Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kembali menjadi sorotan pada 2026. Berdasarkan data terbaru Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), jumlah PHK di Indonesia selama periode Januari–April 2026 mencapai 15.425 orang. Angka tersebut melonjak sekitar 84% dibandingkan periode Januari–Maret 2026 dan menunjukkan bahwa kondisi ketenagakerjaan nasional sedang tidak baik-baik saja.
Kenaikan angka PHK Indonesia ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari perlambatan ekonomi global, melemahnya daya beli masyarakat, hingga konflik geopolitik dunia seperti perang di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok dan biaya produksi industri. Akibatnya, banyak perusahaan melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk mengurangi jumlah pekerja.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dalam laporan dari serikat buruh beberapa pekan terakhir, menyebut 10 perusahaan yang melakukan PHK terbesar muncul dari sektor manufaktur hingga industri padat karya.
10 Provinsi dengan Angka PHK Tertinggi Januari-April 2026
Baca Juga: Jurang Kesenjangan Ekonomi Melebar Menurut Publik RI, Bagaimana Datanya?
Berdasarkan data dari Satudata Kemnaker yang diolah Pusdatik, jumlah tenaga kerja ter-PHK menurut provinsi tempat kerja dan bulan PHK mencatat Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah tenaga kerja terdampak PHK tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 3.339 orang atau sekitar 21,65% dari total keseluruhan kasus PHK nasional periode Januari–April 2026.
Tingginya angka tersebut tidak terlepas dari posisi Jawa Barat sebagai salah satu pusat industri terbesar di Indonesia, khususnya sektor manufaktur dan industri padat karya yang sangat sensitif terhadap perubahan permintaan pasar global maupun domestik.
Selain Jawa Barat, Kalimantan Selatan dan Banten juga mencatat angka PHK yang tinggi, masing-masing mencapai 1.581 orang dan 1.536 orang sepanjang Januari–April 2026. Sementara itu, Jawa Timur mencatat 1.367 pekerja terdampak PHK, disusul DKI Jakarta sebanyak 1.140 orang dan Jawa Tengah 983 orang.
Di sisi lain, provinsi di luar Pulau Jawa juga mulai menunjukkan peningkatan PHK yang cukup serius. Sumatra Selatan tercatat memiliki 695 kasus PHK, Sumatra Utara 547 orang, dan Sulawesi Selatan 360 orang. Kondisi ini menandakan bahwa badai PHK 2026 tidak hanya terjadi di kawasan industri utama di Pulau Jawa, tetapi mulai meluas ke berbagai daerah lain di Indonesia.
Sektor Apa yang Paling Rentan Terkena PHK di 2026?
Beberapa sektor industri dinilai paling rentan terkena PHK sepanjang 2026. Berikut sektor yang paling terdampak:
1. Industri Tekstil dan Garmen
Industri tekstil dan garmen menjadi sektor yang paling banyak disebut rentan terkena PHK.
Melemahnya permintaan pasar ekspor, tingginya biaya produksi, serta banjir produk impor murah membuat banyak perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja.
KSPI bahkan mencatat gelombang PHK terbesar berasal dari sektor manufaktur dan industri padat karya, terutama tekstil dan alas kaki.
2. Industri Plastik dan Petrokimia
Industri yang bergantung pada bahan baku minyak dan plastik juga menghadapi tekanan besar akibat konflik Timur Tengah dan kenaikan harga energi global.
Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi melonjak sehingga perusahaan mulai mengurangi jumlah pekerja
3. Manufaktur Padat Karya
Menurut CORE, subsektor manufaktur seperti pakaian jadi, alas kaki, dan elektronik menjadi sektor paling rentan terkena PHK pada 2026. Penurunan pesanan ekspor membuat banyak perusahaan mengurangi kapasitas produksi.
Industri pakaian jadi sendiri menyerap sekitar 3,76 juta tenaga kerja, sedangkan industri alas kaki mencapai 921 ribu pekerja. Selain itu, perlambatan PMI manufaktur menunjukkan aktivitas industri nasional sedang melemah.
4. Pertambangan dan Energi
Fluktuasi harga komoditas global membuat beberapa perusahaan tambang melakukan efisiensi operasional.
Ketidakpastian ekonomi global juga menyebabkan investasi sektor energi melambat sehingga berdampak pada tenaga kerja.
5. Teknologi dan Startup
Setelah mengalami ekspansi besar dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan teknologi kini mulai melakukan restrukturisasi dan efisiensi tenaga kerja.
Kondisi pendanaan yang lebih ketat membuat beberapa startup mengurangi jumlah karyawan.
6. Perdagangan dan Ritel
Melemahnya daya beli masyarakat menyebabkan sektor perdagangan dan ritel ikut terkena dampak.
Penurunan konsumsi membuat sejumlah perusahaan melakukan efisiensi dan pengurangan tenaga kerja untuk menjaga stabilitas bisnis.
Apa yang Menyebabkan Badai PHK 2026?
