Gedung Senayan kembali sarat akan dinamika politik. Perhatian publik kali ini tertuju pada dua figur penting pemerintahan, yaitu Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia (RI) Sjafrie Sjamsoeddin dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Sufmi Dasco Ahmad.
Kedua tokoh ini kerap dikaitkan dengan berbagai manuver politik, terutama dalam merespons ketegangan institusional antara pihak kepolisian dan kejaksaan terkait penanganan kasus hukum.
Salah satunya dalam kasus teranyar, yaitu dugaan tindak pidana korupsi yang menyeret Mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Keduanya disebut memiliki andil dalam pembahasan kasus tersebut, termasuk melobi agar penanganannya diserahkan sepenuhnya ke pihak kejaksaan.
Di balik kiprah politik mereka yang strategis, aspek transparansi finansial dari kedua pejabat tinggi ini menarik untuk ditelusuri. Rincian harta kekayaan pejabat negara dapat diakses secara terbuka melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dikelola oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.
Laporan yang diperbarui secara berkala setiap tahunnya ini menyajikan data untuk memantau perkembangan nilai aset para abdi negara.
Berdasarkan catatan pelaporan tahun 2025, terdapat perbedaan rentang nilai aset yang cukup signifikan antara kekayaan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan harta Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Total harta Menhan Sjafrie mendominasi dengan nilai aset menembus angka Rp105.786.309.785.
Sementara itu, total kekayaan Wakil Ketua DPR Dasco tercatat berada di angka Rp81.642.193.033. Jika dibandingkan, nominal aset Sjafrie jauh lebih mendominasi, mencapai 1,3 kali lipat lebih besar dibandingkan kekayaan yang dimiliki oleh Dasco.
Kendati demikian, jika membedah lebih dalam mengenai proporsi jenis hartanya, terlihat perbedaan strategi pengelolaan finansial yang kontras di antara kedua tokoh ini.
Menhan Sjafrie terlihat memusatkan portofolionya pada instrumen tak bergerak. Proporsi tanah dan bangunan menjadi pilar penyokong terbesar yang menyumbang 94,2% dari total kekayaannya, atau setara dengan Rp99.653.705.000.
Di posisi kedua, kepemilikan alat transportasi dan mesin turut menopang dengan porsi 3,6% senilai Rp3.756.000.000. Aset tersebut kemudian diikuti oleh simpanan kas dan setara kas sebesar 2,2% dengan nominal mencapai Rp2.376.604.785.
Uniknya, LHKPN mencatat Sjafrie murni hanya memiliki kekayaan dari ketiga unsur tersebut, tanpa adanya portofolio surat berharga maupun harta bergerak lainnya.
Hal ini berbeda dengan Dasco yang menyebarkan asetnya pada seluruh instrumen pelaporan, meski sama-sama menjadikan tanah dan bangunan sebagai fondasi utama, yaitu mencapai 48,7% atau senilai Rp39.748.278.000.
Selain itu, Dasco memiliki manajemen likuiditas yang jauh lebih besar. Cadangan kas dan setara kas miliknya mengambil porsi 30,8% atau setara dengan Rp25.148.880.615.
Sementara itu, alat transportasi serta mesin yang bertengger di garasi Wakil Ketua DPR ini mencakup 6,2% dari total hartanya, atau senilai Rp 5.025.000.000. Adapun harta bergerak lainnya sedikit lebih besar daripada alat transportasi yang dimiliki Dasco, menempati proporsi 7% dengan nilai Rp 5.720.466.382.
Untuk jangka panjang, Dasco juga berinvestasi pada surat berharga senilai Rp 3.886.611.520 dengan proporsi 4,8% dari keseluruhan kekayaan. Di luar dari kategori tersebut, Sufmi Dasco Ahmad juga memiliki aset berupa harta lainnya dengan persentase sebesar 2,6% atau seharga Rp2.112.956.516.
Menariknya, catatan LHKPN tahun 2025 menunjukkan bahwa kedua pejabat negara ini berstatus bersih dari kewajiban utang.
Dengan ini, disimpulkan bahwa strategi pengelolaan harta kekayaan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin tampak lebih berfokus pada instrumen fisik dan tak bergerak.
Beliau cenderung mengalokasikan asetnya pada properti tanah dan bangunan sebagai fondasi kekayaan utama yang kemudian hanya disokong oleh koleksi alat transportasi serta sebagian kecil simpanan kas dan setara kas.
Strategi finansial ini berbanding terbalik dengan kekayaan Sufmi Dasco Ahmad. Wakil Ketua DPR tersebut lebih memilih untuk melakukan diversifikasi dengan menyebarkan portofolio asetnya ke dalam berbagai kategori.
