Ekonomi Makro

PDB ADHB Perikanan Indonesia Tembus Rp167 Triliun pada Triwulan II 2026

PDB ADHB perikanan Indonesia mencapai Rp167,83 triliun dengan ADHK Rp81,08 triliun pada Triwulan II 2026, tumbuh 6,86% secara tahunan.

PDB ADHB Perikanan Indonesia Tembus Rp167 Triliun pada Triwulan II 2026

Ilustrasi Penjual Ikan di Pasar | Elizabeth Dove/Pexels

Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi salah satu tolok ukur untuk menghitung skala aktivitas ekonomi sekaligus merangkum nilai tambah dari berbagai sektor produktif dalam kurun waktu tertentu.

Sektor perikanan menyokong perekonomian nasional melalui rangkaian kegiatan penangkapan, budi daya, serta pengolahan hasil perikanan yang menciptakan nilai tambah guna menyediakan pasokan pangan dan sumber penghidupan masyarakat luas.

Memantau pergerakan angka tersebut krusial untuk membaca arah pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan di tengah berbagai fluktuasi maupun siklus musiman.

Memahami PDB Perikanan melalui ADHK dan ADHB

Ada dua istilah yang perlu dibedakan saat membaca PDB perikanan, yakni Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) dan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB). Keduanya melihat nilai ekonomi yang sama, tetapi digunakan untuk membaca sisi yang berbeda.

ADHK menggunakan harga konstan sehingga pengaruh inflasi dapat ditekan. Ukuran ini lebih sesuai untuk melihat pertumbuhan ekonomi secara riil karena perubahannya murni mencerminkan dinamika volume aktivitas ekonomi.

Sementara itu, ADHB menggunakan harga yang berlaku pada periode penghitungan. Angkanya dipengaruhi perubahan aktivitas maupun harga, sehingga lebih tepat untuk melihat nilai ekonomi secara aktual serta porsi suatu sektor terhadap PDB nasional.

Pengukuran ini berlaku pada skala perekonomian secara agregat, bukan untuk menghitung pendapatan masing-masing nelayan atau pembudidaya. Perubahan PDB perikanan juga belum otomatis berarti pendapatan setiap pelaku usaha mengalami perubahan yang sama.

Berdasarkan pemahaman tersebut, Rilis Data Kelautan dan Perikanan Triwulan II 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyajikan potret nilai dan pertumbuhan ekonomi sektor perikanan secara menyeluruh.

Pertumbuhan PDB Perikanan Indonesia Triwulan II 2025 & 2026

Pertumbuhan Ekonomi Perikanan Indonesia Triwulan II 2026 Tumbuh 6,86% dibandingkan Triwulan II 2025 | GoodStats
Pertumbuhan Ekonomi Perikanan Indonesia Triwulan II 2026 Tumbuh 6,86% dibandingkan Triwulan II 2025 | GoodStats

Baca Juga: 5 Sektor Penyumbang Perekonomian Indonesia Terbesar pada Triwulan II 2026

Pada Triwulan II 2026, PDB ADHK perikanan membukukan angka Rp81,08 triliun dari Rp75,88 triliun pada Triwulan II 2025.

Sementara dari sisi ADHB, perikanan tercatat sebesar Rp167,83 triliun, meningkat dari posisi Rp150,85 triliun sekaligus memberikan kontribusi 2,56% terhadap PDB nasional yang menyentuh Rp6.552,07 triliun.

Peningkatan PDB perikanan dipengaruhi langsung oleh pertumbuhan volume produksi sekaligus tingkat produktivitas sektornya.

KKP menyebut budi daya menjadi penopang dalam struktur pertumbuhan perikanan pada Triwulan II 2026, dengan produksi sejumlah komoditas utama seperti nila, lele, dan patin yang melampaui target periode tersebut.

Capaian positif ini ditopang oleh penyaluran benih ikan dalam jumlah besar beserta pakan dan sarana pendukung produksi melalui program budi daya tematik guna menggenjot produktivitas serta memperkuat perekonomian desa.

