80% Jurnalis Indonesia Pernah Melakukan Swasensor, Ini Alasannya!

Indeks Keselamatan Jurnalis mengungkapkan 80% responden pernah melakukan swasensor untuk menghindari konflik, hingga demi melindungi keselamatan pribadi.

80% Jurnalis Indonesia Pernah Melakukan Swasensor, Ini Alasannya! Ilustrasi Jurnalis | Mokhtar/Pexels
Ukuran Fon:

Swasensor atau self-censorship adalah praktik pembatasan dan penyesuaian konten berita yang dilakukan oleh jurnalis sebelum dipublikasikan. Tindakan swasensor muncul akibat kekhawatiran terhadap konsekuensi tertentu yang sering kali timbul karena rasa takut, tekanan eksternal, atau pertimbangan etika.

Berdasarkan laporan Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 yang disusun oleh Yayasan Tifa bersama Konsorsium Jurnalis Aman dan Populix, fenomena swasensor menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan, dialami oleh 80% jurnalis Indonesia. Angka tersebut diambil melalui survei dan wawancara mendalam terhadap 655 responden kalangan media pada 10 November–31 Desember 2025.

Dalam laporan tersebut, praktik swasensor terungkap dilakukan dalam berbagai level redaksi. Adapun 82% jurnalis yang terjun ke lapangan mengaku pernah melakukan swasensor dalam hasil pemberitaannya. Tidak sampai di situ, 77% editor atau redaktur serta 70% pemimpin redaksi menyatakan pernah melakukan praktik self-censorship serupa.

Mengapa Jurnalis Melakukan Swasensor?

6 Alasan Jurnalis Melakukan Swasensor | GoodStats
6 Alasan Jurnalis Melakukan Swasensor | GoodStats

Baca Juga: Praktik Swasensor Meningkat, 7 Isu PSN Ini Paling Dianggap Berisiko

Menurut 523 dari 655 responden yang menyatakan pernah melakukan swasensor, 70% di antaranya mengaku memiliki keinginan untuk menghindari konflik atau kontroversi berlebihan sehingga melakukan pembatasan atau penyensoran dalam pemberitaannya.

Sementara itu, 63% responden menyatakan swasensor dilakukan sebagai perlindungan terhadap informasi rahasia untuk menjaga keamanan sumber. Di sisi lain, sebanyak 27% menyatakan memiliki kekhawatiran terhadap keselamatan pribadi sehingga memutuskan melakukan swasensor.

Munculnya ketakutan dalam melakukan liputan selaras dengan alasan keempat, yakni adanya tekanan dari pihak tertentu baik dari pemerintah, pihak berkepentingan, atau kebijakan perusahaan dan editorial, sehingga mendorong 13% jurnalis melakukan swasensor.

Hasil analisis IKJ menunjukkan, swasensor telah menjadi mekanisme pertahanan diri jurnalis di tengah tingginya risiko kerja dan tekanan, baik dari eksternal maupun internal.

“Banyak jurnalis membatasi diri bukan karena tidak memahami isu yang penting bagi publik, tapi karena bertahan di tengah sistem yang menekan,” ujar Project Officer Jurnalisme Aman, Arie Mega, dikutip dari RRI pada Senin (16/2/2026).

Adapun isu atau topik pemberitaan yang paling sering dilakukan swasensor sepanjang 2025 menurut pantauan IKJ adalah pemberitaan Makan Bergizi Gratis (MBG).

7 Topik Berita yang Sering Kena Swasensor

Jenis Isu/Topik Tulisan yang Sering Dilakukan Swasensor | GoodStats
Jenis Isu/Topik Tulisan yang Sering Dilakukan Swasensor | GoodStats

Menurut temuan IKJ, swasensor paling sering terjadi pada isu-isu strategis pemerintah sepanjang 2025. Sebanyak 58% responden mengaku isu MBG menjadi topik pemberitaan yang paling sering dilakukan swasensor, disusul isu Proyek Strategis Nasional (PSN) sebanyak 52%.

Temuan tersebut menunjukkan jurnalis condong berhati-hati hingga membatasi diri saat meliput agenda strategis pemerintah. IKJ mengungkapkan, hal ini dilakukan karena tingginya sensitivitas politik dan potensi tekanan sehingga berdampak pada ruang kebebasan pemberitaan.

Selain itu, praktik swasensor turut dilakukan dalam isu kriminalitas (49%), isu pemerintahan, korupsi, dan birokrasi (40%), serta isu demonstrasi dan keamanan yang masing-masing sebesar 37%.

Di sisi lain, jurnalis juga terungkap melakukan swasensor dalam pemberitaan menyangkut agama dan kepercayaan menurut 33% responden.

Pemerintah Komitmen Lindungi Hak Jurnalis

Menanggapi tingginya praktik swasensor di kalangan jurnalis, Direktur Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nursodik Gunarjo menyatakan pemerintah berkomitmen dalam hal perlindungan jurnalis.

Komitmen tersebut, kata Nursodik, diwujudkan melalui perbaikan regulasi dan kolaborasi lintas sektor.

“Kita memerlukan mekanisme proses cepat atas kasus kekerasan terhadap jurnalis dan penguatan perlindungan institusional di ruang redaksi. Dan yang penting harus keberanian kolektif dari kita semua untuk menghindari swasensor,” tegasnya, dilansir dari RRI pada Senin (16/2/2026).

Baca Juga: Potret Hambatan Liputan Jurnalis pada Tahun Pertama Prabowo-Gibran

Sumber:

www.tifafoundation.id/Media-IKJ2025

Penulis: Talita Aqila Shafidhya
Editor: Editor

Konten Terkait

80% Jurnalis Indonesia Pernah Melakukan Swasensor, Ini Alasannya!

Indeks Keselamatan Jurnalis mengungkapkan 80% responden pernah melakukan swasensor untuk menghindari konflik, hingga demi melindungi keselamatan pribadi.

Tingkat Pengangguran Indonesia Tak Sampai 5%, Penduduk Kerja Tembus 95%

Angka pengangguran dan penduduk bekerja di Indonesia relatif stabil sepanjang tahun 2025.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook