Bagi sebuah negara, Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment/FDI) adalah bahan bakar yang dapat memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi, mentransfer teknologi mutakhir, menciptakan lapangan kerja, hingga membangun infrastruktur vital yang tidak bisa dibiayai sendiri oleh kas negara.
Negara tanpa daya tarik investasi asing yang kuat dapat tertinggal dalam rantai pasok global dan terisolasi dari arus inovasi dunia. Oleh karena itu, tingkat kepercayaan investor global menjadi cermin utama bagi kesehatan ekonomi dan stabilitas politik suatu negara.
Menanggapi pentingnya hal tersebut, Kearney baru saja merilis 2026 FDI Confidence Index, sebuah laporan tahunan yang memetakan pasar mana saja yang paling memikat bagi para investor perusahaan global untuk menanamkan modalnya dalam tiga tahun ke depan.
Menariknya, tahun ini Asia mencatatkan sejarah dengan merebut pangsa pasar terbesar dalam indeks utama global untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Lalu, bagaimana potret posisi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), khususnya Indonesia?
Posisi Negara ASEAN di Kelompok Utama
Baca Juga: 5 Negara dengan Investasi Terbesar di Indonesia 2015-2025
Sebagai informasi, Indeks Utama Global (Main Index) adalah peringkat menyeluruh yang menggabungkan seluruh negara di dunia tanpa memandang tingkat kemajuan ekonominya. Di sini, negara maju (seperti AS, Kanada, dan Jepang) diadu langsung dengan negara berkembang, sehingga papan atas indeks ini umumnya didominasi oleh negara dengan ekonomi raksasa, kepastian hukum matang, dan infrastruktur teknologi yang sangat maju.
Di tingkat Asia Tenggara, lompatan paling besar ditunjukkan oleh Singapura yang melesat dari posisi ke-15 pada tahun lalu ke peringkat delapan dunia dengan skor 1,967, menandai posisi tertingginya sejak tahun 2012. Investor global melihat Singapura sebagai safe haven yang netral di tengah gejolak geopolitik, sehingga banyak perusahaan internasional termasuk dari China mendirikan kantor pusat mereka di sana.
Keberhasilan ini disusul oleh Tailan yang sukses menembus kembali jajaran 25 besar global dengan menduduki peringkat ke-20 dengan skor 1,733 sejak terakhir kemunculannya di tahun 2023. Tidak mau kalah, Malaysia juga melakukan comeback impresif ke indeks utama dunia di peringkat ke-21 dengan skor 1,714 setelah terakhir kali berhasil masuk pada tahun 2014 silam.
Kembalinya Tailan dan Malaysia ke indeks utama global dunia didorong kuat oleh tren diversifikasi rantai pasok global melalui strategi China Plus One. Sementara itu, Indonesia sendiri masih belum berhasil menembus daftar indeks utama 25 besar global ini karena persaingan ketat dengan dominasi negara-negara maju.
Meskipun belum mampu bersaing di indeks utama global, taji Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara baru terlihat nyata ketika peta kekuatan digeser pada kategori khusus Emerging Markets (Pasar Berkembang).
Posisi Negara ASEAN di Pasar Berkembang
Sementara, Indeks Pasar Berkembang (Emerging Markets Index) adalah peringkat khusus yang sengaja memisahkan dan mengevaluasi negara-negara berkembang saja dengan cara mengeluarkan negara-negara maju dari daftar penilaian. Kategori ini dibuat untuk memberikan gambaran yang lebih adil mengenai daya saing dan daya tarik investasi di antara negara yang ekonominya sedang bertumbuh atau bertransisi.
Posisi puncak Emerging Markets dipimpin oleh China, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Tepat di bawah jajaran elit tersebut, Tailan berhasil menduduki peringkat ke-6 dunia dengan skor 1,733 setelah melonjak dari posisi ke-10 pada tahun sebelumnya, disusul ketat oleh Malaysia yang menempati peringkat ke-7 dengan skor 1,714.
Indonesia sendiri berhasil mengamankan posisi ke-13 dengan skor 1,537 dari yang sebelumnya berada di posisi 12, unggul dari beberapa rekan regionalnya seperti Vietnam yang berada di peringkat ke-16 dan Filipina di peringkat ke-18 dengan skor masing-masing 1,520 dan 1,463.
Meskipun mengalami penurunan, berada di posisi ke-13 menunjukkan Indonesia tetap berada dalam radar investasi yang diperhitungkan oleh pemodal internasional, disokong oleh performa ekonomi domestik yang stabil serta melimpahnya sumber daya alam.
Secara keseluruhan, laporan Kearney 2026 menegaskan Asia Tenggara tengah menikmati berkah besar dari fenomena relokasi kapital global. Merujuk pada data UNCTAD yang dikutip dalam laporan tersebut, arus FDI ke pasar ASEAN bahkan berhasil menorehkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menyentuh angka US$225 miliar pada tahun 2024.
Bagi Indonesia, duduk di peringkat ke-13 Emerging Markets merupakan sebuah pencapaian yang patut diapresiasi, namun sekaligus menjadi alarm pengingat yang keras. Di era di mana kapabilitas teknologi dan inovasi kini telah menggeser efisiensi regulasi sebagai faktor paling utama yang memikat investor, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan narasi pasar yang luas atau upah buruh murah.
Pemerintah harus bergerak jauh lebih progresif dalam membangun ekosistem yang dapat menarik investor global jika tidak ingin semakin tertinggal dari Tailan, Malaysia, dan Singapura yang terlihat bergerak jauh lebih lincah dalam memenangkan hati para pemilik modal global.
Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam penyusunan laporan Kearney FDI Confidence Index 2026 berbasis pada pengumpulan data primer melalui survei terstruktur yang dilaksanakan mulai Januari 2026 terhadap para eksekutif tingkat tinggi (C-level) dari perusahaan-perusahaan terkemuka dunia di 27 negara, yang secara historis mewakili lebih dari 90% arus masuk investasi asing langsung global.
Nilai indeks dihitung menggunakan metode rata-rata tertimbang (weighted average) berdasarkan penilaian responden terhadap probabilitas perusahaan mereka untuk menanamkan modal di suatu negara dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, yang dikategorikan ke dalam tingkat keyakinan tinggi, sedang, dan rendah.
Untuk menjaga objektivitas, laporan ini menerapkan aturan penilaian lintas negara (cross-border rule) di mana skor suatu negara murni dinilai oleh investor asing yang perusahaannya berkantor pusat di luar negara tersebut, kemudian diperkuat oleh analisis data sekunder makro ekonomi dan proyeksi pertumbuhan terbaru dari Oxford Economics serta lembaga resmi lainnya.
Baca Juga: Kenapa Investor Global Tertarik ke Indonesia?
Sumber:
https://www.kearney.com/service/global-business-policy-council/foreign-direct-investment-confidence-index/2026-full-report
Penulis: Anggia Leksa
Editor: Editor