Penguatan sektor ini turut ditempuh lewat penerapan teknologi mini recirculating aquaculture system (Mini RAS), yang mengintegrasikan rangkaian usaha mulai dari penyediaan sarana produksi hingga pengolahan hasil perikanan.

Demi memperluas dampaknya secara merata, KKP menargetkan penerapan sistem tersebut di 40 ribu titik desa hingga 2029.

Tren PDB Perikanan Indonesia Triwulan I 2024 - Triwulan II 2026

Pertumbuhan PDB Perikanan Indonesia naik 17,79% pada Triwulan II 2026 | GoodStats
Pertumbuhan PDB Perikanan Indonesia naik 17,79% pada Triwulan II 2026 | GoodStats

Jika ditinjau berdasarkan pertumbuhan PDB-nya, sepanjang 2024, pergerakan bermula dari posisi minus 14,30% pada Triwulan I sebelum berbalik melesat 13,26% pada Triwulan II.

Laju tersebut kemudian melandai pada Triwulan III di angka 2,25% dan ditutup melemah tipis 1,72% pada Triwulan IV.

Pola berulang yang serupa kembali tercatat pada 2025. Grafik kembali terkoreksi 13,20% pada Triwulan I, lalu melompat kuat 13,31% pada Triwulan II.

Selepas itu, tren melambat ke level 2,18% pada Triwulan III sebelum melonjak kembali hingga 12% pada Triwulan IV.

Adapun pada 2026, tekanan awal tahun terlihat semakin dalam dengan penyusutan mencapai 20,55% pada Triwulan I.

Meskipun demikian, penurunan drastis tersebut langsung terbayar pada Triwulan II 2026 lewat angka pertumbuhan 17,79%, yang sekaligus mencatatkan rekor tertinggi dalam rentang waktu yang diamati.

Sejalan dengan dinamika tersebut, pencapaian ekonomi sektor ini juga terefleksi dari pergerakan PDB berdasarkan ADHK yang naik dari Rp68,83 triliun pada Triwulan I 2026 ke Rp81,08 triliun pada Triwulan II 2026.

Di sisi lain, pergerakan PDB berdasarkan ADHB meningkat dari posisi Rp140,82 triliun ke angka Rp167,83 triliun pada periode yang sama.

Pola berulang tersebut menunjukkan bahwa kinerja sektor perikanan masih sangat dipengaruhi oleh perubahan musim dan kondisi alam, sehingga menghadirkan tantangan tersendiri bagi pelaku usaha dalam menjaga produktivitas.

Pemerintah memperkuat kapasitas para pelaku usaha melalui penyuluhan serta penerapan teknologi efisien guna menghadapi siklus fluktuasi tersebut.

Pembudidaya dapat mengelola proses produksi secara optimal agar kestabilan hasil usaha tetap terjaga melalui pendampingan teknologi bioflok dari KKP.

Baca Juga: Tren Produksi Perikanan Nasional 2021-2026, Subsektor Budi Daya Jadi Tulang Punggung

Sumber:

https://portaldata.kkp.go.id/portals/publikasi/rilis

Key Insights

  • PDB perikanan tumbuh riil 6,86% (ADHK) pada Triwulan II 2026, menunjukkan peningkatan volume aktivitas yang signifikan terlepas dari inflasi.
  • Kontribusi sektor perikanan sebesar 2,56% terhadap PDB nasional (ADHB) pada Triwulan II 2026 menunjukkan peran substansialnya dalam perekonomian.
  • Sektor budi daya, khususnya komoditas nila, lele, dan patin, menjadi pendorong utama pertumbuhan PDB perikanan, menandakan keberhasilan program pemerintah.
  • Penyaluran benih dan pakan melalui program budi daya tematik berhasil meningkatkan produktivitas dan memperkuat ekonomi desa.

Penulis: Rosita Fatimah Azahra Editor: Editor

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Lupa Sandi?