Utang luar negeri Indonesia kembali mengalami kenaikan pada triwulan I 2026. Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) yang terbit pada Mei 2026, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia tercatat mencapai US$433,4 miliar atau sekitar Rp7.685 triliun.
Laporan BI menunjukkan bahwa utang luar negeri Indonesia meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini mencerminkan tingginya kebutuhan pembiayaan eksternal untuk mendukung pembangunan nasional serta menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Kenaikan utang luar negeri Indonesia terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Tingkat suku bunga global yang relatif tinggi, penguatan dolar AS, serta ketegangan geopolitik dunia masih menjadi tantangan bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, Bank Indonesia menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat karena didominasi oleh utang jangka panjang dan dikelola secara hati-hati.
Secara tahunan, pertumbuhan ULN Indonesia pada triwulan I 2026 juga menunjukkan tren positif. Kenaikan tersebut terutama berasal dari sektor publik, baik pemerintah maupun bank sentral, yang masih membutuhkan ruang pembiayaan untuk mendukung belanja negara dan berbagai proyek strategis nasional.
Baca Juga: Berapa Utang Luar Negeri Indonesia Saat Ini?
Statistik Utang Luar Negeri Indonesia 2025-2026
Berdasarkan grafik statistik utang luar negeri Indonesia sepanjang 2025 hingga triwulan I 2026, pergerakan ULN terlihat mengalami fluktuasi moderat.
Pada triwulan I 2025, posisi utang luar negeri Indonesia berada di level US$429,859 miliar. Kemudian pada triwulan II 2025, nilainya meningkat menjadi US$433,794 miliar atau tumbuh sekitar 0,92% dibandingkan triwulan sebelumnya.
Namun, pada triwulan III 2025, posisi ULN Indonesia mengalami penurunan menjadi US$427,548 miliar. Jika dibandingkan triwulan II 2025, angka tersebut turun sekitar 1,44%. Penurunan ini terjadi seiring pembayaran sejumlah kewajiban utang dan penyesuaian pembiayaan eksternal.
Memasuki triwulan IV 2025, utang luar negeri Indonesia kembali naik menjadi US$433,185 miliar. Dibandingkan triwulan sebelumnya, terjadi pertumbuhan sekitar 1,32%.
Sementara itu, pada triwulan I 2026, posisi ULN Indonesia meningkat lagi menjadi US$433,389 miliar atau tumbuh sekitar 0,05% dibandingkan triwulan IV 2025.
Secara tahunan, pertumbuhan ULN Indonesia melambat jadi 0,8% year-on-year (YoY) dibandingkan 1,9% di tahun sebelumnya.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan ULN Indonesia terutama ditopang oleh sektor pemerintah. Dalam laporan resminya, BI menyatakan bahwa pemerintah memanfaatkan ULN untuk "mendukung belanja prioritas pemerintah serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi."
Posisi ULN pemerintah pada triwulan I 2026 tercatat tetap menjadi komponen terbesar dalam struktur utang luar negeri nasional. Meski mengalami peningkatan, pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan utang dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan risiko fiskal dan kemampuan bayar negara dalam jangka panjang.
Sementara itu, posisi ULN swasta cenderung stabil. Bank Indonesia menyebut bahwa utang luar negeri swasta tetap terkendali dan masih didominasi oleh sektor produktif. Menurut laporannya, ULN swasta digunakan paling banyak pada sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listik dan gas, serta pertambangan.
Selain itu, mayoritas ULN swasta juga merupakan utang jangka panjang sehingga dinilai relatif aman terhadap risiko gejolak jangka pendek. Struktur ULN Indonesia secara keseluruhan masih didominasi tenor jangka panjang dengan porsi mencapai sekitar 84% dari total utang luar negeri nasional.
Di sisi lain, kenaikan utang luar negeri Indonesia juga mencerminkan masih besarnya kebutuhan pembiayaan pembangunan. Pemerintah masih membutuhkan dana untuk mendukung pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, transisi energi, hingga program sosial dan pendidikan.
Meski nominal ULN Indonesia terus meningkat, rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada dalam level aman. Bank Indonesia mencatat rasio ULN Indonesia terhadap PDB berada di kisaran 30%. Angka tersebut relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya dan masih berada dalam batas aman menurut berbagai indikator internasional.
Selain itu, pemerintah dan Bank Indonesia berupaya untuk terus memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Secara keseluruhan, kenaikan utang luar negeri Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan pembangunan masih cukup tinggi. Namun, dengan struktur utang yang sehat, dominasi utang jangka panjang, serta rasio ULN yang tetap terkendali, kondisi utang Indonesia sejauh ini masih dinilai aman dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Baca Juga: 10 Negara dengan Utang Terbanyak di Dunia, Bagaimana dengan Indonesia?
Sumber:
https://www.bi.go.id/en/statistik/ekonomi-keuangan/sulni/Pages/SULNI-Mei-2026.aspx
Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Muhammad Sholeh