Aktivitas ekspor Indonesia pada tahun 2025 tercatat fluktuatif akibat pengaruh kondisi domestik dan dinamika perekonomian global.
Data aktivitas ekspor ini dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Pada tahun 2025 sendiri, total nilai ekspor Indonesia mencapai US$282,51 miliar, naik sejumlah 5,99% dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dilihat berdasarkan bobot totalnya, ekspor Indonesia mencapai 722,2 ton, turun sebesar 2,64% dari tahun 2024.
Jika meninjau data historis bulanan, nilai ekspor Indonesia cenderung fluktuatif. Pada Januari, nilai Free on Board (FOB) adalah US$21,40 miliar, kemudian nilai tersebut naik menjadi US$21,93 miliar pada bulan Februari, naik lagi pada Maret menjadi US$23,19 miliar.
Baca Juga: Penjualan Eceran Diperkirakan Tumbuh 0,9%, Keyakinan Konsumen Malah Turun
Namun, pada bulan April, nilai tersebut anjlok ke angka US$20,72 miliar. Meskipun begitu, aktivitas ekspor kembali melonjak hingga mencapai angka US$24,59 miliar di bulan Mei.
Pada bulan Juni, kembali terjadi tren penurunan ke angka US$23,39 miliar. Pada bulan Juli, nilai ekspor kembali naik, hingga mencapai US$24,72 miliar dan tetap terus naik pada bulan Agustus menjadi US$24,94 miliar.
Memasuki September, nilai ekspor turun menjadi US$24,66 miliar, kemudian kembali turun pada bulan Oktober menjadi US$24,19 miliar.
Penurunan cukup signifikan juga terlihat pada bulan November, nilai ekspornya berada di angka US$22,48 miliar. Namun, angka tersebut meroket tinggi hingga mencapai nilai tertinggi sepanjang tahun pada Desember 2025 dengan US$26,29 miliar.
Faktor-faktor domestik seperti berkurangnya jumlah hari kerja efektif selama periode libur Hari Raya Idulfitri juga memengaruhi aktivitas ekspor.
Seperti terlihat pada bulan April 2025, nilai ekspor menunjukkan angka paling rendah sepanjang tahun, yaitu US$20,72 miliar, tetapi berhasil naik kembali di bulan Mei, seiring kembali normalnya aktivitas produksi domestik.
Jika ditinjau dari kategori komoditas ekspornya, barang nonmigas berhasil mendominasi hingga 95,47% dari keseluruhan total ekspor. Persentase tersebut mengkontribusikan US$269,72 miliar dari total nilai ekspor sepanjang tahun.
Nilai ekspor nonmigas ini juga berkontribusi sebesar 96,55% dari berat bersih keseluruhan hasil ekspor, yaitu 697,3 juta ton.
Sementara itu, ekspor migas menyumbangkan 4,53% nilai ekspor, atau setara dengan US$12,79 miliar. Berat bersihnya berada di angka 24,9 juta ton atau setara dengan 3,45% bobot ekspor keseluruhan.
Kinerja Ekspor Indonesia Menurut Sektor
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terdapat peningkatan ekspor sektor nonmigas, yang turut berkontribusi signifikan terhadap total nilai dan berat bersih ekspor Indonesia.
Pada tahun 2024, nilai total ekspor sektor nonmigas adalah US$250,62 miliar, yang kemudian naik sejumlah 7,61% menjadi US$269,72 miliar pada 2025.
Sebaliknya, kinerja sektor migas menunjukkan penurunan sebesar 19,45% dengan nilai ekspor yang turun dari US$15,88 miliar pada tahun 2024 menjadi US$12,79 miliar pada tahun 2025.
Penurunan nilai ekspor pada sektor migas salah satunya disebabkan oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Harga yang semula US$71,61 per barel pada tahun 2024, turun menjadi US$61,10 per barel pada tahun 2025. Penurunan juga terjadi karena jumlah berat bersih komoditas yang diekspor menurun.
Komoditas minyak mentah (crude oil) hanya menyumbang 0,55% total ekspor keseluruhan. Masih dari sektor migas, komoditas hasil minyak (oil products) dan gas alam juga tidak jauh berbeda, hanya 1,43% dan 2,55%.
Angka yang kontras ditunjukkan oleh sektor nonmigas. Dari keseluruhan 95,47% total ekspor yang dikontribusikan oleh sektor nonmigas, industri pengolahan (manufacturing) menjadi penyumbang utamanya dengan total 80,38%.
Peringkat kedua penyumbang total ekspor terbanyak di sektor nonmigas adalah industri pertambangan (mining) yaitu sebesar 12,5%. Menyusul di urutan selanjutnya adalah industri pertanian (agriculture) yang berhasil berkontribusi sebesar 2,42% untuk total ekspor Indonesia.
Beberapa komoditas andalan dari aktivitas ekspor industri pengolahan adalah minyak kelapa sawit, logam dasar bukan besi, besi dan baja, serta nikel. Meskipun nilainya fluktuatif dari tahun ke tahun, komoditas-komoditas tersebut selalu menjadi penyumbang total ekspor Indonesia.
Pada industri pertanian, kopi menjadi komoditas paling produktif, diikuti oleh buah-buah tahunan (annual fruits), dan tanamanan obat, aromatik dan rempah-rempah.
Sementara itu, di industri pertambangan, penyumbang total ekspor tertinggi dipegang oleh komoditas batu bara, diikuti oleh lignit, dan bijih tembaga. Meskipun kontribusi industri pertambangan masih tergolong tinggi, faktanya pada tahun 2025 jumlah ekspor komoditas ini terus menurun.
Baca Juga: 10 Daerah dengan Tingkat Inflasi Tertinggi di Jawa Barat Juni 2026
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/08/10/556d446e35c86054cb33739f/statistik-perdagangan-luar-negeri-indonesia-ekspor-2025.html