasi satwa menjadi terpisah sehingga sulit berkembang biak.

2. Perburuan dan perdagangan satwa liar

Perburuan untuk diambil bagian tubuhnya maupun diperdagangkan sebagai satwa peliharaan ilegal masih menjadi ancaman besar. Harimau Sumatra, Jalak Bali, hingga berbagai jenis burung endemik menjadi target perdagangan satwa liar.

3. Alih fungsi lahan

Perubahan kawasan hutan menjadi lahan pertanian atau perkebunan menyebabkan satwa kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung. Kondisi ini juga meningkatkan kemungkinan satwa memasuki kawasan permukiman.

4. Perubahan iklim

Perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, dan meningkatnya frekuensi bencana alam turut memengaruhi kondisi habitat serta ketersediaan pakan bagi berbagai spesies.

5. Konflik antara manusia dan satwa

Ketika habitat menyusut, satwa seperti gajah dan harimau semakin sering memasuki kebun maupun permukiman warga. Konflik yang terjadi tidak jarang berujung pada kematian satwa maupun kerugian bagi masyarakat.

Upaya Konservasi untuk Menyelamatkan Satwa Langka Indonesia

Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah bersama organisasi konservasi untuk melindungi satwa langka di Indonesia.

1. Penetapan kawasan konservasi

Pemerintah menetapkan berbagai taman nasional, suaka margasatwa, dan cagar alam sebagai habitat penting bagi satwa liar. Contohnya Taman Nasional Ujung Kulon sebagai habitat Badak Jawa dan Taman Nasional Komodo sebagai rumah bagi komodo.

2. Program penangkaran satwa

Program penangkaran dilakukan untuk meningkatkan populasi spesies yang terancam punah. Salah satu contoh keberhasilannya adalah Jalak Bali yang populasinya mulai meningkat melalui program penangkaran dan pelepasliaran.

3. Penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal

Pemerintah bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan aparat penegak hukum terus memperketat pengawasan terhadap perburuan dan perdagangan satwa liar yang dilindungi.

4. Restorasi habitat

Rehabilitasi hutan dan pemulihan ekosistem dilakukan agar satwa memiliki habitat yang aman untuk berkembang biak sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

5. Edukasi dan pelibatan masyarakat

Keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan masyarakat melalui edukasi lingkungan, pengembangan ekowisata berkelanjutan, serta pelaporan aktivitas perdagangan satwa liar.

Baca Juga: Taman Nasional Komodo Batasi Kuota 1.000 Wisatawan per Hari, Solusi Nyata atau Sekadar Penyesuaian Angka?

Sumber:

https://www.iucnredlist.org/search

 

Penulis: Helni Sadiyah Editor: Muhammad Sholeh

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?