Lonjakan data PHK terbaru pada 2026 dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi global maupun domestik. Berikut beberapa penyebab utamanya:
1. Konflik Timur Tengah dan Ketidakpastian Global
Konflik geopolitik di Timur Tengah menyebabkan harga energi dan biaya logistik global meningkat. Kondisi ini berdampak langsung pada perusahaan di Indonesia karena biaya produksi ikut melonjak.
Akibatnya, banyak perusahaan mulai melakukan efisiensi untuk menekan pengeluaran, termasuk mengurangi jumlah pekerja. Sektor manufaktur dan industri padat karya menjadi yang paling terdampak situasi ini.
2. Perlambatan Ekonomi Dunia
Melemahnya pertumbuhan ekonomi global membuat permintaan ekspor Indonesia ikut menurun. Industri yang bergantung pada pasar luar negeri seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik mengalami penurunan pesanan.
Penurunan permintaan tersebut membuat sejumlah perusahaan mengurangi kapasitas produksi dan melakukan PHK untuk menjaga kondisi keuangan tetap stabil.
3. Penurunan Daya Beli Masyarakat
Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih menyebabkan konsumsi rumah tangga melambat. Masyarakat cenderung menahan pengeluaran sehingga penjualan berbagai sektor usaha ikut menurun.
Dampaknya, perusahaan mengalami tekanan pendapatan dan mulai melakukan penghematan operasional. Situasi ini berujung pada meningkatnya risiko pengurangan tenaga kerja di berbagai sektor.
4. Otomatisasi dan Efisiensi Perusahaan
Banyak perusahaan kini mulai mengadopsi teknologi otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya operasional. Penggunaan mesin dan sistem digital perlahan menggantikan sejumlah pekerjaan manual.
Di sisi lain, restrukturisasi bisnis juga membuat perusahaan mengurangi jumlah pekerja agar tetap kompetitif di tengah tekanan ekonomi global yang semakin berat.
5. Tekanan Nilai Tukar dan Biaya Produksi
Pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga bahan baku impor menjadi lebih mahal. Padahal, banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Selain itu, kenaikan harga energi dan distribusi membuat biaya produksi perusahaan terus meningkat. Kondisi tersebut memaksa banyak perusahaan melakukan efisiensi, termasuk memangkas jumlah tenaga kerja.
Langkah Preventif Menghadapi Badai PHK 2026
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, pekerja perlu menyiapkan langkah preventif agar lebih siap menghadapi risiko PHK.
1. Meningkatkan Skill dan Kompetensi
Pekerja perlu terus memperbarui kemampuan, terutama skill digital dan teknologi yang semakin dibutuhkan di dunia kerja saat ini. Kemampuan seperti analisis data, penggunaan AI, hingga digital marketing menjadi nilai tambah di tengah persaingan kerja yang semakin ketat.
Selain itu, mengikuti pelatihan, sertifikasi, atau kursus online dapat membantu pekerja lebih adaptif terhadap perubahan industri. Semakin banyak kompetensi yang dimiliki, semakin besar peluang untuk bertahan atau mendapatkan pekerjaan baru.
2. Membangun Dana Darurat
Memiliki dana darurat menjadi langkah penting untuk menghadapi kemungkinan kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba. Idealnya, pekerja menyiapkan dana darurat minimal untuk kebutuhan hidup selama 6–12 bulan.
Dana darurat dapat membantu menjaga kondisi keuangan tetap stabil selama mencari pekerjaan baru. Dengan kondisi finansial yang lebih aman, pekerja juga dapat mengurangi tekanan psikologis saat menghadapi PHK.
3. Mencari Sumber Penghasilan Tambahan
Di tengah ancaman badai PHK 2026, memiliki penghasilan tambahan menjadi strategi yang semakin relevan. Freelance, bisnis kecil, hingga pekerjaan sampingan berbasis digital dapat menjadi alternatif pemasukan.
Selain membantu menjaga kestabilan keuangan, sumber penghasilan tambahan juga bisa menjadi cadangan karier apabila pekerjaan utama terdampak efisiensi perusahaan. Banyak pekerja kini mulai memanfaatkan platform digital untuk membuka peluang usaha baru.
4. Memperluas Jaringan Profesional
Networking menjadi salah satu cara efektif untuk mendapatkan informasi lowongan kerja dan peluang karier baru. Relasi profesional yang luas dapat membantu pekerja lebih cepat memperoleh informasi ketika terjadi PHK massal.
Pekerja dapat memperluas jaringan melalui seminar, komunitas profesional, media sosial seperti LinkedIn, maupun kegiatan industri lainnya. Semakin luas koneksi yang dimiliki, semakin besar peluang mendapatkan rekomendasi pekerjaan.
5. Mengikuti Perkembangan Industri
Memahami tren industri yang sedang berkembang penting agar pekerja dapat mengetahui sektor mana yang masih memiliki prospek baik. Di sisi lain, pekerja juga bisa lebih waspada terhadap sektor yang mulai rentan terkena PHK.
Dengan mengikuti perkembangan industri, pekerja dapat menyesuaikan skill dan rencana karier lebih dini. Langkah ini membantu pekerja tetap relevan di tengah perubahan pasar kerja yang semakin dinamis.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi 2026
Sumber:
https://satudata.kemnaker.go.id/data/kumpulan-data/3610
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira