Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kerap dianggap sebagai solusi energi masa depan yang ramah lingkungan. PLTS juga disinyalir sebagai energi terbarukan yang kapasitasnya tidak terbatas.
Energi ini sudah diterapkan di banyak negara termasuk Indonesia. Berikut 10 provinsi dengan kapasitas PLTS terbesar di Indonesia.
Pada grafik dapat terlihat Provinsi Jawa Barat memimpin sebagai provinsi dengan kapasitas PLTS terbesar yakni 145 Megawatt. Perbandingan yang sangat jauh terlihat antara peringkat satu dan dua, Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan kapasitas PLTS 21,14 Megawatt menduduku posisi kedua.
Posisi ketiga disusul oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan kapasitas PLTS sebesar 19.02 Megawatt. Di posisi keempat dan kelima ada Sulawesi Utara dan Gorontalo dengan masing-masing kapasitas PLTS sebesar 17,1 dan 12,04.
Provinsi Bali berada di peringkat keenam dengan kapasitas PLTS sebesar 4,6 Megawatt. Di bawahnya ada Provinsi Sulawesi Selatan dengan kapasitas PLTS sebesar 3,28.
Pulau Papua menyumbang 2 provinsi dalam daftar 10 besar, yakni Papua Selatan dengan kapasitas PLTS sebesar 2,58 Megawatt dan Papua Tengah dengan kapasitas PLTS sebesar 2,48 Megawatt.
Sementara itu, posisi kesepuluh ditempati oleh Kepulauan Riau dengan kapasitas PLTS sebesar 2,36 Megawatt. Setiap daerah memiliki kapasitas PLTS yang berbeda-beda berdasarkan beberapa faktor yang memengaruhinya.
Baca Juga: RI Siapkan 24.000 Ha untuk PLTS 100 GW, Kejar Target 2029
Mengapa PLTS Belum Bisa Dijalankan secara Optimal di Semua Wilayah?
Pemanfaatan sinar matahari menjadi sumber pembangkit tenaga listrik dianggap sebagai solusi energi masa depan yang ramah lingkungan. Namun, dalam pelaksanaannya menimbulkan pertanyaan penting.
Dari data yang telah dipaparkan sebelumnya, terdapat ketimpangan kapasitas PLTS di wilayah Indonesia padahal seluruh wilayah Indonesia mendapat paparan sinar matahari yang cukup.
Jawabannya cukup kompleks karena terdapat banyak faktor yang saling berkaitan, berikut penjelasanya.
1. Faktor Intensitas Radiasi Matahari
A) Perbedaan Energi Surya di Setiap Wilayah
Matahari menyinari seluruh wilayah dunia, kendati demikian intensitas radiasi matahari tidak merata. Indonesia yang berada di garis khatulistiwa memang berpotensi terpapar energi surya yang tinggi.
Namun, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi intensitas cahaya seperti tingkat tutupan awan, curah hujan tinggi, dan cuaca mendung. Semakin sering terhalangnya sinar matahari, semakin rendah juga energi yang dapat dikonversi menjadi listrik oleh panel surya.
B) Keterbatasan Waktu Penyinaran
PLTS hanya dapat menghasilkan listrik pada siang hari saat matahari bersinar. Sistem ini tidak dapat menghasilkan sama sekali energi pada malam hari.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan baterai penyimpanan energi sebagai sistem cadangan listrik. Sayangnya, teknologi baterai saat ini masih memiliki kendala seperti harga yang relatif mahal dan kapasitas penyimpanan yang terbatas.
C) Pengaruh Kondisi Geografis
Tidak semua wilayah memiliki kondisi geografis yang mendukung pemasangan PLTS. Kendala seperti keterbatasan lahan di perkotaan, kontur tanah yang sulit di daerah pegunungan, bayangan dari pepohonan atau bangunan, hingga akses lokasi yang terbatas. Kendala ini dapat mengurangi efektivitas dan efisiensi sistem PLTS.
D) Pengaruh Suhu terhadap Efisiensi Panel Surya
Meskipun membutuhkan sinar matahari, panel surya tidak selalu bekerja optimal pada suhu tinggi. Suhu yang terlalu panas dapat menurunkan efisiensi konversi energi dan menurunkan.
Artinya, semakin tinggi suhu lingkungan, semakin menurun performa panel surya yang digunakan. Kondisi ini sering terjadi di wilayah dengan iklim panas ekstrem.
Baca Juga: Realisasi Konsumsi Listrik Indonesia 2021-2025
2. Tantangan Ekonomi dalam Pengembangan PLTS
Pengembangan PLTS masih menghadapi beberapa kendala seperti biaya investasi awal yang tinggi. Diperlukan juga biaya tinggi lainnya untuk komponen seperti inverter dan baterai serta biaya perawatan hingga penggantian.
Meskipun penggunaan PLTS dapat menghemat biaya listrik dalam jangka panjang, tidak semua wilayah memiliki kemampuan finansial untuk mengadopsinya secara luas.
3. Tantangan Integrasi dengan Sistem Jaringan Listrik
A) Sifat Intermiten PLTS
PLTS bersifat intermiten yaitu energi yang dihasilkan tidak stabil karena bergantung pada kondisi cuaca dan waktu. Untuk menjaganya tetap stabil, diperlukan sistem smart grid, pembangkit cadangan, serta manajemen beban yang baik.
Tanpa adanya dukungan ini, penggunaan PLTS dalam skala besar dapat mengganggu kestabilan jaringan listrik.
B) Pembangkit Hybrid sebagai Alternatif
Meskipun terdapat keterbatasan, PLTS tetap sangat potensial jika diterapkan dengan strategi yang tepat. Salah satu solusinya ialah dengan penerapan sistem hybrid seperti PLTS + Diesel, PLTS + PLTA, atau PLTS + baterai.
Dengan pilihan kombinasi ini, suplai listrik dapat tetap stabil meskipun sumber energi utama tidak berkelanjutan.
Baca Juga: Konsumsi Listrik PLN Hampir Merata pada 2025, Jawa Tengah dan DIY Capai 100%
Sumber: https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/31/c4f7aade5d4801236ec79b81/statistik-listrik-2020-2024.html