Negara dengan infrastruktur terbaik di dunia bukan hanya dinilai dari jalan raya yang mulus atau gedung pencakar langit yang modern. Kualitas transportasi publik, trotoar ramah pejalan kaki, fasilitas umum, ruang terbuka hijau, hingga fasilitas difabel juga menjadi indikator penting yang menentukan kenyamanan hidup masyarakat.
Pada 2025, sejumlah negara kembali menempati posisi teratas berkat sistem infrastruktur publik yang tertata, terintegrasi, dan berorientasi pada kualitas hidup warga.
Pemeringkatan ini disusun berdasarkan metodologi IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2025 yang menilai 69 negara di dunia melalui kombinasi data statistik dan survei persepsi eksekutif.
Penilaian dilakukan menggunakan dua pertiga hard data seperti kualitas infrastruktur, efisiensi transportasi, dan fasilitas masyarakat, serta sepertiga survei terhadap lebih dari 6.000 responden dari kalangan profesional dan pelaku bisnis global.
Seluruh indikator kemudian dikelompokkan ke dalam empat faktor utama, yakni performa ekonomi, efisiensi pemerintahan, efisiensi bisnis, dan infrastruktur.
Hasilnya, negara-negara Eropa masih mendominasi daftar dengan kualitas fasilitas publik dan infrastruktur umum yang sangat baik. Namun, sejumlah negara Asia seperti Singapura, Hong Kong, dan Taiwan juga berhasil masuk dalam jajaran teratas berkat sistem transportasi publik dan tata kota yang modern.
Baca Juga: Daftar Bank dengan Aset Terbesar di Dunia 2025, China Mendominasi!
Top 10 Negara dengan Infrastruktur Terbaik di Dunia 2025
Berikut daftar negara dengan infrastruktur terbaik di dunia tahun 2025 berdasarkan skor terbaru:
Swiss menempati posisi pertama dengan skor 94.8. Negara ini dikenal memiliki transportasi publik yang sangat terintegrasi, mulai dari kereta, tram, hingga bus antarkota. Selain itu, fasilitas umum dan jalur pedestrian di Swiss juga terkenal bersih, aman, dan nyaman untuk masyarakat maupun wisatawan.
Di posisi kedua ada Denmark dengan skor 88.3. Negara ini menjadi salah satu contoh terbaik dalam pembangunan kota ramah pejalan kaki dan pesepeda. Infrastruktur publik di Denmark dirancang untuk mendukung mobilitas berkelanjutan dengan trotoar luas, jalur sepeda modern, serta fasilitas difabel yang tertata baik.
Swedia berada di posisi ketiga dengan skor 86.0. Negara Skandinavia ini unggul dalam pengembangan ruang terbuka hijau dan sistem transportasi publik yang efisien. Hampir seluruh area perkotaan memiliki akses fasilitas masyarakat yang nyaman dan mudah dijangkau.
Finlandia menduduki peringkat keempat dengan skor 85.0. Infrastruktur umum di negara ini memadukan teknologi dan pelayanan publik yang modern. Selain memiliki transportasi publik yang tertib, Finland juga dikenal sangat memperhatikan kenyamanan pejalan kaki serta aksesibilitas untuk penyandang disabilitas.
Kanada berada di posisi kelima dengan skor 81.4. Negara ini memiliki kualitas jalan, transportasi publik, dan fasilitas publik yang baik di berbagai kota besar seperti Toronto dan Vancouver. Ruang terbuka hijau juga menjadi bagian penting dalam tata kota di Kanada.
Singapura menempati posisi keenam dengan skor 81.0 dan menjadi negara Asia Tenggara dengan kualitas infrastruktur terbaik dalam daftar ini. Sistem transportasi publiknya terkenal modern dan tepat waktu, didukung trotoar steril untuk pejalan kaki, fasilitas difabel yang memadai, serta tata kota yang rapi dan hijau.
Hong Kong berada di posisi ketujuh dengan skor 80.7. Meski memiliki kepadatan penduduk tinggi, wilayah ini tetap mampu menghadirkan transportasi publik yang cepat dan efisien. Infrastruktur umum di Hong Kong juga dirancang untuk mendukung mobilitas masyarakat secara maksimal.
