Bank Indonesia (BI) memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 mencapai 224,4 tumbuh 0,9% year-on-year (yoy). Capaian tersebut jadi perbaikan signifikan setelah IPR Juni 2026 masih terkontraksi 3,0% yoy.
Pada saat aktivitas ritel diperkirakan kembali tumbuh, tingkat keyakinan konsumen justru melandai. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 tercatat 116,8, turun dari 117,8 pada Juni.
Meski masih berada di atas level 100 atau zona optimistis, pergerakan konsumen belum sepenuhnya agresif dalam membelanjakan uangnya.
Makanan Hingga Suku Cadang Jadi Motor Penjualan
Penjualan pada Juli ditopang tiga kelompok barang. Penjualan kelompok suku cadang dan aksesori diperkirakan tumbuh paling tinggi, mencapai 10,8% yoy.
Kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya naik 2,5%, sedangkan makanan, minuman, dan tembakau berbalik tumbuh 1,6% yoy setelah pada Juni terkontraksi 3,6%.
Kembalinya kelompok makanan, minuman, dan tembakau ke zona positif penting diperhatikan. Kelompok ini memiliki indeks sebesar 315,5, jauh lebih tinggi dibandingkan sebagian besar kelompok lainnya
Di sisi lain, perbaikan belum terjadi secara merata. penjualan peralatan informasi dan komunikasi diprakirakan masih terkontraksi 20,8% yoy. Barang budaya dan rekreasi juga turun 10,4%, sementara Sandang terkontraksi 4,1%.
Indikator Konsumsi dan Inflasi
| Indikator | Juni 2026 | Juli 2026 |
| IPR Nasional | 225,0 | 224,4* |
| Pertumbuhan IPR (yoy) | -3,0% | 0,9%* |
| Pertumbuhan IPR month-to-month (mtm) | 0,7% | -0,3%* |
| Makanan, Minuman & Tembakau (yoy) | -3,6% | 1,6%* |
| Suku Cadang & Aksesori (yoy) | 18,8% | 10,8%* |
| Perlengkapan Rumah Tangga (yoy) | 2,8% | 2,5%* |
| Informasi & Komunikasi (yoy) | -20,2% | -20,8%* |
| Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) | 117,8 | 116,8 |
| Inflasi (yoy) | 3,34% | 2,88% |
| Inflasi (mtm) | — | -0,14% |
*Juli 2026 untuk IPR merupakan angka prakiraan BI.
Baca Juga: Bansos Tahap 3 Agustus 2026 Kapan Cair? Simak Jadwal Terbarunya
Penjualan Naik, Konsumen Masih Berhati-hati
IKK Juli berada pada level 116,8, menurun dari 117,8 pada Juni. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga turun dari 109,2 menjadi 107,9, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen turun dari 126,4 menjadi 125,7.
Pada saat yang sama, tekanan harga relatif lebih terkendali. BPS mencatat inflasi Juli 2026 sebesar 2,88% yoy, lebih rendah dibandingkan 3,34% pada Juni. Secara bulanan bahkan terjadi deflasi 0,14%. Inflasi inti tercatat 2,76% yoy.
Dengan kata lain, perbaikan transaksi ritel belum otomatis dapat diartikan sebagai lonjakan daya beli secara menyeluruh.
Manado dan Medan Memimpin Pertumbuhan Penjualan
Perbedaan juga terlihat antarwilayah. BI memprakirakan pertumbuhan IPR Juli secara tahunan tertinggi terjadi di Manado sebesar 24,7%, disusul Medan dengan 15,6%, Bandung sebesar 9,8%, Denpasar sebesar 7,6%, Semarang dan Purwokerto sebesar 6,1%, Banjarmasin sebesar 4,7%, serta Jakarta dengan 1,6%.
Sebaliknya, Surabaya masih diprakirakan mengalami kontraksi 1,5% secara tahunan. Secara bulanan, Bandung bahkan turun 10% dan Jakarta turun 1,2%.
Ke depan, pelaku usaha masih melihat peluang peningkatan transaksi menjelang akhir tahun. Indeks Ekspektasi Penjualan Desember 2026 mencapai 171,6, naik dari 153,8 untuk November.
Metodologi Survei Penjualan Eceran
Survei Penjualan Eceran (SPE) dilakukan Bank Indonesia setiap bulan terhadap sekitar 700 pengecer di 10 kota untuk memperoleh indikator awal pergerakan konsumsi rumah tangga dan PDB.
Indikator utamanya adalah IPR dengan tahun dasar 2010=100. Selain itu, BI juga menghitung Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) dan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk melihat optimisme penjualan dan perkiraan tekanan harga ke depan. Indeks di atas 100 menunjukkan kondisi optimistis.
Baca Juga: Ekonomi RI Q2-2026 Tumbuh 5,29%, Apakah Dirasakan Warga?
Sumber:
https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2815526.aspx