Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian publik setelah mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data perdagangan terkini, kurs rupiah terhadap dolar AS tercatat berada di level Rp17.667 per US$ setelah sebelumnya berada di posisi Rp17.592 per US$. Perubahan ini menunjukkan adanya penguatan dolar AS terhadap rupiah.
Lemahnya rupiah sempat disinggung Presiden Prabowo yang menyatakan bahwa penurunan mata uang tidak berpengaruh terhadap penduduk desa. Sementara itu, aset Indonesia sendiri sudah tertekan sebelum perang Iran.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pergerakan mata uang menjadi salah satu indikator yang paling diperhatikan oleh pelaku pasar. Fluktuasi rupiah terhadap dolar tidak hanya memengaruhi aktivitas impor dan ekspor, tetapi juga berdampak pada harga komoditas, inflasi, hingga arus investasi asing ke Indonesia.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Inflasi Tertinggi November 2025
Pergerakan Rupiah terhadap Dolar selama Seminggu Terakhir
Berdasarkan data dari Trading Economics, pergerakan rupiah selama periode 11 Mei 2026 hingga 15 Mei 2026 menunjukkan tren fluktuasi tipis, namun didominasi pelemahan.
Pada 11 Mei 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.421 per dolar AS. Sehari kemudian, tepatnya pada 12 Mei 2026, rupiah melemah menjadi Rp17.506 per dolar AS atau turun sekitar Rp85 dibandingkan hari sebelumnya. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dolar AS di pasar global seiring kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi internasional.
Namun, pada 13 Mei 2026, rupiah kembali menguat tipis ke level Rp17.498 per dolar AS. Penguatan ini berlanjut pada 14 Mei 2026 ketika nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.548 per dolar AS. Meski selisih pergerakannya tidak terlalu besar, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai kembali stabil setelah tekanan eksternal mereda.
Sementara itu, pada 15 Mei 2026, rupiah kembali bergerak ke level Rp17.592 per dolar AS. Namun, pada pembukaan pasar minggu ini (18/5), rupiah kembali melemah di angka Rp17.622/US$. Terlepas dari pernyataan Presiden Prabowo, lemahnya rupiah tetap menjadi kekhawatiran di kalangan publik Indonesia.
Mengapa Harga Rupiah Terus Naik?
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi oleh sejumlah faktor global dan domestik. Salah satu faktor utama adalah menguatnya dolar AS di pasar internasional. Ketika dolar menguat, mata uang negara berkembang seperti rupiah biasanya mengalami tekanan karena investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berbasis dolar yang dianggap lebih aman.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, juga menjadi faktor penting. Jika suku bunga AS tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama, investor global akan lebih tertarik menempatkan dananya di Amerika Serikat. Kondisi tersebut menyebabkan arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Ketidakpastian geopolitik global juga menjadi sentimen yang memengaruhi pasar keuangan. Konflik internasional dan perlambatan ekonomi dunia membuat investor cenderung berhati-hati dan memilih aset yang dianggap lebih stabil seperti dolar AS.
Meski rupiah mengalami tekanan, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup baik. Inflasi yang relatif terkendali, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta cadangan devisa yang memadai menjadi faktor yang membantu menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Bank Indonesia juga terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan kebijakan moneter untuk menjaga agar volatilitas rupiah tetap terkendali. Upaya tersebut dilakukan agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu tajam dan tetap berada dalam batas yang aman bagi perekonomian nasional.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan tren pelemahan dalam sepekan terakhir. Rupiah bergerak dari Rp17.421 per dolar AS pada awal pekan menjadi Rp17.592, lalu kembali melemah ke Rp17.622 per dolar AS pada perdagangan terbaru.
Pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global seperti penguatan dolar AS dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta faktor domestik berupa tingginya kebutuhan impor. Meski demikian, kondisi ekonomi Indonesia secara umum masih dinilai stabil sehingga volatilitas rupiah diharapkan tetap terkendali dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Capai 5,61% pada Triwulan I 2026
Sumber:
https://id.tradingeconomics.com/indonesia/currency
Penulis: Aisha Zahrany
Editor: Muhammad Sholeh