10 Provinsi Paling Minim Deforestasi 2025

DI Yogyakarta jadi satu-satunya provinsi yang tidak mengalami deforestasi pada 2025.

10 Provinsi Paling Minim Deforestasi 2025 Potret hutan | Pexels/Tom Fisk
Ukuran Fon:

Di tengah tingginya laju deforestasi di berbagai wilayah Indonesia, terdapat sejumlah provinsi yang justru mencatat angka kehilangan hutan relatif rendah pada 2025. Data ini menjadi penting untuk melihat wilayah mana yang masih mampu menjaga tutupan hutannya, baik karena faktor kebijakan, kondisi geografis, maupun tingkat tekanan ekonomi yang lebih rendah.

Namun, “minim deforestasi” tidak selalu berarti kondisi hutan sepenuhnya aman. Dalam banyak kasus, angka rendah juga dipengaruhi oleh keterbatasan luas hutan atau minimnya aktivitas eksploitasi skala besar.

Menurut Auriga Nusantara, luas deforestasi di Indonesia mencapai 433,7 ribu ha pada 2025, naik drastis dari tahun sebelumnya yang sebesar 261,5 ribu ha. Terdapat beberapa provinsi dengan angka deforestasi terendah.

Provinsi Paling Minim Deforestasi

Provinsi paling minim deforestasi | GoodStats
Provinsi paling minim deforestasi | GoodStats

Baca Juga: Indonesia Peringkat Ke-2 Negara dengan Deforestasi Terbesar

Provinsi dengan angka deforestasi paling kecil adalah DI Yogyakarta, yang mencatat nol hektare deforestasi sepanjang 2025. Angka ini menunjukkan tidak adanya perubahan tutupan hutan yang signifikan dalam periode tersebut. Namun, kondisi ini juga tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa wilayah ini memang memiliki luas hutan yang sangat terbatas sejak awal, sehingga potensi deforestasi pun relatif kecil.

Bali menyusul dengan hanya 61 hektare. Angka ini jauh lebih rendah dibanding wilayah lain di Indonesia. Kondisi ini tidak terlepas dari karakter Bali yang lebih mengandalkan sektor pariwisata dibanding eksploitasi sumber daya hutan. Selain itu, luas kawasan hutan di Bali memang terbatas dan relatif terjaga melalui kebijakan tata ruang serta kesadaran lingkungan yang cukup kuat.

Di posisi berikutnya, Jawa Tengah mencatat deforestasi sebesar 89 hektare. Sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, sebagian besar lahannya telah lama digunakan untuk pertanian dan permukiman. Hal ini membuat tekanan terhadap hutan yang tersisa relatif kecil, terutama karena kawasan hutan yang ada umumnya berada dalam pengelolaan negara atau kawasan lindung.

Kondisi serupa juga terlihat di Jawa Timur dan Jawa Barat, yang masing-masing mencatat deforestasi sebesar 657 hektare dan 690 hektare. Kedua provinsi ini menghadapi tekanan urbanisasi dan pembangunan infrastruktur yang tinggi, namun karena sebagian besar lahannya sudah terkonversi sejak lama, laju deforestasi tahunan menjadi relatif rendah.

Banten juga menunjukkan pola yang hampir sama dengan angka 784 hektare, meskipun wilayah ini masih memiliki kawasan konservasi penting seperti Taman Nasional Ujung Kulon yang membantu menjaga tutupan hutan.

Di luar Pulau Jawa, Kepulauan Bangka Belitung mencatat deforestasi sebesar 454 hektare. Meskipun dikenal sebagai wilayah pertambangan timah, angka ini menunjukkan bahwa aktivitas tersebut tidak sepenuhnya terjadi di kawasan hutan, atau terdapat pembatasan tertentu terhadap pembukaan lahan. 

Sementara itu, Sulawesi Utara dengan 495 hektare menunjukkan bahwa keberadaan taman nasional dan kawasan konservasi memiliki peran penting dalam menekan deforestasi.

Kepulauan Riau mencatat angka 965 hektare, yang relatif rendah dibanding provinsi berbasis daratan. Sebagai wilayah kepulauan dengan ekonomi yang bertumpu pada industri dan perdagangan, tekanan terhadap hutan memang tidak sebesar daerah dengan aktivitas perkebunan atau pertambangan intensif. 

Lampung, dengan deforestasi sebesar 1.111 hektare, masih tergolong rendah secara nasional, meskipun tekanan dari sektor pertanian dan perkebunan tetap ada.

Sementara itu, Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat angka tertinggi dalam daftar ini, yaitu 1.813 hektare, namun tetap termasuk kategori minim deforestasi jika dibandingkan dengan provinsi lain seperti di Kalimantan atau Papua. Hal ini sebagian dipengaruhi oleh kondisi geografis yang lebih kering serta keterbatasan hutan tropis lebat di wilayah tersebut.

Baca Juga: Deforestasi Indonesia Sentuh Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung

Sumber:

https://auriga.or.id/press_release/detail/65/status-of-deforestation-in-indonesia-2025

Penulis: Agnes Z. Yonatan

Konten Terkait

Sentimen Publik terhadap Mens Rea di Netflix: Antara Satir Politik dan Kontroversi Etika

Acara Mens Rea di Netflix memicu debat panas, dari pujian keberanian hingga kritik etika publik.

5 Ancaman Global Terbesar 2025, Hoaks Paling Ditakuti

Penyebaran hoaks menjadi ancaman terbesar menurut publik global, disusul krisis ekonomi dan terorisme.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook