Jakarta cukup gencar melakukan impor dari beberapa negara guna memenuhi kebutuhannya. Dua jalur utama kegiatan impor Jakarta adalah jalur laut melalui Pelabuhan Tanjung Priok dan jalur udara melalui Area Kargo Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Selain untuk menunjang kebutuhan kotanya, Jakarta juga melakukan impor untuk melayani kebutuhan pasar nasional. Terdapat beragam komoditas yang diimpor, mulai dari mesin dan peralatan elektronik, komoditas migas, hingga berbagai produk konsumsi.
Aktivitas perdagangan lintas negara ini membawa sejumlah dampak bagi pelakunya. Dari sisi positif, impor dapat meningkatkan ketersediaan barang di pasar, memperluas variasi produk, serta mendorong peningkatan kualitas melalui persaingan, yang pada akhirnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun di sisi lain, ketergantungan yang tinggi terhadap impor juga berpotensi menekan daya saing produk lokal, mengurangi pangsa pasar industri dalam negeri, dan dalam jangka panjang dapat melemahkan struktur industri di suatu wilayah jika tidak diimbangi dengan penguatan produksi domestik.
Lantas, negara mana saja yang menjadi asal impor terbesar di Jakarta?
Baca Juga: Jakarta Selatan Jadi Kota dengan Pengeluaran Terbesar di Indonesia 2025
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada April 2026, Jakarta paling banyak melakukan impor dari China. Besaran impornya mencapai US$3.715,84 juta atau 46,78% dari total impor Jakarta. Nominal tersebut berselisih jauh dari negara-negara asal impor lainnya. Fenomena ini dilatarbelakangi oleh murahnya harga yang ditawarkan serta kemudahan proses logistik.
Selain itu, China juga dikenal sebagai salah satu pusat pemasok berbagai jenis barang di dunia, mulai dari bahan baku industri hingga produk konsumsi. Kondisi ini menjadikan China sebagai mitra dagang bagi beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta.
Meski begitu, dominasi impor dari satu negara dapat menciptakan kondisi ketergantungan. Jika terjadi permasalahan pasokan atau perubahan kondisi ekonomi-politik di negara asal impor, tidak menutup kemungkinan aktivitas perdagangan dan industri yang bergantung pada produk impor akan ikut terdampak.
Di urutan kedua terdapat Jepang dengan besaran impor menyentuh US$745,82 juta, disusul oleh Tailan (US$530,60 juta), Singapura (US$336,06 juta), Malaysia (US$335,87 juta), Australia (US$282,88 juta), Korea Selatan (US$281,67 juta), Vietnam (US$263,68 juta), India (US$261,97 juta), dan Amerika Serikat (US$259,47 juta).
Kesepuluh negara di atas berkontribusi 88,25% terhadap total impor Jakarta sepanjang April 2026.
Dominasi negara-negara Asia dalam pemeringkatan menunjukkan hubungan perdagangan yang kuat antara Jakarta dengan kawasan regional. Faktor geografis dapat mendukung tingginya angka impor dari negara-negara tersebut.
Dibandingkan triwulan sebelumnya, nilai impor Jakarta dari sepuluh negara di atas mengalami peningkatan sebesar US$2.089,35 juta atau 9,90%. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas impor dari China (US$2.357,04 juta), Malaysia (US$146,97 juta), dan Australia (US$100,39 juta).
Baca Juga: 10 Museum Terbesar di Setiap Negara ASEAN, Ada Museum Gajah
Sumber:
https://jakarta.bps.go.id/id/publication/2026/06/05/3bf2957bae4a6a12b6f1460d/berita-resmi-statistik-provinsi-dki-jakarta-juni-2026.html
Penulis: Alifia Ayu Fitriana
Editor: Editor