Norwegia berada di peringkat kedelapan dengan skor 80.6. Negara ini dikenal memiliki fasilitas publik yang sangat baik, terutama dalam hal konektivitas wilayah dan akses transportasi. Selain itu, kualitas ruang terbuka hijau dan lingkungan perkotaannya juga sangat terjaga.
Belanda menempati posisi kesembilan dengan skor 80.5. Negara ini terkenal sebagai salah satu negara paling ramah pesepeda di dunia. Jalur pedestrian dan infrastruktur transportasinya dirancang untuk mendukung mobilitas masyarakat tanpa bergantung penuh pada kendaraan pribadi.
Taiwan melengkapi daftar 10 besar dengan skor 79.1. Negara ini memiliki sistem transportasi publik yang terintegrasi dengan baik, terutama jaringan MRT dan kereta cepat. Selain itu, fasilitas umum di Taiwan juga dikenal bersih, modern, dan nyaman digunakan masyarakat sehari-hari.
Baca Juga: 10 Negara dengan Pendidikan Terbaik di Dunia 2026, Bagaimana dengan Indonesia?
Bagaimana Kondisi Infrastruktur di Indonesia?
Indonesia berada di posisi ke-57 dengan skor 30.2. Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas infrastruktur Indonesia masih tertinggal cukup jauh dibanding negara-negara maju maupun beberapa negara Asia lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan infrastruktur memang berkembang pesat, terutama melalui pembangunan jalan tol, bandara, hingga transportasi publik seperti MRT dan LRT. Namun, pembangunan tersebut masih belum merata dan cenderung terpusat di kota-kota besar.
Ketimpangan pembangunan masih terlihat jelas antara wilayah barat dan timur Indonesia. Kawasan seperti Pulau Jawa dan sebagian Sumatra memiliki akses infrastruktur yang jauh lebih baik dibanding wilayah timur seperti Papua dan Nusa Tenggara. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat, akses ekonomi, dan distribusi layanan publik.
Masalah lain juga terlihat dari kualitas fasilitas umum di perkotaan. Banyak trotoar yang belum layak digunakan karena rusak, sempit, bahkan dipenuhi parkir liar dan pedagang kaki lima. Akibatnya, jalur pedestrian yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pejalan kaki justru tidak nyaman digunakan.
Kondisi jembatan penyeberangan orang (JPO) di sejumlah kota juga masih memprihatinkan. Beberapa fasilitas kurang terawat, minim penerangan, dan tidak memiliki akses ramah difabel seperti lift atau jalur landai bagi pengguna kursi roda.
Fasilitas difabel sendiri masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Tidak sedikit halte, trotoar, hingga gedung publik yang belum menyediakan guiding block untuk tunanetra, ramp yang aman, atau akses lift yang memadai.
Padahal, infrastruktur publik yang baik seharusnya dapat diakses seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Selain itu, ruang terbuka hijau (RTH) di kota-kota besar Indonesia juga masih tergolong minim. Berdasarkan standar nasional, kota idealnya memiliki minimal 30% RTH dari total wilayah.
Namun kenyataannya, banyak kota besar belum mencapai angka tersebut. Jakarta misalnya, masih berada jauh di bawah standar ideal.
Minimnya ruang terbuka hijau membuat kualitas udara memburuk dan suhu perkotaan meningkat. Hutan kota yang seharusnya menjadi paru-paru kota justru terus tergerus pembangunan permukiman dan kawasan komersial.
Dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan mental masyarakat yang semakin kekurangan ruang publik untuk beraktivitas dan beristirahat.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk berkembang. Pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas fasilitas publik, perluasan transportasi umum, serta penyediaan infrastruktur ramah difabel dapat menjadi langkah penting untuk memperbaiki posisi Indonesia di masa depan.
Pembangunan infrastruktur bukan sekadar membangun jalan atau gedung megah, tetapi bagaimana sebuah negara mampu menciptakan ruang hidup yang aman, nyaman, inklusif, dan dapat dinikmati seluruh masyarakat secara merata.
Baca Juga: Inilah 10 Bandara Terbersih di Dunia 2026, Asia Mendominasi!
Sumber:
https://www.imd.org/centers/wcc/world-competitiveness-center/rankings/world-competitiveness-ranking/rankings/wcr-rankings/#_tab_List
Penulis: Raka Adichandra
Editor: Firda Wandira