Kemiskinan masih menjadi salah satu tantangan utama pembangunan di Indonesia. Meski demikian, kondisi kemiskinan nasional menunjukkan perbaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin turun 8,25% pada Semester II (September) 2025, atau setara 23,36 juta orang, lebih rendah dibandingkan Semester I (Maret) 2025. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir, yang mencerminkan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Namun, perbaikan tersebut belum terjadi secara merata di seluruh wilayah. Masih terdapat sejumlah provinsi dengan persentase penduduk miskin yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Berdasarkan data terbaru BPS Semester II 2025, sebagian besar provinsi termiskin di Indonesia masih berada di kawasan Indonesia Timur. Faktor geografis, keterbatasan infrastruktur, rendahnya akses pendidikan, hingga minimnya lapangan kerja menjadi beberapa penyebab yang memengaruhi kondisi tersebut.
Lantas, provinsi mana saja yang memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia saat ini? Berikut daftarnya.
10 Provinsi Paling Miskin di Indonesia
Data BPS menunjukkan bahwa 10 wilayah berikut memiliki persentase penduduk miskin tertinggi pada Semester II 2025.
Baca Juga: Optimisme Ketersediaan Lapangan Kerja Menyusut pada Mei 2026
1. Papua Tengah (29,45%)
Papua Tengah menjadi wilayah dengan tingkat kemiskinan Indonesia tertinggi. Meski memiliki potensi sumber daya alam yang besar, distribusi manfaat ekonomi belum merata.
Sebagian masyarakat masih menggantungkan hidup pada sektor pertanian tradisional, perkebunan, dan aktivitas subsisten.
2. Papua Pegunungan (27,21%)
Wilayah pegunungan yang sulit dijangkau membuat biaya logistik dan pembangunan infrastruktur relatif tinggi.
Kondisi geografis ini turut memengaruhi akses pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang usaha masyarakat.
3. Papua Barat (19,58%)
Perekonomian Papua Barat banyak ditopang sektor pertambangan, perikanan, dan migas. Namun, aktivitas ekonomi tersebut belum sepenuhnya menciptakan kesejahteraan yang merata bagi seluruh penduduk.
4. Papua Selatan (19,26%)
Sebagai provinsi baru hasil pemekaran, Papua Selatan masih menghadapi tantangan dalam pembangunan fasilitas dasar dan pemerataan pelayanan publik. Mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.
5. Papua (17,82%)
Provinsi Papua memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, kesenjangan pembangunan antarwilayah masih menjadi tantangan yang memengaruhi tingkat kesejahteraan penduduk.
6. Nusa Tenggara Timur (17,50%)
NTT dikenal sebagai daerah dengan sektor pertanian, peternakan, dan pariwisata yang berkembang. Namun, kondisi iklim yang kering serta keterbatasan sumber air sering kali memengaruhi produktivitas ekonomi masyarakat.
7. Papua Barat Daya (17,50%)
Provinsi termuda di Indonesia ini memiliki potensi besar dari sektor pariwisata, khususnya kawasan Raja Ampat. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur dan pemerataan ekonomi masih membutuhkan waktu untuk berkembang secara optimal.
8. Maluku (15,25%)
Sebagai provinsi kepulauan, Maluku menghadapi tantangan konektivitas antarwilayah. Biaya distribusi barang yang tinggi berdampak pada harga kebutuhan pokok dan aktivitas ekonomi masyarakat.
9. Gorontalo (12,62%)
Perekonomian Gorontalo banyak bertumpu pada sektor pertanian, terutama jagung. Meski demikian, keterbatasan industri pengolahan dan lapangan kerja formal masih menjadi tantangan dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk.
10. Aceh (12,22%)
Aceh memiliki sumber daya alam yang cukup besar serta dana otonomi khusus. Namun, tingkat kemiskinan masih relatif tinggi dibandingkan banyak provinsi lain di Sumatra akibat berbagai faktor struktural dan ekonomi daerah.
Dari daftar di atas terlihat bahwa enam dari sepuluh wilayah dengan persentase penduduk miskin tertinggi berasal dari kawasan Papua. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesenjangan pembangunan antarwilayah masih menjadi tantangan besar dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara merata.
Selain itu, daerah kepulauan dan wilayah dengan kondisi geografis yang sulit cenderung memiliki tingkat kemiskinan lebih tinggi karena biaya pembangunan infrastruktur dan distribusi barang yang lebih mahal dibandingkan daerah lain.
Di sisi lain, keberadaan sumber daya alam yang melimpah tidak selalu berbanding lurus dengan rendahnya kemiskinan apabila manfaat ekonominya belum dirasakan secara luas oleh masyarakat setempat.
Faktor yang Memengaruhi Kemiskinan di Suatu Daerah
Kemiskinan tidak terjadi karena satu penyebab tunggal. Ada berbagai faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat.
1. Terbatasnya Akses Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Daerah dengan akses pendidikan yang rendah umumnya memiliki tingkat produktivitas dan pendapatan masyarakat yang lebih rendah.
Selain itu, keterbatasan pendidikan dapat mengurangi peluang masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
2. Kurangnya Lapangan Kerja
Ketersediaan pekerjaan menjadi faktor utama dalam mengurangi kemiskinan. Ketika kesempatan kerja terbatas, masyarakat kesulitan memperoleh penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
3. Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Lambat
Daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi rendah cenderung menciptakan lebih sedikit peluang usaha dan lapangan kerja. Akibatnya, peningkatan pendapatan masyarakat berlangsung lebih lambat dibandingkan wilayah yang ekonominya tumbuh pesat.
4. Infrastruktur yang Belum Memadai
Jalan, pelabuhan, listrik, dan jaringan telekomunikasi berperan penting dalam mendukung aktivitas ekonomi. Infrastruktur yang terbatas dapat meningkatkan biaya distribusi barang dan menghambat investasi.
Akibatnya, masyarakat kehilangan banyak peluang untuk meningkatkan pendapatan mereka.
5. Kondisi Geografis yang Sulit
Wilayah pegunungan, kepulauan, atau daerah terpencil sering menghadapi tantangan aksesibilitas. Kondisi ini membuat biaya transportasi dan logistik menjadi lebih tinggi sehingga memengaruhi harga barang dan layanan dasar.
6. Rendahnya Produktivitas Sektor Pertanian
Di banyak daerah, sebagian besar penduduk masih bekerja di sektor pertanian. Ketika produktivitas rendah akibat cuaca, keterbatasan teknologi, atau minimnya akses pasar, pendapatan petani juga ikut menurun.
7. Ketimpangan Distribusi Pendapatan
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Jika distribusi pendapatan tidak merata, sebagian kelompok masyarakat tetap berada dalam kondisi miskin meskipun ekonomi daerah tumbuh.
8. Belum Meratanya Pembangunan
Pemerataan pembangunan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk. Ketika pembangunan hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, daerah terpencil berisiko tertinggal dalam hal pendidikan, kesehatan, maupun kesempatan ekonomi.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Terendah 2026
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTkyIzI=/persentase-penduduk-miskin--p0--menurut-provinsi-dan-daerah.html
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira