Untuk mengetahui tingkat dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, diperlukan data statistik Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara berkala.
Statistik PDRB digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan nasional atau regional, khususnya di bidang ekonomi. Data tersebut juga berfungsi sebagai bahan evaluasi dari hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik pemerintah pusat, daerah, maupun swasta.
PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir (neto) yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi.
Terdapat dua jenis nilai PDRB, yaitu Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).
PDRB ADHB menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedangkan PDRB ADHK menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar.
10 Kabupaten/Kota dengan Nilai PDRB Tertinggi di Pulau Kalimantan
Baca Juga: 10 Wilayah Terkaya di Pulau Jawa Berdasarkan PDRB per Kapita 2025, DKI Jakarta Dominasi
Kota Bontang di Kalimantan Timur menduduki peringkat pertama wilayah dengan PDRB tertinggi di Pulau Kalimantan, mencapai Rp371,19 juta per kapita pada tahun 2025.
Industri pengolahan menjadi sektor ekonomi terkuat yang menyumbang porsi PDRB tertinggi. Terdapat dua subsektor industri pengolahan yang mendominasi Kota Bontang, yaitu industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi (termasuk pupuk), serta pengilangan gas alam cair (LNG).
Peringkat kedua wilayah terkaya di Kalimantan ditempati oleh Kabupaten Tana Tidung di Kalimantan Utara dengan total PDRB ADHB senilai Rp338,61 juta per kapita. Perekonomian Tana Tidung didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian, terutama pada komoditas batu bara dan migas.
Berikutnya adalah Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara di Provinsi Kalimantan Timur, dengan nilai PDRB masing-masing Rp325,07 juta per kapita dan Rp249,11 juta per kapita.
Kedua kabupaten tersebut memiliki produktivitas tinggi pada sektor pertambangan dan penggalian. Komoditas utama di Kutai Timur adalah batu bara, sedangkan komoditas andalan di Kutai Kartanegara adalah batu bara, migas, dan mineral lainnya seperti silika.
Peringkat kelima masih ditempati oleh wilayah di Kalimantan Timur, yaitu Kota Balikpapan dengan nilai PDRB sebesar Rp233,40 juta per kapita. Berbeda dengan kedua daerah sebelumya, perekonomian Balikpapan ditopang oleh industri pengolahan.
Selanjutnya dengan nilai PDRB yang tidak terpaut jauh adalah Kota Tarakan di Provinsi Kalimantan Utara. Berada di posisi keenam, PDRB Kota Tarakan pada tahun 2025 mencatatkan angka Rp233,10 juta per kapita.
Sekitar 26,5% nilai PDRB Kota Tarakan disumbang oleh sektor perdagangan besar dan eceran, hal ini tidak terlepas dari peran strategisnya sebagai kota transit dan gerbang logistik utama di wilayah Kalimantan Utara.
Kembali ke Kalimantan Timur, urutan ketujuh ditempati oleh Kabupaten Kutai Barat dengan total PDRB senilai Rp229,65 juta per kapita. Sama seperti beberapa daerah sebelumnya, perekonomian Kutai Barat disokong oleh sektor pertambangan dan penggalian.
Kabupaten Malinau di Kalimantan Utara menduduki peringkat kedelapan, mencatatkan nilai PDRB sebesar Rp215,36 juta per kapita dengan pertambangan dan penggalian sebagai sektor utama.
Kedua wilayah terakhir dalam daftar ini juga turut didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian. Peringkat kesembilan diduduki oleh Kabupaten Nunukan di Kalimantan Utara dengan PDRB senilai Rp199,72 juta per kapita, diikuti Kabupaten Paser di Kalimantan Timur dengan Rp196,72 juta per kapita.
Dominasi Sektor Pertambangan dan Penggalian di Kalimantan
Kekayaan sumber daya alam yang melimpah menjadikan sektor pertambangan dan penggalian sebagai tulang punggung utama perekonomian di cukup banyak wilayah di Kalimantan.
Kondisi geologis di Pulau Kalimantan sangat mendukung berkembangnya industri ekstraktif berskala besar, mulai dari komoditas batu bara, minyak bumi, gas alam, hingga komoditas mineral lainnya.
Masifnya sektor ini juga turut mengembangkan industri pengolahan. Cukup banyak industri manufaktur di Kalimantan, seperti kilang minyak, pengolahan gas alam cair, dan petrokimia, merupakan turunan dari sektor pertambangan yang tetap bergantung pada komoditas tambang dan migas tersebut.
Baca Juga: Luas Area Karhutla Indonesia Januari-Juni 2026, Kalimantan Masih Nomor 1!
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/09/15/1a754b92d26ea14d3dcac90c/tinjauan-regional-berdasarkan-pdrb-kabupaten-kota-2021-2025--buku-3-pulau-kalimantan.html