Batu bara masih menjadi salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia. Meskipun tren transisi energi terus berkembang, permintaan batu bara dari berbagai negara masih tinggi untuk kebutuhan pembangkit listrik maupun industri. Tidak heran jika negara tujuan ekspor batu bara Indonesia tersebar di berbagai kawasan Asia dengan volume yang mencapai ratusan juta ton setiap tahun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, India dan China menjadi dua pasar terbesar yang menyerap sebagian besar ekspor batu bara Indonesia. Selain kedua negara tersebut, sejumlah negara Asia lainnya seperti Filipina, Korea Selatan, hingga Vietnam juga masuk dalam daftar pembeli utama batu bara Indonesia.
10 Negara Tujuan Ekspor Batu Bara Indonesia
Berikut daftar negara importir batu bara Indonesia berdasarkan volume ekspor pada tahun 2025:
Baca Juga: Tembus US$3 Miliar, Ini Provinsi dengan Nilai Ekspor Terbesar Januari 2026
India menjadi negara tujuan ekspor batu bara Indonesia terbesar dengan volume mencapai 100,2 juta ton. Besarnya kebutuhan energi untuk sektor industri dan pembangkit listrik membuat India sangat bergantung pada pasokan batu bara dari luar negeri. Indonesia menjadi salah satu pemasok utama karena memiliki cadangan melimpah, harga yang kompetitif, serta lokasi geografis yang relatif dekat.
Di posisi kedua terdapat China dengan volume impor sebesar 81,7 juta ton. Sebagai negara dengan konsumsi energi terbesar di dunia, China masih memanfaatkan batu bara dalam jumlah besar untuk mendukung aktivitas industri, manufaktur, dan pembangkit listrik. Tingginya kebutuhan tersebut menjadikan China sebagai pasar strategis bagi ekspor batu bara Indonesia.
Sementara itu, Filipina menempati urutan berikutnya dengan volume impor mencapai 37,7 juta ton. Negara ini masih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi nasional sehingga permintaan terhadap batu bara Indonesia tetap tinggi.
Korea Selatan menjadi tujuan ekspor berikutnya dengan volume 28,3 juta ton. Meski terus mendorong penggunaan energi bersih, negara tersebut masih memanfaatkan batu bara sebagai salah satu sumber energi penting untuk menjaga stabilitas pasokan listrik dan mendukung sektor industri berat.
Tidak jauh berbeda, Malaysia mengimpor sekitar 27,6 juta ton batu bara dari Indonesia. Kebutuhan energi domestik serta operasional berbagai fasilitas industri membuat Malaysia tetap membutuhkan pasokan batu bara dalam jumlah besar dari negara tetangga.
Jepang juga menjadi salah satu pasar utama dengan volume impor mencapai 27,2 juta ton. Negara ini menggunakan batu bara sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi untuk menjaga keamanan pasokan listrik di tengah upaya pengembangan energi terbarukan dan pemanfaatan teknologi rendah emisi.
Di sisi lain, Vietnam mencatatkan volume impor sebesar 26,1 juta ton. Pertumbuhan ekonomi yang pesat, peningkatan aktivitas manufaktur, dan kebutuhan listrik yang terus meningkat membuat negara tersebut semakin bergantung pada pasokan batu bara impor, termasuk dari Indonesia.
Taiwan turut masuk dalam daftar negara pembeli batu bara Indonesia dengan volume 15,2 juta ton. Batu bara masih menjadi salah satu sumber energi utama yang digunakan untuk menopang sektor industri dan pembangkit listrik di wilayah tersebut.
Thailand berada sedikit di bawah Taiwan dengan volume impor sebesar 14,4 juta ton. Permintaan batu bara dari Thailand didorong oleh kebutuhan sektor industri dan energi yang terus berkembang seiring pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Sementara itu, Hong Kong melengkapi daftar 10 besar tujuan ekspor batu bara Indonesia dengan volume sebesar 3,2 juta ton. Meskipun jumlahnya relatif kecil dibandingkan negara lain dalam daftar ini, Hong Kong tetap menjadi bagian dari jaringan pasar ekspor batu bara Indonesia di kawasan Asia.
Mengapa India Menjadi Salah Satu Pembeli Batu Bara Terbesar Indonesia?
Selain untuk pembangkit listrik, India saat ini tengah mempercepat program coal gasification atau gasifikasi batu bara. Teknologi ini mengubah batu bara menjadi gas sintetis (syngas) yang dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, pupuk, bahan bakar sintetis, hingga bahan baku petrokimia. Pemerintah India menilai teknologi tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor gas alam, LNG, amonia, dan metanol.
Untuk mendorong pengembangan industri ini, pemerintah India sebelumnya meluncurkan skema insentif senilai 8.500 crore rupee (sekitar Rp16 triliun) bagi proyek gasifikasi batu bara yang melibatkan BUMN maupun sektor swasta. Skema tersebut mencakup bantuan modal hingga 15% dari biaya investasi proyek.
Tidak berhenti di situ, pada 2026 pemerintah India kembali memperbesar dukungan melalui program baru dengan nilai 37.500 crore rupee. Program tersebut menargetkan gasifikasi sekitar 75 juta ton batu bara dan memberikan insentif hingga 20% biaya pembangunan fasilitas. Langkah ini merupakan bagian dari target India untuk menggasifikasi 100 juta ton batu bara pada 2030.
Di sisi lain, India bukan satu-satunya negara yang mengembangkan teknologi ini. China telah lama menjadi pelopor dalam industri gasifikasi batu bara skala besar. Selain itu, Amerika Serikat juga terus mengeksplorasi teknologi serupa untuk meningkatkan ketahanan energi dan mengurangi emisi dari penggunaan batu bara konvensional.
Baca Juga: Nilai Ekspor Indonesia 2025-2026 Tumbuh Positif, Ini Sektor Penopangnya
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/05/05/6fba902b411ff944219d8c47/statistik-perdagangan-luar-negeri-bulanan-impor-februari-2026.html
Penulis: Helni Sadiyah
Editor: Firda Wandira