Aktivitas perdagangan internasional Indonesia, utamanya kegiatan impor terus menunjukan tren peningkatan yang cukup signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 tercatat sebesar 137.237,3 juta US Dolar.
Angka ini menempatkan semester pertama 2026 sebagai periode dengan nilai impor kumulatif tertinggi dibandingkan periode yang sama pada empat tahun sebelumnya terhitung sejak 2022 hingga tahun 2025.
Baca juga: Indonesia Impor 17 Juta Ton Minyak Mentah pada 2025
Naik 18,69 Persen Dibanding Tahun Lalu
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Januari-Juni 2025 yang nilainya tercatat115.630,8 juta US Dolar, nilai impor Indonesia pada Januari-Juni 2026 mengalami kenaikan sebesar 21.606,5 juta US Dolar yang jika dipresentasikan meningkat sebesar 18,69%. Kenaikan aktivitas impor ini tergolong tajam, mengingat pada periode yang sama di tahun 2025 nilai impor justru sempat turun dibandingkan Januari-Juni 2024 yang berada di angka 110.151,1 juta US Dolar.
Dengan tren tersebut, pertumbuhan impor Indonesia pada semester pertama 2026 bisa dibilang menjadi yang paling ekspansif dalam lima tahun terakhir, mengingat kenaikan setinggi 18,69 persen tidak pernah terjadi pada periode Januari-Juni di tahun-tahun sebelumnya.
Nonmigas Masih Mendominasi, tapi Migas Tumbuh Lebih Cepat
Dilihat dari komponen penyusunnya, peningkatan nilai impor Januari-Juni 2026 didorong oleh naiknya nilai impor di kedua kelompok, baik nonmigas maupun migas.
Impor nonmigas tercatat naik 15.465,7 juta US Dolar atau 15,50 persen, dari99.768,1 juta US Dolar pada Januari-Juni 2025 menjadi 115.233,8 juta Us Dolar pada Januari-Juni 2026. Secara nominal, kenaikan impor nonmigas inilah yang menjadi penyumbang terbesar terhadap total kenaikan impor nasional.
Namun jika dilihat dari sisi laju pertumbuhannya, impor migas justru melesat jauh lebih tinggi. Nilai impor migas naik 6.140,8 juta US Dolar atau 38,71 persen, dari 15.862,7 juta US Dolar pada Januari-Juni 2025 menjadi 22.003,5 juta US Dolar pada Januari-Juni 2026. Persentase kenaikan migas ini lebih dari dua kali lipat laju kenaikan nonmigas, meski secara nilai absolut kontribusinya terhadap kenaikan total tetap lebih kecil dibanding kenaikan impor nonmigas.
Kendati demikian, dari sisi proporsi, nonmigas tetap mendominasi struktur impor Indonesia. Sepanjang Januari-Juni 2022 hingga Januari-Juni 2026, rata-rata peran nonmigas mencapai 84,37% dari total impor per periode, sementara migas hanya berkontribusi rata-rata 15,63%. Pada Januari-Juni 2026 sendiri, komposisi peranannya adalah 83,97% nonmigas dan 16,03% migas. Porsi migas yang sedikit ini lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya, sejalan dengan lonjakan pertumbuhannya yang mencapai hampir 39%.
Tren Bulanan: Impor Melonjak Menjelang Pertengahan Tahun
Jika ditelusuri lebih detail secara bulanan, tren kenaikan nilai impor sepanjang semester pertama 2026 tidak berjalan linier. Nilai impor migas sempat berada di titik terendah pada Februari 2026, yakni hanya 1.996,7 juta US Dolar, sebelum melonjak signifikan ke level tertinggi pada April 2026 di angka 4.598,6 juta US Dolar. Setelahnya, nilai impor migas relatif bertahan di kisaran 4,3 - 4,6 miliar US Dolar hingga Juni 2026 yang tercatat 4.558,0 juta US Dolar.
Sementara itu, impor nonmigas sempat berada di titik terendah pada Maret 2026 dengan nilai 16.036,3 juta US Dolar, kemudian terus merangkak naik hingga mencapai puncaknya pada Juni 2026 senilai 21.351,2 juta US Dolar. Tren kenaikan nonmigas pada April hingga Juni 2026 inilah yang turut mendorong total nilai impor bulanan terus meningkat, hingga akhirnya pada Juni 2026 total impor Indonesia tercatat 25.909,2 juta US Dolar, naik 4,41 persen dibandingkan Mei 2026.
Menariknya, jika dibandingkan Juni 2025, nilai impor pada Juni 2026 juga tercatat naik cukup tinggi, yakni 6.613,3 juta US Dolar atau 34,27%. Peningkatan pada bulan Juni ini didorong oleh bertambahnya impor nonmigas senilai 4.277,1 juta US Dolar (25,05 persen) serta migas senilai 2.336,2 juta US Dolar (105,15 persen). kenaikan impor migas yang bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Dari sisi migas sendiri, terjadi akibat naiknya impor hasil minyak senilai 1.202,7 juta US Dolar (73,37 persen), sementara impor minyak mentah justru naik lebih tinggi lagi secara persentase, yakni 1.133,5 juta US Dolar (194,56 persen), meski nilai absolutnya lebih kecil dibanding hasil minyak.
Secara keseluruhan, data ini menggambarkan bahwa aktivitas impor Indonesia pada semester pertama 2026 tumbuh lebih ekspansif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan kenaikan mencapai 18,69 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut ditopang oleh dua sisi sekaligus yaitu nonmigas yang menyumbang porsi kenaikan terbesar secara nilai, serta migas yang mencatatkan laju pertumbuhan tercepat. Pola ini juga terlihat konsisten hingga akhir periode, dimana Juni 2026 menjadi bulan dengan nilai impor tertinggi sekaligus mencatatkan lonjakan tahunan yang tajam, baik dari sisi migas maupun nonmigas.
Baca juga: Bahan Bakar Mineral Jadi Produk yang Paling Banyak Diimpor Indonesia
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/08/31/0ce6cf7a4d238bc6da50fce1/statistik-perdagangan-luar-negeri-bulanan-impor-juni-2026.html