Meski sama-sama menjadikan properti sebagai instrumen investasi utama, rincian harta Dasco didukung kuat oleh cadangan simpanan kas likuid yang besar serta kepemilikan harta bergerak lainnya.
Baca Juga: 10 Pejabat Publik Terkaya di Kabinet Merah Putih
Kekayaan Tanah Bangunan dan Kendaraan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin
Dokumen LHKPN turut memberikan rincian lengkap mengenai spesifikasi aset fisik milik Sjafrie Sjamsoeddin. Dari total properti senilai Rp99,6 miliar, Sjafrie tercatat hanya memiliki tiga bidang tanah dan bangunan. Meski jumlahnya sedikit, nilai per asetnya cukup prestisius.
Properti termahal milik Sjafrie berada di wilayah Jakarta Selatan (Jaksel) dengan nilai mencapai Rp55.894.875.000. Aset berupa tanah dan bangunan ini memiliki spesifikasi luas tanah 867 m2 dan luas bangunan 1.000 m2.
Masih di kawasan yang sama, ia memiliki properti lain seluas 826 m2/244 m2 senilai Rp30.958.830.000. Sementara itu, aset murni berupa tanah seluas 80.000 m2 senilai Rp12.800.000.000 berlokasi di Bogor.
Beralih ke segmen otomotif, isi garasi Menhan Sjafrie Sjamsoeddin diisi oleh tiga unit kendaraan dengan total nilai yang menembus Rp3,7 miliar. Mobil termahalnya adalah sedan asal Jerman, yaitu BMW (2024) seharga Rp1.564.000.000.
Masih dari tahun rakitan yang sama, ia juga memiliki Lexus Minibus (2024) senilai Rp1.421.000.000. Terakhir, ia menyimpan Toyota Alphard (2021) yang menjadi mobil termurahnya dengan harga Rp771.000.000.
Seberapa Kaya Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad?
Meski tak melampaui Sjafrie, harta kekayaan Sufmi Dasco Ahmad di sektor properti mencatatkan jumlah unit yang lebih banyak. Total aset propertinya menyentuh Rp39,7 miliar yang tersebar di beberapa titik, dengan sebagian besar berada di wilayah Jakarta Pusat (Jakpus).
Aset properti berwujud tanah dan bangunan termahal milik Wakil Ketua DPR ini seluas 292 m2/180 m2 yang berada di Jakpus dengan nilai Rp9.200.000.000. Ia juga memiliki aset di Bandar Lampung seluas 842 m2/136 m2 dengan harga Rp4.000.000.000.
Adapun properti termurah Dasco berupa tanah dan bangunan berada di Tangerang Selatan (Tangsel) dan juga Tangerang, berturut-turut seluas 261 m2/271 m2 dan 54 m2/135 m2.
Di Tangsel, harga propertinya sebesar Rp2.185.854.000, sedikit lebih besar daripada properti Dasco yang terletak di Tangerang dengan harga Rp1.500.000.000.
Meninjau dari isi garasinya, koleksi kendaraan Dasco lebih banyak dengan memamerkan lima buah mobil, tidak seperti Sjafrie yang hanya tiga unit.
Koleksi kendaraan Dasco juga memperlihatkan selera yang unik. Ia memadukan kendaraan fungsional modern dengan pesona mobil antik. Dari total lima unit mobil yang dimilikinya, Toyota Century (2022) menjadi yang paling mahal dengan nilai Rp4.500.000.000.
Di lini mobil klasik, Dasco mengoleksi Jaguar XJ8L (2008) seharga Rp175.000.000, Volkswagen 1500 (1978) senilai Rp150.000.000, hingga Bentley Brooklands (1997) yang bernilai Rp120.000.000.
Menutup koleksinya, terdapat Volvo S80 (2008) senilai Rp80.000.000 yang sekaligus menjadi mobil Dasco dengan harga yang paling murah. Selain itu, mobil Volvo ini didapatkan melalui tax amnesty atau pengampunan pajak.
Tax amnesty merupakan program pemerintah yang memberikan kesempatan bagi wajib pajak untuk melaporkan harta kekayaannya yang selama ini belum diungkap, dengan imbalan berupa penghapusan pajak terutang maupun pembebasan dari sanksi administrasi dan pidana perpajakan melalui pembayaran sejumlah uang tebusan.
Baca Juga: Menilik Kekayaan Febrie Adriansyah dan Rudi Margono
Sumber:
https://elhkpn.kpk.go.id