Akses terhadap sumber air minum layak merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur kualitas hidup masyarakat. Semakin tinggi cakupan air minum layak, semakin besar peluang masyarakat memperoleh air yang aman untuk dikonsumsi dan mendukung kesehatan sehari-hari.
Namun, pemerataan akses air minum layak di Indonesia masih menjadi tantangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih terdapat sejumlah wilayah yang memiliki cakupan akses air minum layak jauh di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini membuat beberapa daerah masuk dalam kategori provinsi paling sulit akses sumber air minum layak di Indonesia.
Wilayah-wilayah tersebut umumnya menghadapi hambatan geografis, keterbatasan infrastruktur air bersih, hingga kondisi permukiman yang tersebar dan sulit dijangkau. Akibatnya, distribusi air bersih dan pembangunan jaringan air minum belum dapat menjangkau seluruh masyarakat secara merata.
10 Provinsi yang Paling Sulit Akses Sumber Air Minum Layak di Indonesia
Berdasarkan data BPS tahun 2025 mengenai persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sumber air minum layak, berikut 10 provinsi dengan persentase terendah di Indonesia.
Baca Juga:10 Provinsi Termiskin di Indonesia 2025, Papua Masih di Peringkat Teratas
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah dengan akses air minum layak terendah berada di kawasan Indonesia Timur, khususnya Papua.
Papua Pegunungan menempati posisi paling bawah dengan persentase hanya 32,89%. Meskipun terdapat peningkatan 2,25% dari tahun sebelumnya, angka tersebut masih menjadi yang terendah di antara provinsi lainnya.
Di posisi kedua terdapat Bengkulu dengan persentase akses air minum layak sebesar 70,47%. Meski angkanya jauh lebih tinggi dibanding Papua Pegunungan, masih terdapat hampir tiga dari sepuluh rumah tangga yang belum menikmati akses air minum layak. Selanjutnya, Papua Selatan menempati posisi ketiga dengan capaian 71,28%.
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masing-masing mencatatkan akses air minum layak sebesar 78,27% dan 80,58%. Sementara itu, Papua Barat Daya berada sedikit di atas Kalimantan Tengah dengan persentase 80,64%. Ketiga provinsi tersebut masih menghadapi tantangan dalam pemerataan jaringan distribusi air bersih, terutama di wilayah pedesaan dan daerah yang sulit dijangkau.
Jambi menempati peringkat ketujuh dengan tingkat akses air minum layak sebesar 82,46%. Di atasnya terdapat Papua Barat yang mencatatkan angka 82,95%. Sulawesi Barat dan Papua Tengah melengkapi daftar 10 provinsi dengan akses air minum layak terendah di Indonesia, masing-masing sebesar 83% dan 83,21%.
Mengapa Papua Pegunungan Menjadi Area Paling Sulit Mengakses Air Minum Layak?
Papua Pegunungan merupakan provinsi dengan persentase akses air minum layak terendah di Indonesia. Rendahnya persentase tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan geografis dan pembangunan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Salah satu faktor utama adalah kondisi wilayah yang didominasi pegunungan tinggi dengan topografi terjal. Banyak distrik dan kampung berada di lembah maupun lereng gunung yang hanya dapat diakses melalui jalur udara atau jalan darat yang terbatas. Kondisi ini membuat pembangunan jaringan perpipaan, instalasi pengolahan air, maupun distribusi logistik menjadi jauh lebih mahal dibandingkan wilayah perkotaan di Pulau Jawa. Infrastruktur konektivitas di Papua Pegunungan sendiri masih terus dikembangkan untuk membuka akses ke wilayah pedalaman.
Selain tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, akses masyarakat terhadap air bersih yang layak konsumsi di Papua masih relatif terbatas. Ketersediaan air bersih di banyak wilayah juga belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan penduduk. Jumlah instalasi pengolahan dan penjernihan air masih minim sehingga distribusi air minum layak belum dapat menjangkau seluruh masyarakat.
Meski saat ini telah terdapat beberapa perusahaan pengolahan air minum yang beroperasi di Papua, sebagian warga masih bergantung pada pasokan air minum kemasan yang didatangkan dari luar daerah. Ketergantungan tersebut membuat biaya pemenuhan kebutuhan air minum menjadi lebih tinggi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman dan sulit dijangkau transportasi.
Di sejumlah kawasan, jaringan perpipaan dan fasilitas produksi air bersih juga belum tersedia secara memadai. Padahal, Papua memiliki banyak sumber air alami seperti sungai dan mata air yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku air bersih. Namun, keterbatasan fasilitas pengolahan menyebabkan sumber daya air tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.
Akibat kondisi tersebut, di beberapa daerah bahkan mengandalkan air hujan sebagai sumber air minum dan kebutuhan untuk memasak dan mencuci. Situasi ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur air minum dan sanitasi masih menjadi kebutuhan mendesak guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta memperluas akses terhadap sumber air minum layak di Papua.
Baca Juga: Inilah Negara Tujuan Ekspor Batu Bara Indonesia, India dan China Mendominasi!
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/ODU0IzI=/persentase-rumah-tangga-yang-memiliki-akses-terhadap-sumber-air-minum-layak-menurut-provinsi-dan-klasifikasi-desa--persen-.html
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira