Inilah 10 Kota Paling Ramah Pejalan Kaki di Dunia, Apakah Jakarta Ada?

Kota mana saja yang paling ramah pejalan kaki di dunia? Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Inilah 10 Kota Paling Ramah Pejalan Kaki di Dunia, Apakah Jakarta Ada? Ilustrasi Walkable City | Miles Rothoerl/Pexels
Ukuran Fon:

Kota ramah pejalan kaki atau walkable city semakin menjadi tolok ukur penting dalam menilai kualitas hidup perkotaan. Kota terbaik untuk pejalan kaki biasanya memiliki trotoar nyaman, transportasi publik yang terintegrasi, kualitas udara yang baik, hingga ruang publik yang aman untuk dijelajahi tanpa kendaraan pribadi. Tak heran jika konsep pedestrian friendly-city kini mulai menjadi perhatian banyak negara di dunia.

Melalui survei tahunan yang melibatkan sekitar 24 ribu responden global, Time Out merilis daftar kota paling nyaman untuk jalan kaki pada 2026. Penilaian  ini dilakukan berdasarkan pengalaman warga lokal dalam menikmati kota mereka dengan berjalan kaki, mulai dari akses menuju tempat makan, ruang seni, pusat hiburan, hingga kawasan publik lainnya.

Menariknya, kota-kota yang masuk daftar ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga berhasil membangun budaya berjalan kaki yang kuat. Berikut 10 kota paling ramah pejalan kaki di dunia pada 2026.

Baca Juga: 10 Negara Paling Gemar Jalan Kaki dan Bersepeda, Indonesia Peringkat Berapa?

10 Kota Paling Ramah Pejalan Kaki di Dunia

10 Kota Paling Ramah pejalan kaki di Dunia | GoodStats
10 Kota Paling Ramah pejalan kaki di Dunia | GoodStats

1. Seoul, Korea Selatan

Seoul berada di posisi teratas dengan skor walkable city mencapai 93 persen. Meski merupakan kota metropolitan yang padat, Seoul dikenal aman dan mudah diakses oleh pedestrian, bahkan hingga malam hari.

Kawasan seperti Myeongdong, Hongdae, dan Insadong menjadi contoh area yang hidup berkat budaya berjalan kaki. Seoul juga memiliki Seoullo 7017, bekas jalan layang yang disulap menjadi taman pedestrian hijau di tengah kota.

2. Edinburgh, Skotlandia

Skor kota ramah pejalan kaki milik Edinburgh juga menyentuh angka 93 persen. Kota tua ini memang terkenal memiliki pusat kota yang padat destinasi wisata, sehingga banyak tempat ikonik dapat dijangkau hanya dalam beberapa menit berjalan kaki.

Mulai dari Edinburgh Castle hingga Calton Hill berada dalam area yang saling terhubung dengan nyaman bagi pedestrian. Budaya jalan kaki juga semakin terasa saat festival besar seperti Edinburgh Fringe berlangsung.

3. New York City, Amerika Serikat

New York City memperoleh skor walkability sebesar 91 persen. Tata kota Manhattan dengan sistem grid membuat navigasi terasa lebih mudah meski kawasan ini sangat padat dan sibuk.

Selain Manhattan, kawasan Brooklyn seperti Williamsburg dan DUMBO juga dikenal nyaman dijelajahi pejalan kaki. Kehadiran jalur pedestrian di Brooklyn Bridge semakin memperkuat budaya berjalan kaki di kota ini.

4. Copenhagen, Denmark

Sebagai salah satu pelopor kota ramah pedestrian di Eropa, Copenhagen berhasil mencatat skor walkable city sebesar 90 persen. Kawasan Strøget yang dipenuhi toko, ruang publik, dan pertunjukan jalanan menjadi simbol bagaimana Copenhagen memprioritaskan manusia dibanding kendaraan pribadi.

5. Oslo, Norwegia

Oslo mencatat tingkat walkability sebesar 89 persen. Dalam beberapa tahun terakhir, Oslo terus mengurangi penggunaan mobil di pusat kota melalui program kota bebas kendaraan.

Pemerintah setempat memperluas jalur pedestrian dan sepeda, sekaligus mengurangi area parkir kendaraan bermotor demi menciptakan ruang kota yang lebih sehat.

6. Stockholm, Swedia

Dengan skor pedestrian-friendly mencapai 88 persen, Stockholm menjadi salah satu kota paling nyaman untuk berjalan kaki di kawasan Nordik.

Stockholm menerapkan konsep 15-minute city, yakni kebutuhan harian dapat dijangkau hanya dalam waktu sekitar 15 menit berjalan kaki.

7. Paris, Prancis

Paris juga memperoleh skor walkable city sebesar 88 persen. Dalam dua dekade terakhir, Paris melakukan transformasi besar dengan mengurangi lalu lintas kendaraan dan memperluas kawasan bebas mobil.

Banyak ruas jalan di sekitar sekolah kini diprioritaskan untuk pejalan kaki demi menciptakan lingkungan yang lebih aman sekaligus mengurangi polusi udara.

8. Singapura

Sebagai kota tropis modern, Singapore meraih skor walkability sebesar 86 persen. Infrastruktur pedestrian di Singapura dirancang sangat terintegrasi dengan transportasi publik. Keberadaan jalur pejalan kaki beratap juga membuat warga tetap nyaman berjalan meski cuaca panas atau hujan.

9. Helsinki, Finlandia

Helsinki mendapatkan skor kota ramah pejalan kaki sebesar 85 persen. Helsinki memiliki desain kota yang kompak dan memprioritaskan mobilitas manusia dibanding kendaraan pribadi.

Salah satu contohnya adalah Baana, bekas jalur kereta yang diubah menjadi koridor khusus pejalan kaki dan pesepeda.

10. Krakow, Polandia

Di posisi terakhir, Krakow mencatat skor walkable city sebesar 83 persen. Kawasan kota tua Krakow sengaja dibuat bebas kendaraan demi menjaga kenyamanan wisatawan dan melindungi area bersejarah. Wilayah Stare Miasto dan Kazimierz menjadi contoh bagaimana kota bersejarah tetap dapat hidup tanpa bergantung pada kendaraan pribadi.

Baca Juga: 9 Provinsi yang Dianggap “Aman” Untuk Berjalan Kaki Sendirian

Bagaimana Dengan Kondisi di Indonesia?

Jika dibandingkan dengan kota-kota di atas, kondisi pedestrian di Jakarta dan berbagai kota besar di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Trotoar sering kali rusak, sempit, terputus, atau bahkan dialihfungsikan menjadi tempat parkir liar dan area berdagang kaki lima.

Di beberapa wilayah seperti Yogyakarta, pejalan kaki masih kerap turun ke badan jalan karena trotoar dipenuhi kendaraan maupun aktivitas komersial. Zebra cross juga belum tersedia secara merata dan belum sepenuhnya aman bagi lansia maupun penyandang disabilitas.

Selain infrastruktur yang belum memadai, budaya jalan kaki di Indonesia juga belum terbentuk kuat. Banyak masyarakat lebih memilih menggunakan motor atau mobil pribadi karena transportasi umum dianggap belum nyaman dan belum terintegrasi dengan baik.

Kualitas udara perkotaan yang buruk turut menjadi alasan lain mengapa masyarakat enggan berjalan kaki. Tingginya polusi kendaraan bermotor membuat aktivitas berjalan kaki terasa melelahkan dan tidak nyaman, terutama di kota-kota besar.

Padahal, kota ramah pejalan kaki bukan hanya soal estetika perkotaan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, hingga pengurangan emisi karbon.

Berbagai riset bahkan menunjukkan bahwa penguatan transportasi publik dan budaya berjalan kaki dapat membantu menekan emisi transportasi secara signifikan di masa depan.

Karena itu, peran pemerintah menjadi sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki. Penataan trotoar, penyediaan zebra cross yang layak, integrasi transportasi publik, hingga penegakan aturan terhadap parkir liar perlu dilakukan secara konsisten.

Ketika kota mulai memprioritaskan manusia dibanding kendaraan pribadi, masyarakat pun perlahan akan terbiasa berjalan kaki.

Sebab pada akhirnya, kota modern bukan hanya tentang jalan raya yang lebar, melainkan tentang seberapa nyaman warganya bisa bergerak dengan aman tanpa harus selalu bergantung pada kendaraan pribadi.

Baca Juga: 10 Provinsi Paling Aman Untuk Jalan Kaki Sendirian 2025

Sumber:

https://www.timeout.com/travel/most-walkable-cities-2026

Penulis: Raka Adichandra
Editor: Firda Wandira

Konten Terkait

Harga Emas Antam Hari Ini 18 Mei 2026 Turun Rp5.000, Buyback Ikut Melemah

Harga emas Antam hari ini, 18 Mei 2026, turun Rp5.000 menjadi Rp2.764.000 per gram. Simak rincian harga terbaru dan penurunan buyback emas Antam di sini.

Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Rabu 13 Mei 2026  Turun Rp20.000, Simak Daftar Harga Terbarunya

Harga emas Antam hari ini turun Rp20.000. Simak daftar harga emas terbaru di Pegadaian mulai 0,5 gram hingga 1.000 gram serta faktor penyebab pergerakannya.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook